Sudah lama aku tak menulis di laman pribadiku ini, satusatunya hal yang membuatku menulis lagi adalah kerinduanku untuk bersua dengan satu bagian diriku yang lain. Muhammad Budi Mulyawan, seseorang yang tuhan pertemukan denganku di usia dua puluhan. meski demikian, bagiku, sepertinya aku telah mengenalnya beribu abad sebelum aku ada disini. seperti wujud purba yang kemudian hadir kembali mengingatkanku dengan kegilaannya, kesederhanaannya dan dedikasinya yang paling mendasar bagi hidup serta kehidupan di sekitarnya.
Pada keterpisahan jarak, aku selalu membayangkan diriku mengunjungi budi di sebuah pematang sawah. atau pada sebuah rumah kecil di tepian danau atau puncak bukit yang rindang. hal ini aku lakukan untuk menjaga kewarasanku ditengah hiruk pikuk dunia yang aku harus geluti. menemuinya adalah seperti meminum tetes demi tetes embun fajar yang bening. menyelam kedalam samudra kesunyian. membakar diriku pada sebuah api pertapaan abadi.
kini kita berdua telah menjadi bapak bagi anakanak kita, kini kita telah selangkah lebih jauh untuk membuktikan keyakinan kita atas Cinta dan Kehidupan. pada saatnya aku berjumpa denganmu secara nyata, aku hanya ingin memelukmu dengan erat dan membiarkan keheningan diantara kita yang berbicara.
barakallah M. Budi Mulyawan