Tuhan, adalah Sang Novelis
Saya selalu membayangkan bahwa Tuhan adalah seorang novelis. Ketika mula Ia menciptakan semesta, Ia tak pernah benarbenar menyelesaikannya, layaknya sebuah novel yg hanya diisi dengan bab bab awal, dan meninggalkan kertas kosong pada bagian inti cerita. Lembarlembar kosong.
Sebagaimana bab bab putih tersebut, begitu pula dunia. Ia, Tuhan membiarkan manusia, sang pembaca, untuk mengisi bab bab kosong tersebut, membuat narasi kehidupan mereka sendiri. Dengan senyum atau luka, dengan dendam atau suka cita bersama, dengan Cinta dan kesombongan.
Untuk mengerti akhir novel ini, Tuhan, sang Novelis menyediakan waktunya untuk berbincang pada senja kala, bagi sesiapapun yg ingin datang dan mengetahui bab penutup dari novel tersebut. Di antaranya, ada beberapa orangorang, pembacapembaca khusus diundang. Namun, beberapa pembaca lainnya larut dalam cerita yg Ia buat sendiri, menganggap bahwa narasi yg Ia buatlah yg paling benar dan elok, Ia seolah, dalam imajinya, menjadi sang Novelis, menjadi Tuhan, bagi jalan cerita, serta dirinya sendiri.
Dan ketika akhir dari cerita, penutup dari ségala bab dibacakan oleh sang Novelis, semua pembaca tersentak, karena penutup novel tersebut menuturkan bahwa, novel yg sedang, sebenarnya Ia, Tuhan, sang Novelis tersebut buat adalah bukan tentang novel yg coba di Isi, dinarasikan, oleh masing masing pembaca, manusia, melainkan tentang usaha sang Novelis untuk mengajak, mengundang, para pembaca, untuk berbincang di setiap senja kala, bertukar kasih, kopi, serta teh dan kudapan lainnya. Sebuah pesan untuk datang mendekat, diantara kehangatan, gelap dan terang dunia. Sekian.

