Minggu, Desember 23

Mereka yang Tak Menari


Mereka yang Tak Menari

oleh Gabriela Mistral
Nobel Award of Literature 1945




Anak pincang berkata suatu kali
"betapa kudapat menari?"
Kami katakan padanya
Mulailah menari dengan hati


Lalu yang cacat berkata pula,
"Betapa kudapat menyanyi?"
Kami katakan padanya
Mulailah menyanyi dengan hati


Nelayan miskin yang mati berkata,
"Betapa kudapat menari?"
Kami katakan, "Biarkan angin
Menerbangkan hatimu ke angkasa!"


Tuhan bertanya dari atas sana,
"Betapa kudapat meninggalkan arasy?"
Kami katakan pada-Nya turunlah
Dan menari bersama kami dalam kilauan cahaya


Semua yang di bukit sedang menari
Bersama-sama di bawah matahar
Moga hati mereka yang hilang
Kembali menjelma tanah dan abu

Selasa, Desember 18

penantian





Aku burung kecil
Di hadapan cinta, di hadapan engkau
Kerinduan telah membakar mata juga sayapku
Semenjak cinta tumbuh memenuhi udara
Semenjak cinta menjadi cahaya

Oh
Demi cinta yg memberi keadilan
Menampakkan diri,
Pada Si dungu dan Si peragu

Aku harus membakar bulu-buluku sendiri
Setiap matahari menyelam dalam malam
Untuk membuatku tetap terjaga
Sebab aku tak ingin jatuh terlelap
Hingga namamu tak lagi dapat menggetarkan bibir ini
Untuk membuatku sedikit dapat bertahan
Dari dingin rindu yg telah menggugurkan dedaunan
Dari dingin rindu yg menghentikan perjalanan sungaisungai

Minggu, Agustus 26

ku maafkan kau kasih,


ku maafkan kau, kasih,

untuk setiap rindu yang luka

Menghujam lebih dalam dari akar
pohon yg mengembara

Memendam hasrat rumit,

Lebih rumit dari garis yang mengikat
bintangbintang


yang ditangkap para peramal.

Kita adalah sepasang kekasih,

Tidaklah perlu kuucapkan cinta

Sebab nyala api nyata

Kita telah terbakar

Dalam kerinduan atau kebisuan yg
dingin..

Minggu, Juli 22

doa


doa

Malam menitih panjang
Jalan bulan terbakar kerinduan
Tak merah,-
Pucat beku

Ia yang dihampiri rindu
Berjalan susah payah,
Menanggungnya.
Seperi doa yang sarat permohonan
Mendakidaki langit ditepian fajar.

Bagi pecinta,
Langkah, nafas adalah
Gelaran lukaluka baru
Rindu yg sarat : rasa pedih yg teramat manis

Yang darinya, rindu adalah mata
Untuk melihat wajah kekasih
Dengan doa : gerbang khayal perjumpaan

Kemudian,

Dihari yang sama
Ditubuh yg sama
Pencinta membaluri luka tubuhnya dengan doadoa

Ditubuh yang sama
Dijiwa yang satu
Pencinta terbang menyatu
seperti untaian doadoa

Dijiwa yang satu
DiCinta yang tiada
Pencinta lenyap tak bertuan..

Seperti doa yang rahasia
Mustahil untuk diucapkan!

Depok ramadhan 2012

Sabtu, Juni 2

gelombang kesepian









Kesepian,

Lebih tebal dari udara, lebih tipis dari jeratan takdir

Kesepian adalah batu yang berjalan
Atau bunga yang mekar.

kemarin kesepian adalah gemetar bibirku dalam ciuman-ciuman
esok mungin kesepian adalah jantungku yang tak lagi berdegup

kesepian tinggal dalam api menyala, membakar dirinya sendiri..

ia menjelma apa saja, menempati apa saja
menyerupai tuhan,
mungkin karena tuhan juga kesepian

Rabu, Mei 9

zyarah, Kiai Shaleh Darat, semarang









Muhammad Shalih bin Umar (1820 M), yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shaleh Darat, adalah seorang ulama besar pada zamannya. Ketinggian ilmunya tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan murid-muridnya menjadi ulama-ulama besar di Jawa, tetapi juga bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat ia bermukim di sana. Ia dinobatkan menjadi salah seorang pengajar di Tanah Suci tersebut.
.
Selain itu, ia adalah seorang ulama yang sangat memperhatikan orang-orang Islam awam dalam bidang agama. Ia menulis ilmu fiqih, aqidah, tasawuf dan akhak dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam, yakni dengan bahasa Jawa.
.
Kelahirannya
Nama lengkapnya Muhammad Shalih bin Umara al-Shamarani, atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shalih Darat. Ayahnya Kiai Umar merupakan salah seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro di Jawa Bagian Utara, Semarang, di samping Kiai Syada’ dan Kiai Mutadha Semarang. Kiai Shaih Darat dilahirkan di desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1820 M. Sedangkan informasi lainnya menyatakan bahwa, Kiai Shaih Darat dilahirkan di Bangsri, Jepara. Ia wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H/18 Desember 1903 M.
.
Ia disebut Kiai Shaih Darat, karena ia tinggal di kawasan yang bernama Darat, yaitu suatu daerah di pantai utara Semarang, tempat mendarat orang-orang dari luar Jawa. Kini daerah Darat termasuk wilayah Semarang Barat. Adanya penambahan Darat sudah menjadi kebiasaan atau ciri dari oang-orang yang terkenal di masyarakat.
.
Kiai-Kiai Seperjuangan
Sebagai seorang putra Kiai yang dekat dengan Pangeran Diponegoro, Kiai Shalih Darat mendapat banyak kesempatan untuk berkenalan dengan teman-teman orang tuanya, yang juga merupakan kiai terpandang. Inilah kesempatan utama Kiai Shalih Darat di dalam membuat jaringan dengan ulama senior di masanya, sehingga ketokohannya diakui banyak orang. Di antara kiai senior yang memiliki hubungan dekat dengan Kiai Shalih Darat adalah:
.
Kiai Hasan Bashari ( putra Kyai Nur Iman Mlangi dari garwa Gegulu ;tambahan oleh ravie ananda ), ajudan Pangeran Diponegoro. Salah seorang cucunya ( nya yang dimaksud adalah Kiai Hasan Bashari) KH. M. Moenawir, pendiri pesanten Krapyak Yogyakarta, adalah salah seorang murid Kiai Shalih Darat.
• Kiai Syada’ dan Kiai Darda’, dua orang prajurit Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro tertawan, Kiai Darda’ yang beasal dari Kudus, kemudian menetap di Mangkang Wetan, Semarang bagian barat, dan memnbuka pesantren di sana. Kepadanya, Kiai Shalih Darat pernah menuntut ilmu. Kiai Bulkin, putera Kiai Syada’, dikawinkan dengan Natijah, puteri Kiai Darda’, dan memperoleh anak yang bernama Kiai Tahir. Kyai Tahir ini, cucu kiai Darda’ adalah murid Kiai Shalih Darat setelah pulang dari Makkah.
• Kiai Murtadha, teman seperjuangan Kiai Umar ketika melawan Belanda. Shafiyyah, puteri Kiai Muartadha, dijodohkan dengan Kiai Shalih Darat setelah pulang dari Makkah.
• Kiai Jamasari, prajurit Pangeran Diponegoro di daerah Solo dan pendiri Pondok pesantren Jamsaren, Surakarta. Ketika kiai Jamsari ditangkap Belanda, pesantrennya tidak ada yang melanjutkan, lalu ditutup. Pesanten tersebut dihidupkan kembali oleh Kiai Idris, salah seorang santri senior Kiai Shalih Darat. Dialah yang menggantikan Kiai Shalih Darat selama ia sakit hingga wafatnya.
Menikah
Selama hayatnya, Kiai Shalih Darat pernah menikah tiga kali. Perkawinannya yang pertama adalah ketika ia masih berada di Makkah. Tidak jelas siapa nama istrinya. Dari perkawinanya pertama ini, ia dikarunia seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Tatkala Kiai Shalih Darat pulang ke Jawa, istrinya telah meninggal dunia dan Ibrahim tidak ikut serta ke Jawa. Ibrahim ini tidak mempunyai keturunan. Untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang pertama ini, Kiai Shalih Darat menggunakan nama Abu Ibrahim dalam halaman sampul kitab tafsirnya, Faidh al-Rahman.
Perkawinannya yang kedua dengan Sofiyah, puteri Kiai Murtadha teman karib bapaknya, Kiai Umar, setelah ia kembali di Semarang. Dari pekawinan ini, mereka dikarunia dua orang putera, Yahya dan Khalil. Dari kedua putranya ini, telah melahirkan beberapa anak dan keturunan yang bisa dijumpai hingga kini. Sedangkan perkawinannya yang ketiga dengan Aminah, puteri Bupati Bulus, Purworejo, keturunan Arab. Dari perkawinannya ini, mereka dikaruniai anak. Salah satu keturunannya adalah Siti Zahrah. Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Dahlan santri Kiai Shalih Darat dari Tremas, Pacitan. Dari perkawinan ini melahirkan dua orang anak, masing masing Rahmad dan Aisyah. Kiai Dahlan meninggal di Makkah, kemudian Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Amir, juga santri sendiri asal Pekalongan. Perkawinan kedua Siti Zahrah tidak melahirkan keturunan.
.
Kiai-kiainya di Tanah Jawa
Sebagaimana anak seorang Kiai, masa kecil dan remaja Kiai Shalih Darat dilewatinya dengan belajar al-Qur’an dan ilmu agama. Sebelum meninggalkan tanah airnya, ada beberapa kiai yang dikunjunginya guna menimba ilmu agama. Mereka adalah :
1. KH. M. Syahid.
Untuk pertama kalinya Kiai Shalih Darat menuntut ilmu dari Kiai M. Syahid, seorang ulama yang memiliki pesantren Waturoyo, Margoyoso Kajen, Pati. Pesantren tersebut hingga kini masih berdiri. Kiai M. Syahid adalah cucu Kiai Mutamakkin yang hidup semasa Paku Buwono II (1727-1749M). kepada Kiai M. Syahid ini, Kiai Shaleh Darat belajar beberapa kitab fiqih. Di antaranya adalah kiab Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawwim, Syarh al-Khatib, Fath al-Wahab dan lain-lain.
2. Kiai Raden Haji Muhammad Shaleh bin Asnawi, Kudus.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Jalalain karya Imam Suyuti.
3. Kiai Ishak Damaran, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Nahwu dan Sharaf.
4. Kiai Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Buquni, seorang Mufti di Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat ilmu falak.
5. Kiai Ahmad Bafaqih Ba’alawi, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Jauhar al-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-Abidin karya imam Ghazali.
6. Syekh Abdul Ghani Bima, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Masail al-Sittin karya Abu Abbas Ahmad al-Mishri. Yaitu sebuah kiab yang beisi ajaran-ajaran dasar Islam yang sangat populer di Jawa pada abad ke-19 M.
7. Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Bulus Gebang Purworejo
Kepadanya Kiai Shaleh Darat mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tasawuf dan tafsir al-Qur’an. Oleh Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim ini, Kiai Shaleh Darat diperbantukan kepada Zain al-Alim ( putra Mbah Ahmad Alim ), untuk mengasuh sebuah pesantren di Dukuh Salatiyang, Desa Maron, Kecamatan Loano, Purworejo.
Melihat keragaman kitab-kitab yang diperoleh oleh Kiai Shaleh Darat dari beberapa gurunya, menunjukkan betapa kemampuan dan keahlian Kiai Shaleh Darat di bidang ilmu agama.
.
Pergi ke Makkah
Setelah belajar di beberapa daerah di Jawa, Kiai Shaleh Darat bersama ayahnya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ayahnya wafat di Makkah, kemudian Kiai Shaleh Darat menetap di Makkah beberapa tahun untuk memperdalam ilmu agama. Pada waktu itu, abad ke-19, banyak santri Indonesia yang berdatangan ke Makkah guna menuntut ilmu agama di sana. Termasuk Kiai Shaleh Darat. Ia pergi ke Makkah dan bermukim di sana guna menuntut ilmu agama dalam waktu yang cukup lama. Sayangnya, tidak diketahui secara pasti tahun berapa ia pergi ke Makkah dan kapan ia kembali ke tanah air.
.
Kiai-Kiainya di Makkah
Yang jelas, selama di Makkah, Kiai Shaleh Darat telah berguru kepada tidak kurang dari sembilan ulama setempat. Mereka adalah :
1. Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki.
Kepadanya ia belajar ilmu-ilmu aqidah, khusunya kitab Ummul Barahin karya Imam Sanusi (al-Sanusi).
2. Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah.
Ia adalah pengajar di Masjid al-Haram dan al-Nabawi. Kepadanya, Kiai Shaleh Darat belajar fiqih dengan menggunakan kitab Fath al-Wahhab dan Syarh al-Khatib, serta Nahwu dengan menggunakan kitab Alfiyah Ibnu Malik.
Sebagaimana tradisi belajar tempo dulu, setelah menyelesaikan pelajaran-pelajaran tersebut, Kiai Shaleh Darat juga memperoleh “Ijazah”. Adanya istilah ijazah dikarenakan penerimaan ilmu tersebut memiliki sanad. Dalam hal ini, Kiai Shaleh Darat mendapatkan ilmu dari Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah yang memperoleh ilmu tersebut dari gurunya, Syekh Abdul Hamid a-Daghastani, dan al-Dagastani mendapatkan dari Ibrahim Bajuri yang mendapatkan ilmunya dari al-Syarqawi, pengarang kitab Syarh al-Hikam.
3. Al-‘Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Ihya’ Ulum al-Diin. Dari sini ia juga mendapatkan ijazah.
4. Al-‘Allamah Ahmad An-Nahawi al-Mishri al-Makki.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.
5. Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi.
Darinya, Kiai Shaleh Darat belajar kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 1 dan 2.
6. Kiai Zahid.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.
7. Syekh Umar a-Syami.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.
8. Syekh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Syarh al-Tahrir karya Zakaria al-Anshari.
9. Syekh Jamal, seoang Muftti Madzab Hanafiyyah di Makkah.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Qur’an.
Dari sinilah, Kiai Shaleh Darat mendapatkan ijazah ketika selesai mempelajari kitab-kitab tertentu, semisal Fath al-Wahhab, Syarh al-Khatib dan Ihya’ Ulum a-Din. Dari sini pulalah apa yang dipelajari Kiai Shaleh Darat dari kitab-kitab tersebut, berpengaruh besar terhadap isi kitab yang dikarangnya, yaitu Majmu’ al-Syariat al-Kafiyah li al-awwam.
.
Jaringan Keulamaan Kiai Shaleh Darat :
Semasa belajar di Makkah, Kiai Shaleh Darat banyak bersentuhan dengan ulama-ulama Indonesia yang belajar di sana. Di antara para ulama yang sezaman dengannya adalah:
1. Kiai Nawawi Banten, disebut juga Syekh Nawawi al-Bantani.
2. Syekh Ahmad Khatib.
Ia seorang ulama asal Minangkabau. Lahir pada 6 Dzulhijjah 1276 (26 Mei 1860 M) dan wafat di Makkah pada 9 Jumadil Awwal (1916 M). Dalam sejarahnya, dua tokoh pendiri NU dan Muhamadiyyah KH. Hasyim As’ari dan KH. Ahmad Dahlan pernah menjadi murid Ahmad Khatib. Tercatat ada sekitar 49 karya yang pernah ditulisnya. Di antaranya kiitab Al-Nafahat dan Al-Jawahir fi A’mal a-Jaibiyyat.
3. Kiai Mahfuzh a-Tirmasi.
Ia adalah kakak dari Kiai Dimyati. Selama di Mekkah, ia juga berguru kepada Ahmad Zaini Dahlan. Ia wafat tahun 1338 H (1918 M).
4. Kiai Khalil Bangkalan, Madura.
Ia adalah salah seorang teman dekat Kiai Shaleh Darat. Namanya cukup terkenal di kalangan para Kiai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. ia belajar di Mekkah sekitar pada tahun 1860 dan wafat pada tahun 1923.
.
Diajak pulang oleh Kiai Hadi Girikusumo
Ketinggian ilmu Kiai Shaleh Darat tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan para santrinya menjadi para kiai besar tetapi juga bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat Kiai Shaleh Darat bermukim di Mekkah. Ia dipilih menjadi salah seorang pengajar di Mekkah. Di sinilah Kiai Shaleh Darat bertemu dengan Mbah Hadi Girikusumo pendiri pondok pesantren Ki Ageng Girikusumo, Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Ia merupakan figur yang sangat berperan dalam menghadirkan Kiai Shaleh Darat ke bumi Semarang.Melihat kehebatan Kiai Shaleh Darat Mbah Hadi Girikusumo merasa terpanggil untuk mengajaknya pulang bersama-sama ke tanah air untuk mengembangkan islam dan mengajar umat islam di Jawa yang masih awam.
.
Namun karena Kiai Shaleh Darat sudah diikat oleh penguasa Mekkah untuk menjadi pengajar di Mekkah, sehingga ajakan pulang itu ditolak. Namun Mbah Hadi nekat, Kiai Shaleh Darat diculik, di ajak pulang. Agar tidak ketahuaan, saat mau naik kapal untuk pulang ke! Jawa, Kiai Shaleh Darat dimasukkan ke dalam peti bersama barang bawaannya. Namun di tengah jalan ketahuan, jika Mbah Hadi menculik salah seorang ulama di Masjid Mekkah. Akhirnya pada saat kapal merapat di pelabuhan Singapura, Mbah Hadi ditangkap. Jika ingin bebas maka harus mengganti dengan sejumlah uang sebagai denda. Para murid Mbah Hadi yang berada di Singapura mengetahui bila gurunya sedang menghadapi masalah besar, akhirnya membantu menyelesaikan masalah tersebut dengan mengumpulkan dana iuran untuk menebus kesalahan mbah Hadi dan menebus uang ganti kepada penguasa Mekkah atas kepergian Kiai Shaleh Darat. Akhirnya, mbah Hadi dan Kiai Shaleh Darat berhasil melanjutkan perjalanan dan berhasil mendarat ke Jawa.
.
Mbah Hadi langsung kembali ke Girikusumo, sedangkan Kiai Shaleh Darat menetap di Semarang, mendirikan pesantren dan mencetak kader-kader pelanjut perjuangan Islam. Sayang sekali, sepeninggalan Kiai Shaleh Darat, pesantrennya tidak ada yang melanjutkan, kini di bekas pesantren yang dulu digunakan oleh Kiai Shaleh Darat untuk mengajar mengaji hanya berdiri sebuah masjid yang masih digunakan untuk menjalankan ibadah umat islam di kampung Darat Semarang.
.
Tentang Teori Kebebasan Manusia
Ia juga terkenal sebagai pemikir dalam bidang ilmu kalam. Menurut Nur Kholis Majid, seorang cendikiawan muslim Indonesia, Kiai Shaleh Darat sangat kuat mendukung paham teologi Asy’ariyyah dan Maturidiyah. Pembelaannya pada paham ini jelas kelihatan dalam bukunya Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘ala Jauhar al-Tauhid. Di sini ia mengemukakan penafsirannya tentang sabda Nabi SAW bahwa akan terjadi perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang selamat, yaitu mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW, yakni melaksanakan akaid, pokok-pokok kepercayaan ahlus sunnah wajama’ah, Asy’aiyah dan Maturidiyah.
.
Selanjutnya dalam teori ilmu kalam yang berkaitan dengan perbuatan manusia, ia menjelaskan bahwa paham Jabariyah dan Qadariyah tentang perbuatan manusia adalah sesat. Yang benar adalah paham Ahlus Sunnah yang berada di tengah antara Jabariyah dan Qodariyah. Sebagai ulama yang berfikir maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru menyerahkan diri secara pasrah kepada Yang Maha Esa. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditaqdirkan Allah SWT. sebaliknya, ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatannya.
.
Sang Delegator Pesantren
Dalam sejarah pesantren, Kiai Shaleh Darat layak disebut sebagai “ elegator Pesantren”. Karena ia tidak pernah ikut membesarkan pesantren orang tuanya, sebagaimana mafhumnya anak-anak kiai. Ia justru lebih memilih membantu memajukan pesantren orang lain dan membuat pesantren sendiri, dengan tanpa maksud menobatkan dirinya sebagai pengasuh pesantren.
.
Karir kekiaian Kiai Shaleh Darat diawali sebagai guru yang diperbantukan di pesantren Salatiyang yang terletak di Desa Maron, Kecamatan Loano, Purworejo. Pesantren ini didirikan sekitar abad 18 oleh tiga orang sufi, masing-masing Kiai Ahmad ( Muhammad ) Alim, Kiai Muhammad Alim ( putra Mbah Kyai Ahmad Alim ), dan Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein, juga putra Mbah Kyai Ahmad Alim ). Dalam perkembangan selanjutnya pesanten ini dipercayakan kepada Kiai Zain al Alim. Sementara Mbah Kiai Ahmad ( Muhammad )Alim mengasuh sebuah pesantren, belakangan bernama al-Iman, di desa Bulus, Kecamatan Gebang. Adapun Kiai Muhamad Alim ( putra Mbah Kyai Ahmad Alim ) mengembangkan pesantrennya juga di Desa Maron, yang kini dikenal dengan pesantren al-Anwar. Jadi kedudukan Kiai Shaleh Darat adalah sebagai pengajar yang membantu Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein ).
.
Pesantren Salatiyang sendiri lebih menfokuskan pada bidang penghafalan al-Qur’an, di samping mengajar kitab kuning. Di sinilah besar kemungkinannya, Kiai Shaleh Darat diperbantukan untuk mengajar kitab kuning, seperti fiqh, tafsir dan nahwu Sharaf, kepada para santri yang sedang menghafal al-Qur’an.
Di antara santri jebolan Salatiyang adalah Kiai Baihaqi (Magelang). Kiai Ma’aif, Wonosobo, Kiai Muttaqin, Lampung Tengah, Kiai Hidayat (Ciamis) Kiai Haji Fathulah (Indramayu), dan lain sebagainya.
.
Tidak jelas, berapa lama Kiai Shaleh Darat mengajar di pesantren Salatiyang. Sejarah hanya mencatat, bahwa pada sekitar 1870-an Kiai Shaleh Darat mendirikan sebuah pesantren baru di Darat, Semarang. Hitungan angka ini didasarkan pada kitabnya , alHikam, Yang ditulis rampung dengan menggunakan Bahasa Arab Pegon pada tahun 1289 H/1871 M. pesantren Darat merupakan pesanten tertua kedua di Semarang setelah pesantren Dondong, Mangkang Wetan, Semarang yang didirikan oleh Kiai Syada’ dan Kiai Darda’, dua mantan prajurit Diponegoro. Di pesantren ini pula Kiai Shaleh Darat pernah menimba ilmu sebelum pergi ke Mekkah.
.
Selama mengasuh pesanten, Kiai Shaleh Darat dikenal kurang begitu memperhatikan kelembagaan pesantren. Karena factor inilah, pesantren Darat hilang tanpa bekas sepeninggalan Kiai Shaleh Darat, pada 1903 M. konon bersamaan meninggalnya Kiai Shaleh Darat, salah seorang santri seniornya, Kiai Idris dari Solo, telah memboyong sejumlah santri dari Pesantren Darat ini ke Solo. Kiai Idris inilah yang kemudian menghidupkan kembali pondok pesantren Jamsaren, yang pernah didirikan oleh Kiai Jamsari.
.
Ada versi lain yang menyebutkan bahwa pesantren yang didirikan oleh Kiai Shaleh Darat bukanlah pesantren dalam arti sebenarnya, di mana ada bangunan fisik yang mendukung. Pesantren Darat hanyalah majelis pengajian dengan kajian bermutu yang diikuti oleh parasantri kalong. Ini mungkin terjadi, mengingat kedekatan pesantren Darat dengan pesantren Mangkang, dimana Kiai Shaleh Darat pernah belajar di sana, bisa mempengaruhi tingkat ketawadlu’an kiai senior.
.
Santri-santrinya
Di antara tokoh yang pernah belajar kepada Kiai Shaleh Darat adalah: KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhamadiyah), Kiai R. Dahlan Tremas, seorang Ahli Falak (w. 1329 H), Kiai Amir Pekalongan (w. 1357 H) yang juga menantu Kiai Shaleh Darat, Kiai Idris (nama aslinya Slamet) Solo, Kiai Sya’ban bin Hasan Semarang, yang menulis artikel “Qabul al-‘Ataya ‘an Jawabi ma Shadara li Syaikh Abi Yahya, untuk mengoreksi salah satu dari salah satu bagian dari kitab Majmu’at al-Syari’ah karya Kiai Shaleh Darat; Kiai Abdul Hamid Kendal; Kiai tahir, penerus pondok pesantren Mangkang Wetan, Semarang; Kiai Sahli kauman Semarang; Kiai Dimyati Tremas; Kiai Khalil Rembang; Kiai Munawir Krapyak Yogyakarta; KH. Dahlan Watucongol Muntilan Magelang, Kiai Yasin Rembang; Kiai Ridwan Ibnu Mujahid Semarang; Kiai Abdus Shamad Surakarta; Kiai Yasir Areng Rembang, serta RA Kartini Jepara.

.
Persinggungannya dengan A Kartini
Adalah sosok yang tidak terikat dengan alian-aliran dalam Islam. Ia justru sangat menghargai aliran yang berkembang saat itu. Ia lebih menekankan pada nilai-nilai pokok (dasar) Islam, dan bukan furu’iyyah (cabang). Lebih dari itu, Kiai Shaleh Darat dikenal sebagai sosok penulis tafsir al-Quran dengan menggunakan bahasa Jawa. Ia sering memberikan pengajian, khusunya tafsir al-Quran di beberapa pendopo Kabupaten di sepanjang pesisir Jawa.
.
Sampai suatu ketika RA Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan, khususnya untuk anggota keluarga. RA Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama para Raden Ayu yang lain di balik hijab (tabir/tirai). RA Kartini merasa tertarik tentang materi yang disampaikan pada saat itu, tafsir al-Fatihah, oleh Kiai Shaleh Darat. Setelah selesai pengajian, RA. Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kiai Shaleh Darat. Ia mengemukakan: “saya merasa perlu menyampai! kan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada rormo kiai dan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT atas keberanian romo kiai menerjemahkan surah al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa sehingga mudah difahami dan dihayati oleh masyarakat awam, seperti saya. Kiai lain tidak berani berbuat seperti itu, sebab kata mereka al-Quran tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain.” Lebih lanjut Kartini menjelaskan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tidak mengerti sedikit pun akan maknanya, tetapi sejak hari ini menjadi terang benderang sampai kepada makna yang tersirat sekalipun, karena romo kiai menjelaskannya dalam bahasa Jawa yang saya fahami.”
.
Kiai Shaleh Darat selalu menekankan kepada muridnya agar giat menimba ilmu. Karena intisari ajaran al-Quran, menurutnya,, adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan di akhirat nanti.
.
Karya Tulisnya
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, banyak ulama Indonesia yang menghasilkan karya tulis besar. Tidak sedikt dari karya-karya mereka yang ditulis dengan bahasa Arab. Setelah Kiai Ahmad Rifa’I dari Kalisalak (1786-1875 M) yang banyak menulis kitab yang berbahasa Jawa, tampaknya Kiai Shaleh Darat adalah satu-satunya kiai akhir abad ke-19 yang karya tulis keagamaanya berbahasa Jawa.
.
Adapun karya-karya Kiai Shaleh Darat yang sebagiannya merupakan terjemahan, berjumlah tidak kuang dari 12 buah, yaitu:
1. Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam.
Kitab ini khusus membahas persoalan fiqih yang ditulis dengan bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon.
2. Munjiyat Metik Sangking Ihya’ Ulum al-Din al-Ghazali.
Sebuah kitab yang merupakan petikan dari kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 3 dan 4.
3. Al-Hikam karya Ahmad bin Athailah.
Merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa.
4. Lathaif al-Thaharah.
Berisi tentang hakikat dan rahasia shalat, puasa dan keutamaan bulan muharram, Rajab dan Sya’ban. Kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa.
5. Manasik al-Haj.
Berisi tuntunan atau tatacara ibadah haji.
6. Pasolatan.
Berisi hal-hal yang berhubungan dengan shalat (tuntunan shalat) ima waktu, kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa dengan Huruf Arab pegon.
7. Sabillu ‘Abid terjemahan Jauhar al-Tauhid, karya Ibrahim Laqqani.
Merupakan terjemahan berbahasa Jawa.
8. Minhaj al-Atkiya’.
Berisi tuntunan bagi orang orang yang bertaqwa atau cara-cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.
9. Al-Mursyid al-Wajiz.
Berisi tentang ilmu-ilmu al-Quran dan ilmu Tajwid.
10. Hadits al-Mi’raj
11. Syarh Maulid al-Burdah
12. Faidh al-Rahman.
Ditulis pada 5 Rajab 1309 H/1891M. kitab ini diterbitkan di Singapura.
13. Asnar al-Shalah
.
Kini, Kiai Shaleh Darat memiliki sekitar 70 trah (keturunan) yang tersebar di berbagai daerah. Biasanya, dalam waktu-waktu tertentu mereka berkumpul dan bersilaturahmi di Masjid Kiai Shaleh Darat di Jln. Kakap/Darat Tirto, Kelurahan Dadapsari yang terletak di Semarang Utara.
.
Dari pertemuan silaturahmi ini, telah 13 kitab karya Kiai Shaleh Darat berhasil dikumpulkan. Sebagian kitab tersebut dicetak di Bombay (India) dan Singapura. Hingga kini, keturunan Kiai Shaleh Darat terus melakukan pencarian dan penelusuran kitab-kitab tersebut ke masing-masing keluarga keturunan Kiai Shaleh Darat di Jepara, Kendal, bahkan sampai ke negara-negara Timur Tengah.
Sumber: http://tamashared.wordpress.com/



Bagi para Peziarah yang ingin berkunjung pada beliau, makam beliau terletak di kompleks pemakaman TPU Bergota Semarang. lokasinya tidak jauh dari pusat kota semarang, sebelah barat daya simpang lima semarang.

Jumat, April 13

Cinta Dan Kebijaksanaan

Cinta Dan Kebijaksanaan





Cinta adalah ikhwal menjadi seorang pelayan, bukan menjadi seorang Raja!

Adalah sebuah jalan panjang menuju cinta, untuk kemudian musim-musim dalam dada seorang pecinta menyatu menjadi padang mawar. Siddharta, begitu sebuah nama dari seorang pejalan yang mengawali perjalanan spiritualnya dengan menanggalkan pakaian kemewahan, kemegahan, kehormatan sebagai seorang putra mahkota disebuah negeri.

Siddharta muda, hidup di sebuah istana di sebuah bagian di negeri hindus jauh.. lengkap dengan cincin kebangsawanan dan gaun yang memeluknya dengan megah. Kebercukupan ini tak membuat kepongahan dalam dada siddharta ini tertambal. Suatu ketika siddharta muda ingin pergi berkeliling negeri yang dipimpin oleh ayahnya. Oleh ayahnya, semua hal yang yang tak baik atau yang mengandung duka kepedihan disingkirkan oleh ayahnya, agar siddharta muda tidak melihat kepedihan hidup, dan juga merasakannya.

Cinta memilih sesiapapun sesuka hati yang akan menjadi cawannya. Meskipun semua pengemis, orang sakit yang terkapar dijalanan, tuna wisma, semua telah berusaha disingkirkan oleh pengawal istana kerajaan, namun mata siddharta ditarik oleh kekuatan ghaib.. sebuah pemandangan memilukan dilihat tak hanya oleh kedua matanya, namun oleh mata hati pemuda tersebut, seorang lelaki tua tergelepar jauh dari keramaian, sendirian..


Kepiluan, kesedihan kemudian hinggap dihati siddharta. Hati siddharta yang lembut terluka oleh kepedihan hidup yang ditanggung oleh lelaki tua yang terkapar tadi.. malam berganti malam, bulan mengganti dirinya dengan nama-nama baru.. kepiluan, kesedihan, kepongahan dalam hati siddharta tidak dapat disembuhkan dengan kemewahan dan kemegahan yang disuguhkan ayah beserta istananya.. hingga suatu malam, siddharta berniat untuk kabur dari istana ayahnya, meninggalkan keluarga beserta kemegahannya..

Siddharta keluar dari istananya menemukan seorang pedagang yang lewat membawa gerobaknya. Dengan penuh iba, ia memohon menukarkan segala pakaiannya yang mewah yang terbuat dari sutra terhalus dan segala perak juga emas yang menjelma pernak-pernik ditubuhnya dengan sebuah pakaian lusuh dan penutup kepala dari seorang pedangang tersebut. Penuh gembira, pedagang tersebut menyambut keinginan dari siddharta, dengan penuh kebahagiaan, keduanya berpisah menurut jalannya masing-masing

siddharta , diluar kemewahan juga istananya, mencoba hidup menjadi seorang peminta-minta.. bulan berganti nama.. ia tengadahkan sebuah cawan yang terbuat dari sebuah batok kelapa yang ia temukan di kolong pasar.. setiap hari di sebuah sudut timur pasar tersebut, siddharta menengadahkan cawannya untuk sekedar mendapat uang guna membeli sebuah roti yang ia gunakan untuk mengganjal perutnya yang meronta, atau terkadang ia membaginya dengan sesame pengemis yang sedang tak beruntung mendapati cawannya menganga kosong..


suatu ketika, ia mendengar kabar tentang seorang pertapa dihutan. Ia seorang yang sakti. Kabar tersebut ia temukan dari temannya sesama pengemis.. siddharta yang telah berbulan bertahun begitu diliputi gairah kegelisahan hidup yang kadang ia baluri dengan kesabarannya kemudian memutuskan untuk menuju hutan, berguru pada pertapa yang disebutkan oleh temannya tadi..
dihutan, ia menemukan beberapa orang sedang duduk bersila dengan tubuh kurus legam, dengan pakaian yang lebih mirip dedaunan hutan yang menempel pada tubuh-tubuh mereka, pekaian mereka habis dimakan derita musim, dimakan panas dingin yang bergantian menjaga hari.


Siddharta muda kemudian mendapati seorang yang lain dari beberapa pertapa tadi, tubuhnya yang lebih tenang dari pohon-pohon pinus. Ia berjaga dengan menggumamkan mantra dari mulut dan matanya. Siddharta kemudian mengajukan maksud untuk berguru pada pertapa tersebut.

Pertapa sakti tersebut melihat gelora kepedihan dan juga bakat yang luar biasa dari mata siddharta. Dengan penuh gembira, pertapa tersebut menerima siddharta sebagai muridnya. Di ujung hari, ketika fajar mekar dengan rona harunya, siddharta memulai hari dengan meminum tetes-tetes embun. Ia berpuasa hari demi hari.. kadang ia hanya memakan umbi atau rerumputan sekali waktu.. di waktu purnama, ia bersama segerombolan anjing liar bersama menatapi malam.. tahun-tahun ia lewati begitu cepat, hingga urat kepedihan hidup adalah tanda yang sangat dapat digunakan untuk orang lain mengenali siddharta ini. pertapaan bertahun menjadikan siddharta menjadi orang yang sakti, ia kadang berjalan tanpa sadar di atas air. Bakat ini memang sudah terlihat oleh guru pertapanya sejak ia melihat siddharta untuk pertama kalinya. Namun kesaktian dan kepedihannya hanya menambah kepongahan jiwa siddharta. Segala yang ia lakukan bukanlah apa yang ia cari selama ini..


Tak menemukan obat dari kepongahan jiwanya, ia keluar dari hutan meninggalkan guru pertapanya, juga laku seorang pertapa. Ia menuju tepian negeri.. berjalan tanpa arah menuju keentahan berusaha menambal kepongahan jiwanya yang pilu, juga merindu pada entah.. kepiluan, kepedihan adalah pakaiannya yang begitu nampak, dari guratan nadinya, dari legam kulitnya, dari kepiluan di matanya..


Disebuah perjalanannya, ia mendapati sebuah sungai yang begitu tenang, namun sesekali tertawa dengan riuhnya. Di samping sungai tersebut siddharta bermaksud mengistirahkan tubuhnya. Sebelum membaringkan tubuhnya, ia membasuh mukanya dari air yang ia ambil dari sungai tersebut. Setelah membasuh wajahnya, ia tegukkan air tersebut melewati kerongkongannya yang sepi dan pilu.. teguk demi teguk mengaliri dirinya.. hingga akhirnya ia kekenyangan dan tertidur disamping sungai..

Berjamjam siddharta tertidur pulas disamping sungai tersebut, entah belaian mana yang membuatnya tak beranjak dari mimpinya.. matahari berkisar, hingga malam pun beranjak dari pelukan langit..

Pagi itu segalanya dimulai dengan wajar, mekar matahari di ufuk timur menumpakan geloranya pada segala yang ia temui.. siddharta yang telah tertidur selama berjamjam bangun seperti matahari. Matanya menunjukkan kedalaman samudera, lengkap dengan geloranya yang ombak. Wajahnya diliputi mekarnya fajar. Ketenangan menjalari tiap darah di nadinya..
Kepongahan dihati siddharta entah hilang kemana, kerinduan yang biasanya mengusik dirinya lebur menjadi cinta yang menyala didadanya.. apa yang ia cari ia temukan begitu saja disebuah tepi sungai,. Sebuah penyingkapan tentang segala, tentang aku kau dan Cinta..


Semenjak saat itu, siddharta membangun sebuah pondok didekat sungai tersebut, pada pagi hari ia menjadi seorang petani sayur mayur, menyiraminya dengan cinta. Pada siang hari terkadanga ada seseorang atau beberapa orang yang mampir di pondoknya untuk mereguk air atau terkadang kebijaksanaan yang menderas langsung dari dadanya..
Musim demi musim, kabar tentang seseorang bijak ditepian negeri merebak beriringan dengan angina yang silih berganti dari timur dan barat.. banyak orang belajar darinya tentang hidup, tentang kebijaknsanaan tentang Cinta.. di pondoknya, disana dihuni beberepa puluh muridnya yang ikut bercocok tanam dan beternak.. tiap panen ia membagikan umbi-umbian kepada orang-orang yang datang kepadanya.. di pagi hari, susu-susu diperah dari peternakan di pondok siddharta untuk dibagikan kepada anak-anak di desa yang tak jauh dari pondoknya.. dimalam hari terkadang siddharta berbincang kepada para muridnya juga para tamu yang berkunjung disebuah taman di pondoknya, mereka tertawa, terdiam dan senyum-senyum mekar dimalam-malam bersama..


siddharta telah mengawali perjalanan spiritualnya dengan jalan cinta, ia tak ingin menjadi raja melainkan menjadi pelayan; dari situlah cinta menuntun dengan ujung jemarinya yang kasat....





Cinta tanpa kebijaksanaan adalah seorang bocah dengan mata yang menyala-nyala.. ia akan melakukan apasaja yang ia kehendaki, namun Cinta dengan kebijaksanaan adalah seorang pengelana tua buta yang siap menuntun siapa saja menuju jalan kebahagiaan..

Maka untuk dapat berguna bermanfaat bagi seluruh kehidupan dan semesta, Cinta dan Kebijaksanaan melebur menjadi satu. Dengan kepedihan yang teramat sangat kau akan menemukan kebijaksanaan hingga kepedihan itu hinggap pada dirimu dan kau tanggung dengan tulus, musim demi musim ia akan berganti nama menjadi Cinta.. dari situlah segalanya lahir, aku kau dan segala..

Sabtu, Maret 24

pohon penantian




rinduku tumbuh secara sunyi dan rahasia dalam geliat masa,

seperti pepohonan yang menyimpan didalam dirinya sebuah hasrat..

tahun demi tahun pohon rindu ini membesar hingga musim demi musim,

aku harus menggugurkan tangisku yang serupa dedaunan..

sebuah tangis yang semakin menguatkan dan membesarkan rinduku ini..

lingkar tahun dalam diriku menunjukkan penantianku yang tak mudah.

di ujung masa, rinduku tertunduk menunggu sebuah perjumpaan dengan sang kekasih..

demi sebuah janji yang terukir dalam tiap jiwa dan darah..

maret, 2012

Minggu, Februari 19

keluarga seruling :D

keluarga serulingku :D


berbagai macam scala nada dan ukuran


salah satu seruling dengan skala ney, enam lubang


seruling dengan skala nada jepang, arabian desert, sunda


beberapa seruling lagi :>




beberapa seruling yang dibuat dari bambu hutan wonosari jogja





beberapa aktipitas menyuling >>










Sabtu, Februari 18

Cinta, pertemuan dan perpisahan..






Akan tiba waktu ketika jiwa ini merasuk lembut ke jiwamu seperti sebuah bisikan,

dan cinta di tubuhku yg terpendam dalam tanah akan dilanjutkan oleh denyut bumi..

Di musimmusim semi akan mekar cintaku menjelma bunga..

Dan di musim gugur cintaku akan menjelma serupa angin dingin yg mengabarkan ikhwal kerinduan..

Dan ketika kau benarbenar mengira aku telah tiada,

Aku akan menjelma sosok lain yg mencintaimu dari ujung nafas sampai pada ujung usiamu..

hingga suatu saat nanti kau akan menyadari bahwa aku adalah cintamu, aku adalah engkau dan kita satu..

serupa kelopak mata kita yg saling memeluk, dalam ciuman kematian

Jumat, Februari 10

kumpulan sajak 2010

adakah yang lebih merindu dari malam yang tak berucap?
segala duka atas nama cinta adalah tiada.
tapi apa itu jalan panjang kerinduan?
aku mengenalnya sebagai gemuruh yang berkilat dilangit
dan pecah di dalam dada..



kita terlalu berjarak dengan kematian,
membiarkannya begitu terasing
dan tak pernah kita mengenalnya,
sebaik kematian mengenali kita.
kemudian saat kita dan kematian berjumpa,
semesta hening,
karena tak lain wajah kematian,
adalah wajah diri kita sendiri...



kubisikkan rindu pada udara,
pada lekatnya tanah,
pada hujan yang rintih,
pada angin bisu;
dan gemuruh pecah bukan di angkasa
melainkan dalam jiwa ini yang mencinta! Huu



hujan, angin yang memelukku erat, malam yang mampir dikubah langit, langkah, udara serta nafas;
segalanya membawaku kepadamu,
namun aku tetap tak bisa mengenalimu sebagaimana engkau mengenaliku.
aku tak bisa mencintaimu laiknya engkau mencintaiku..
lewat keterbasanku kusimpan dirimu,
dalam kesemestaanmu kau juga menyimpanku,
dan kita saling menyimpan dalam kesunyian..



semua bunga mawar meski sisi luarnya duri,
itu adalah cahaya dari belukar terbakar,
meski kelihatannya seperti api! HZ Mevlana Rumi



Cinta.. panggil! panggil! dengan kerinduan yang sesak,
hingga kau temukan dirimu bergetar dipenuhi Cinta!
jiwamu akan mengalun, nada-nada akan membumbung.
Cinta mangkat dengan keanggunan dan kau tenggelam pada ketiadaan Cinta! Huu



O Cinta!
sesak menyelimuti nafas para pencinta!
mekar! mekar!
setiap nafas mekar dan terbakar dalam dada;
dan tiada seorangpun tahu padang bunga yang mekar dalam dada,
kecuali Cinta!



demi sungai yang beranjak dari ketinggian dirinya menuju kelapangan samudera,
demi ceruk yang diangkat kehadirat angkasa,
semua demi satu Cinta! Huu

malam-malam-malam

malam-malam-malam





malam menggigil di emper jalanan.

berdiri setengah kaki di dalam mimpi-mimpi bocah gelandangan;

kaki malam tak sampai menyentuh tanah, dicampakkan duka derita jalanan!

malam-malam.. berkelana tanpa menemukan pagi, di harap para pencari sesuap nasi..

malam-malam abadi di kota-kota dengan hati tak berpenghuni.. malam-malam-malam dukakah kau? depok,2010

Jumat, Januari 27

aku dan rambutku

sore ini tetiba aku ingin merasakan dingin kepalaku disisir angin.. aku ingin botak!
mewujudkan keinginanku itu, aku meminta temanku untuk memotong sisa rambutku yang telah agak botak, mungkin sekitar 2centimeter panjangnya. berbekal gunting dan sebuah sisir aku memohon temanku untuk memotongnya, meski ia sebelumnya tak pernah memotong rambut apa dan siapapun.

berhasil aku memohon dan membujuknya,

sebuah eksekusi pun digelar.........,







helai demi helai, rambutku jatuh terkulai begitu lemas dilantai.. aku tak mengucap sepatah kata padanya, juga ia, namun diamnya adalah sebuah bisik yang sangat merana..
siapakah rambut ini? yang sedang terkulai ditanah? siapakah aku ini, yang duduk memandangnya heran? kapan kita telah bertemu dan bersama?? kenapa aku tak menangisi kepergian sesosok lembut gemulai yang telah lama tumbuh memeluk kepalaku?

aku bingung, kami bingung.. siapakah kami? tanpa tangis aku membiarkan sosok lembut itu jatuh lemah tak berdaya ditanah..
tanpa salam perpisahan kami membiarkan hari-hari yang telah kami lalui terbang lepas..

hidup selalu dengan pertemuan, juga perpisahan..
tapi apakah itu sebuah kemanunggalan? siapakah aku? siapa itu rambut yang tumbuh dikepalaku?

Senin, Januari 9

SOLILOQUI ORANG-ORANG CACAT

Orang-orang Cacat





Si Bisu:



Sepuluh jemari tangan kujadikan lidah

untuk meluncurkan setiap kata pada dunia

kerdipan mata kujadikan bahasa

agar kau yang menatapku memahami hidupku.



Jika jemari tanganku patah

jemari kakiku akan mengganti perannya:

tanpa masalah kutaruh kata-kata di kakiku

ia sudah biasa bercakap-cakap dengan mataku

setiap kali mecari jalan yang mungkin dilalui.



Jika rasa lapar mengembara—

karena mulutku bisu,

perutku bergemuruh memanggil makanan:

datanglah nasi diantar tanganku

menyertainya lauk dan sayuran,

sendok mengangkat mereka ke mulut

sedang perutku menyediakan kantongnya

lengkap dengan usus dan empedu

gejolak paru-paru dan lambung berdenyut.



Semua berjalan dengan baik dan lancar:

aku tak perlu menuntut lebih pada mulutku

mulutku tak perlu meminta maaf pada kebisuanku.





Si Tuli:



Telingaku kelopak yang tak kenal rintih angin

menempel di kepalaku seperti bunga yang mekar,

membuat wujudku tampak pantas

walau dengan lubang suara yang buntu:

mungkin agar dunia tidak menggangguku

dengan kata-kata tanpa makna dan rencana.



Orang tuli, semua memanggilku!

Mereka pikir aku tak tahu suara mereka.

Mereka pikir aku sungguh tak bisa mendengar.

Mereka tak tahu aku mendengar lewat mata

tatapanku menangkap denyut tiap suara

yang mengancam ketenangan hidupku.





Si Buta:



Benarkah dunia ini punya siang punya malam

memancar dari matahari dan bulan?

Kebutaan menanamku dalam gelap

di dasar dunia sekelam akhirat.



Aku merasakan matahari lewat panasnya

yang membakar bagai daging di atas nasib,

sedang parasnya yang putih dan lembut

kudengar dari nyanyian burung di angkasa

sepulang mencari biji-bijian untuk anaknya.



Bila aku menjelma burung

akan kukelilingi dunia dengan mata-tertutup

dan kusingkap mata angin dengan sayapku.

Sepulang dari petualanganku

akan kuceritakan segala yang di bumi dan langit

agar tak seorang pun mempercayai kebutaanku.



Tapi bila aku mati dihantam badai di angkasa

dan bumi tak menerima mayatku

matahari akan menguburku dalam cahaya

dan angin menerbangkan jiwaku

kepada kalian yang bekerja siang dan malam.





Si Pincang:



Sungguh mati aku lelaki tanpa kaki

dengan lutut terpotong berjalan di muka bumi

merasa terhormat seperti mereka yang bercelana

merasa terhormat seperti celana di kaki mereka.



Bagaimana aku bisa meninggalkan kampungku

hingga terdampar di kota ini?

Terimakasih sepasang kakiku yang patah

yang menancap di tubuhku

hingga membuatku seperti bersayap!





Si Gila:



Betapa lezat nafas yang berlayar

ke dalam tubuh ini, betapa lezat makanan!



Maafkan aku tanganku, kasihan kau kakiku!

Sejenak kulupakan kalian semua:

baru saja aku makan langsung dengan mulut

tanpa memerintah tanganku bekerja

sedang belum lama ini aku berjalan seperti ular

melupakan kaki yang biasa membawaku pergi



Matahari bulat, ampuni kegilaan ini!

Demi sinarmu yang bersumber dari pantulan mataku

demi garismu yang tak terputus waktu

gantunglah mimpiku di angkasa!



Hari-hari mengunjungiku, aku tetap begini adanya

orang-orang meninggalkanku

di tempat yang bagus ini.

Bila mereka kembali, akan kukatakan

aku hanya menganggap mereka debu,

dan bila mereka berkenan hidup bersamaku

akan kusulut mimpiku di kepala mereka

agar otak mereka menyala menjadi matahari!





Koor:



Kami orang-orang cacat

selalu salah menggunakan tubuh kami:

Si Bisu menggunakan jemari untuk berkata

agar Si Tuli mendengar dengan mata

lengan tangan jadi petunjuk bagi Si Buta

agar si Pincang berjalan dengan jiwanya

bernyanyilah Si Gila di tengah liar dunia



Kami orang-orang cacat

pandangan kalian membuat kami istimewa:

memberi penjara dan rumah sakit jiwa.

Di dunia mana kami dapat hidup?

Di hati siapa jiwa kami dibangkitkan?

Kami ingin mengucapkan terimakasih pada dunia,

walau dengan tubuh tak sempurna

semoga dapat melengkapi milik kami yang hilang.



2005, oleh Faisal Kamandobat