Jumat, Januari 27

aku dan rambutku

sore ini tetiba aku ingin merasakan dingin kepalaku disisir angin.. aku ingin botak!
mewujudkan keinginanku itu, aku meminta temanku untuk memotong sisa rambutku yang telah agak botak, mungkin sekitar 2centimeter panjangnya. berbekal gunting dan sebuah sisir aku memohon temanku untuk memotongnya, meski ia sebelumnya tak pernah memotong rambut apa dan siapapun.

berhasil aku memohon dan membujuknya,

sebuah eksekusi pun digelar.........,







helai demi helai, rambutku jatuh terkulai begitu lemas dilantai.. aku tak mengucap sepatah kata padanya, juga ia, namun diamnya adalah sebuah bisik yang sangat merana..
siapakah rambut ini? yang sedang terkulai ditanah? siapakah aku ini, yang duduk memandangnya heran? kapan kita telah bertemu dan bersama?? kenapa aku tak menangisi kepergian sesosok lembut gemulai yang telah lama tumbuh memeluk kepalaku?

aku bingung, kami bingung.. siapakah kami? tanpa tangis aku membiarkan sosok lembut itu jatuh lemah tak berdaya ditanah..
tanpa salam perpisahan kami membiarkan hari-hari yang telah kami lalui terbang lepas..

hidup selalu dengan pertemuan, juga perpisahan..
tapi apakah itu sebuah kemanunggalan? siapakah aku? siapa itu rambut yang tumbuh dikepalaku?

Senin, Januari 9

SOLILOQUI ORANG-ORANG CACAT

Orang-orang Cacat





Si Bisu:



Sepuluh jemari tangan kujadikan lidah

untuk meluncurkan setiap kata pada dunia

kerdipan mata kujadikan bahasa

agar kau yang menatapku memahami hidupku.



Jika jemari tanganku patah

jemari kakiku akan mengganti perannya:

tanpa masalah kutaruh kata-kata di kakiku

ia sudah biasa bercakap-cakap dengan mataku

setiap kali mecari jalan yang mungkin dilalui.



Jika rasa lapar mengembara—

karena mulutku bisu,

perutku bergemuruh memanggil makanan:

datanglah nasi diantar tanganku

menyertainya lauk dan sayuran,

sendok mengangkat mereka ke mulut

sedang perutku menyediakan kantongnya

lengkap dengan usus dan empedu

gejolak paru-paru dan lambung berdenyut.



Semua berjalan dengan baik dan lancar:

aku tak perlu menuntut lebih pada mulutku

mulutku tak perlu meminta maaf pada kebisuanku.





Si Tuli:



Telingaku kelopak yang tak kenal rintih angin

menempel di kepalaku seperti bunga yang mekar,

membuat wujudku tampak pantas

walau dengan lubang suara yang buntu:

mungkin agar dunia tidak menggangguku

dengan kata-kata tanpa makna dan rencana.



Orang tuli, semua memanggilku!

Mereka pikir aku tak tahu suara mereka.

Mereka pikir aku sungguh tak bisa mendengar.

Mereka tak tahu aku mendengar lewat mata

tatapanku menangkap denyut tiap suara

yang mengancam ketenangan hidupku.





Si Buta:



Benarkah dunia ini punya siang punya malam

memancar dari matahari dan bulan?

Kebutaan menanamku dalam gelap

di dasar dunia sekelam akhirat.



Aku merasakan matahari lewat panasnya

yang membakar bagai daging di atas nasib,

sedang parasnya yang putih dan lembut

kudengar dari nyanyian burung di angkasa

sepulang mencari biji-bijian untuk anaknya.



Bila aku menjelma burung

akan kukelilingi dunia dengan mata-tertutup

dan kusingkap mata angin dengan sayapku.

Sepulang dari petualanganku

akan kuceritakan segala yang di bumi dan langit

agar tak seorang pun mempercayai kebutaanku.



Tapi bila aku mati dihantam badai di angkasa

dan bumi tak menerima mayatku

matahari akan menguburku dalam cahaya

dan angin menerbangkan jiwaku

kepada kalian yang bekerja siang dan malam.





Si Pincang:



Sungguh mati aku lelaki tanpa kaki

dengan lutut terpotong berjalan di muka bumi

merasa terhormat seperti mereka yang bercelana

merasa terhormat seperti celana di kaki mereka.



Bagaimana aku bisa meninggalkan kampungku

hingga terdampar di kota ini?

Terimakasih sepasang kakiku yang patah

yang menancap di tubuhku

hingga membuatku seperti bersayap!





Si Gila:



Betapa lezat nafas yang berlayar

ke dalam tubuh ini, betapa lezat makanan!



Maafkan aku tanganku, kasihan kau kakiku!

Sejenak kulupakan kalian semua:

baru saja aku makan langsung dengan mulut

tanpa memerintah tanganku bekerja

sedang belum lama ini aku berjalan seperti ular

melupakan kaki yang biasa membawaku pergi



Matahari bulat, ampuni kegilaan ini!

Demi sinarmu yang bersumber dari pantulan mataku

demi garismu yang tak terputus waktu

gantunglah mimpiku di angkasa!



Hari-hari mengunjungiku, aku tetap begini adanya

orang-orang meninggalkanku

di tempat yang bagus ini.

Bila mereka kembali, akan kukatakan

aku hanya menganggap mereka debu,

dan bila mereka berkenan hidup bersamaku

akan kusulut mimpiku di kepala mereka

agar otak mereka menyala menjadi matahari!





Koor:



Kami orang-orang cacat

selalu salah menggunakan tubuh kami:

Si Bisu menggunakan jemari untuk berkata

agar Si Tuli mendengar dengan mata

lengan tangan jadi petunjuk bagi Si Buta

agar si Pincang berjalan dengan jiwanya

bernyanyilah Si Gila di tengah liar dunia



Kami orang-orang cacat

pandangan kalian membuat kami istimewa:

memberi penjara dan rumah sakit jiwa.

Di dunia mana kami dapat hidup?

Di hati siapa jiwa kami dibangkitkan?

Kami ingin mengucapkan terimakasih pada dunia,

walau dengan tubuh tak sempurna

semoga dapat melengkapi milik kami yang hilang.



2005, oleh Faisal Kamandobat