oleh : Lintar Satria >>> lirihlintar.wordpress.com
: Aji Dwi Prasetyo
Menembus waktu dengan menyayat udara lewat nada nada seluring bambu
Memilin doa doa pada angkasa.
Segala angan telah binasa, imajinasi tanpa sandiwara
Kita telah terbiasa pada katakata; katakata cinta.
Terbius nafsu yang sama, nafsu bercinta, bercinta dengan tuhan yang berbeda.
Kematian kita adalah tidur; tidur yang basah; basah karena airmata.
Angin memiliki duri, tajamnya menusuk hingga kerelung hati.
Setelah sekian lama kita sadari kita telah lama memelintir citacita
Waktu mengawali pertemuan kita, waktu mengakhiri perpisahan kita.
Masa lampau hanya canda tawa belaka
Dan kini kau dan aku hanya sesosok yang kaku, yang membeku, yang membiru, yang membisu.
20-11-2011