Mulih
Mulih, kita bisa saja melangkahkan kaki ribuan hasta terjauh, atau mejelajah dengan pandangan ratusan ribu tahun kedepan, tapi kita selalu tau dimana hati kita terus dan selalu tertambat.
Berton, menghabiskan hidupnya di ibukota yg baginya begitu keji. Setiap pagi Ia melantunkan sumpah serapahnya di kereta cepat yg dulu membawanya ke sekolah, hingga ke tempat nya bekerja sekarang. Di kantor nya, sebuah amarah kekesalan kembali meledak, pekerjaan-pekerjaan yang dirasa berat dan menekan menjadi pemicunya. Bahkan saat jam istirahat kantorpun Ia kembali melantunkan keluh kesal nya karena jalanan ibukota begitu macet dan setibanya di tempat Makan, rasa masakannya tak seperti yg Ia bayangkan, sehingga marah pun menjadi pelampiasan hasratnya. Hingga saat pulang pun tak tertinggal Ia kembali melantunkan amarah dan kekesalan karena kondisi Transportasi dan kemacetan ibukota.
Sedikit rangkaian cerita diatas mungkin dapat kita pahami ketika kita sakit, hingga lidah kita menjadi tak seperti biasa nya dalam mencecap dan merasakan apa yg biasa menjadi santapan kita. Ségala makanan serta minuman yg biasa enak dan nikmat mengisi mulut hingga ke perut kita berubah menjadi hal yg sama sekali tidak enak sampaisampai kita tak ingin melanjutkan sajian tersebut.
Hal yang menyambungka cerita dan perumpamaan diatas adalah, ketika kita sakit, ségala nya berubah tak enak. Ketika dunia begitu memuakkan dan semuanya menjadi serba Salah, bisa jadi bukan dunia yg telah Salah dan berubah, namun ada sesuatu yg sakit di dalam dirimu, barang kali jiwamu telah lama kau tinggalkan terkurung hingga dirimu sakit.. Tengoklah ia, ajak ia berkelana ke penjuru kehidupan, supaya dapat ia tunjukan dimana ada jalan jalan dipenuhi bunga dan wewangian..
Mulih, kita bisa saja melangkahkan kaki ribuan hasta terjauh, atau mejelajah dengan pandangan ratusan ribu tahun kedepan, tapi kita selalu tau dimana hati kita terus dan selalu tertambat.
Berton, menghabiskan hidupnya di ibukota yg baginya begitu keji. Setiap pagi Ia melantunkan sumpah serapahnya di kereta cepat yg dulu membawanya ke sekolah, hingga ke tempat nya bekerja sekarang. Di kantor nya, sebuah amarah kekesalan kembali meledak, pekerjaan-pekerjaan yang dirasa berat dan menekan menjadi pemicunya. Bahkan saat jam istirahat kantorpun Ia kembali melantunkan keluh kesal nya karena jalanan ibukota begitu macet dan setibanya di tempat Makan, rasa masakannya tak seperti yg Ia bayangkan, sehingga marah pun menjadi pelampiasan hasratnya. Hingga saat pulang pun tak tertinggal Ia kembali melantunkan amarah dan kekesalan karena kondisi Transportasi dan kemacetan ibukota.
Sedikit rangkaian cerita diatas mungkin dapat kita pahami ketika kita sakit, hingga lidah kita menjadi tak seperti biasa nya dalam mencecap dan merasakan apa yg biasa menjadi santapan kita. Ségala makanan serta minuman yg biasa enak dan nikmat mengisi mulut hingga ke perut kita berubah menjadi hal yg sama sekali tidak enak sampaisampai kita tak ingin melanjutkan sajian tersebut.
Hal yang menyambungka cerita dan perumpamaan diatas adalah, ketika kita sakit, ségala nya berubah tak enak. Ketika dunia begitu memuakkan dan semuanya menjadi serba Salah, bisa jadi bukan dunia yg telah Salah dan berubah, namun ada sesuatu yg sakit di dalam dirimu, barang kali jiwamu telah lama kau tinggalkan terkurung hingga dirimu sakit.. Tengoklah ia, ajak ia berkelana ke penjuru kehidupan, supaya dapat ia tunjukan dimana ada jalan jalan dipenuhi bunga dan wewangian..
