Pada mulanya, buahbuahan tumbuh menengadah kelangit. sebagai bentuk persembahan, atas seluruh karunia yang diturunkan oleh langit:
saat langit menurunkan bulir-bulir cahayaNya atau saat Ia membawa keteduhan, dengan menggembalakan awan-awan, hingga simfoni hujan terbentang, laksana dawai yang dimainkan semesta alam. atau juga saat gerbang langit dibuka membentangkan serupa busur warnawarni.
Karena itulah, pepohonan memanjatkan persembahannya yang termanis serupa buah-buahan pada langit. sebagai rasa khidmat dan syukur atas karunia Tuhan. Namun, Tuhan bukannya tidak menerima persembahan pohon-pohonan tersebut, Ia lalu berkata: persembahkanlah buah termanismu bagi ia yang berada di sekelilingmu, dengan begitu Aku akan sangat bahagia menerima khidmat dan syukurmu!
Semenjak itu, seluruh buah-buahan tidak ada lagi yang menengadah ke langit, ia memberikan persembahannya bagi sesiapapun yang berada di dekatnya, sebagai rasa syukur dan khidmat atas kebesaran kasih dari langit!