Rabu, Agustus 18

Cerita tentang Saikh Bayazid Al Busthami

ketika Bayazid meninggalkan istana dunia ini, seorang pengikutnya melihat Beliau malam itu juga dalam mimpi kemudian ia menanyakan pada Syaikh yang utama itu bagaimana dapat terbebas dari Munkar dan Nakir.



Syaikh Bayazid lantas berkata pada orang tersebut,

" ketika kedua malaikat ini menanyakan padaku tentang Al-Khalik, kukatakan pada mereka, 'Pertanyaan itu tak dapat dijawab dengan tepat, sebab jika kukatakan "Dia Tuhanku, begitu saja" ini hanya akan menyatakan keinginan dari pihakku semata; lebih baik bila kalian kembali pada Tuhan dan mohon bertanya padaNya, bagaimana pendapatNya tentang diriku ini.

bila Ia menamakan aku hambaNya, maka kalian akan tahu bahwa demikianlah adanya.

bila tidak, maka Ia telah meninggalkanku dalam perjanjian yang mengikatku.



karena tak mudah mencapai persatuan dengan Tuhan, adakah pantas bagiku memanggil Dia Junjunganku?

jika Ia tak berkenan dengan pengabdianku bagaimana dapat aku mengaku bertuan padaNya?

memang benar bahwa aku telah menundukkan kepalaku, tetapi perlu pula kiranya bahwa Dia menamakan aku hambaNya'."







diambil dari kitab musyawarah burung/ "Manthiq At-Thair"

Syaikh Fariduddin Attar

Jumat, Juli 30

guru tercinta




inilah wajah guru kita tercinta Syaikh Nazim Adil Al Haqqani

ikhwal-Ku

Adalah ketiadaan, sebuah pertanyaan tentangku?
Kebutaan dalam sebuah penglihatan,
kata-kata; kalimat yang tersusun penuh.
Tiada yang tiada
Relung-relung dalam sumsum tulangmu
Jeda pada tiap perkataan dan nafasmu
Apa yang tak?

Semua menunjukkan Aku
Malam yang mencaricari pagi,-
Udara yang tersusun sedemikian rapi
puisi yang tercerai-berai

puji bagi;

Demi semesta yang tunggal;
Demi hari kini dan hari kemudian;
Demi saat yang selalu dinantikan;
Sungai-sungai bersujud kehadapan samudra-
beranjak dari ketinggian dirinya menuju keluasan samudra yang riuh rendah.
O bumi, berjuta kali engkau berpusing, namun wajahmu menampakkan kebahagiaan yang tetap
Berjalan dengan tuntunan Ghaib menuju ketiadaan yang Baqa.
Apa yang dinanti dan tak dinanti adalah Satu,
malam dan siang adalah Satu.
cinta yang tunggal!

Minggu, Juni 27

bercinta dengan-Mu

kejut jantungku menyebut namamu..
allah allah allah allah...
darah aortaku mengalir deras namamu
allah allah, allah allah..
malam malam memekik panjang dalam nafasku yang berat
berat menyimpan nama-namamu..
allah allah allah allah..
tangisku menjelma peluh, meleleh atas namamu..
allah.. allah..allah..
O..
yang kucinta..
pelukmu menjangkau ku-ku peluk kau dalam ketiadaanku
dalam dadaku memancar nama-namaMu..
allah allah allah allah... allah!
Kau membuatku serupa Majnun
mengira-ngira malam sebagai Layla..
menyimpan cinta dalam hati dalam dada dalam darah dalam tiada dalamnya dalam
Aku-Kau
: bercinta

Sabtu, April 10

Imam Thariqah Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband

Imam Thariqah Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband


Maulana Syaikh Nazim berkata tentang Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral),





Maulana Syaikh Naqsyaband, Imam ut Thariqah adalah Pir. Pir berarti Imam. Imam berarti Tiang. Dia adalah Tiang utama Tarekat kita. Semoga Allah memberkati Beliau dan memberkati kita semua di dunia ini dan akhirat kelak. Maulana Syaikh Naqsyaband berkata " Thariqathun isthufal khalqa jamii-an". Kita mencoba mengikut dan menjadi pengikut. Ini adalah cara yang mudah dan enak untuk menuju kekuatan.
Ada suatu mesin yang bekerja di depan rangkaian kereta api. Semua kerja yang berat dikerjakan oleh mesin itu. Dibelakang mesin itu ada beberapa gerbong yang bergabung bersama gerbong lainnya membentuk suatu rangkaian, tapi kekuatan utama berasal dari mesin itu, yaitu mesin yang berada didepan dalam rangkaian kereta api. Karena gerbong yang lain bergabung dengan mesin itu, mereka bergerak sesuai dengan arah dari mesin itu. Kemana saja mesin itu menuju rangkaian gerbong itu mengikuti. Walaupun rangkaian gerbong atau pengikut tidak punya kekuatan sendiri, tapi kemanapun mesin mengarah, mereka dapat menuju kesana juga. Mereka bisa juga berjalan menuju tempat tujuan mesin itu.
Karena itu, setiap Tarekat memiliki seorang Imam Tarekat. Imam-ut-Thariqah (Imam Tarekat) telah dikaruniai kekuatan untuk membawa kita dari asfala safiliina ilaa alaa illiyyiin, dari tingkatan terendah ke tingkatan tertinggi. Kalau hanya mengandalkan kemampuan diri kita sendiri mustahil kita bisa mencapainya. Anda tidak akan bisa terbang tanpa naik pesawat udara. Dengan menumpang pesawat udara Anda bisa menempuh perjalanan bahkan dari satu benua ke benua lainnya. Karena itu, Anda harus menggunakan sarana (tarekat) ini untuk beranjak dari maqam terendah Anda hingga ke maqam tertinggi yang mungkin dicapai.
Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) lahir di desa Qasr al-Arifan dekat Bukhara pada tahun 711 H/1317 M. Beliau dikabarkan telah menunjukkan berbagai keajaiban yang luar biasa sejak masa kecilnya. Ketika Beliau masih muda, Muhammad Baba as Samasi, seorang Syaikh dari Tarekat Naqsyabandi memintanya datang dan untuk memenuhi permintaan ini Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband berangkat ke kota Samas untuk berkhidmat kepada Maulana Syaikh Muhammad Baba as Samasi. Tentang kehidupan Beliau dalam periode ini Maulana Syaikh Bahauddin (ral), mengisahkan:
Bangun dari tidur setidaknya tiga jam sebelum subuh aku mengerjakan rangkaian shalat sunah dan setelah itu ketika dalam keadaan sujud aku memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk memberiku kekuatan untuk memikul Cinta Ilahiah Nya. Kemudian aku shalat subuh bersama Syaikh ku. Kelihatannya Syaikh mengetahui apa yang kuminta dalam sujudku, karena Beliau mengatakan kepadaku: Kamu harus mengubah apa yang kau minta dalam sujudmu, karena Allah Yang Maha Kuasa tidak suka hambaNya meminta kesukaran. Memang Dia memberi beberapa kesulitan kepada mahlukNya untuk menguji mereka. Hal ini berbeda. Seorang hamba tidaklah boleh meminta untuk diberi kesulitan-kesulitan karena hal ini tidak menunjukkan penghormatan kepada Allah. Karena itu ubahlah permohonan dalam sujudmu dengan berdoa "untuk hambaMu yang lemah ini wahai Tuhanku, karuniakanlah ridhoMu".
"Sepeninggal Syaikh Muhammad Baba Samasi aku pergi ke Bukhara dan menikah disana. Aku tinggal di Qasr al-Arifan dekat tempat tinggal Syaikh Sayyid Amir Kulal dalam rangka berkhidmat kepada Beliau". Menurut riwayat lama sebelumnya Syaikh Baba Samasi telah mengatakan kepada Sayyid Amir Kulal untuk mengasuh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband.
Maulana Syaikh Bahauddin (ral) mengisahkan pengalamannya. "Suatu ketika aku sedang melakukan khalwat bersama seorang kawan ketika tiba-tiba surga dan suatu pemandangan yang luar biasa ditampakkan didepanku. Dalam visi itu kudengar suara berkata "Tinggalkan semuanya dan datanglah ke Hadirat Kami sendirian". Aku mulai gemetar dan lari meninggalkan tempat khalwat ke suatu tempat yang ada sungainya dan melompat ke dalam sungai itu. Aku mencuci pakaianku lalu shalat dua rakaat dengan cara yang aku belum pernah melakukan sebelumnya karena aku merasakan sedang shalat dihadapan Hadirat Ilahi. Terjadi Penyingkapan ( futuh) di hatiku dan itu merupakan pembuka atas segala sesuatu. Seluruh alam semesta lenyap dan aku tidak sadar akan apapun selain sedang shalat dihadapan Hadirat Ilahi".
Ada riwayat luar biasa lainnya yang dikisahkan Wali Agung Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral). Beliau bercerita "Pada tahap awal dari keadaan kertertarikanku aku ditanya mengapa aku menempuh jalan ini. Kujawab supaya aku mendapat kekuatan sehingga apapun yang kukatakan dan kuinginkan akan terwujud. Dijawab bahwa tidak bisa seperti itu, karena sesungguhnya apa yang Kami sabdakan dan yang Kami kehendaki adalah yang akan terjadi. Kujawab lagi bahwa aku tidak setuju dengan hal itu. Aku harus mampu berkata dan berbuat apapun yang kuinginkan, jika hal ini tidak bisa kudapat maka kenapa aku harus menempuh jalan ini? Lalu kuterima jawaban: tidak, sesungguhnya apapun yang Kami kehendaki Kami sabdakan dan apapun yang Kami kehendaki akan terwujud. Kujawab lagi apapun yang kukatakan dan kulakukan adalah jalan yang kutempuh. Setelah itu aku ditinggalkan sendirian.
Selama lima belas hari aku sendirian. Hal ini membuatku tenggelam dalam depresi yang mendalam. Lalu tiba-tiba saja terdengar suara "Wahai Bahauddin seperti yang kau inginkan maka Kami mengaruniaimu apapun yang kau inginkan". Aku memohon agar diberi jalan yang bisa langsung menuju Hadirat Ilahi. Lalu aku mengalami visi yang luar biasa dan mendengar suara yang mengatakan bahwa aku telah dikarunia apa yang kuminta".
Kisah ini luar biasa karena biasanya orang patuh pada Perintah Ilahi dan tidak meminta pemenuhan keinginan mereka sendiri. Biasanya tindakan menolak untuk mematuhi Perintah Ilahi dan memaksa untuk mendapatkan apa yang diingini akan dianggap tidak adab. Walaupun pada awalnya ditolak, permohonan Maulana Syaikh Bahauddin (ral) akhirnya dikabulkan.
Permohonannya dikabulkan mungkin karena Beliau memohon untuk kemaslahatan orang banyak dan bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Ada kisah lain yang tak kalah menariknya kala Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) diuji oleh Syaikh nya. Ini sungguh ujian yang berat. Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) menuturkan kejadian ini. "Suatu ketika aku berada dalam tarikan Ilahiah yang begitu kuat sehingga aku tidak sadar akan diriku dan berjalan tanpa menyadari apa yang kulakukan. Ketika malam tiba kulihat kedua kakiku berdarah akibat luka sobek dan tertusuk duri. Lalu kurasakan bahwa aku harus pergi ke rumah Syaikh ku, Sayyid Amir Kulal. Malam itu terasa sangat dingin dan gelap tanpa ada bulan dan bintang sama sekali. Untuk melawan dinginnya malam aku hanya mengenakan jubah tua terbuat dari kulit. Ketika sampai di rumah Syaikh ku, kulihat Beliau sedang bersama teman-teman dan para pengikut Beliau. Ketika Syaikh melihatku Beliau memerintahkan pengikutnya untuk mengusirku keluar dari rumah. Syaikh ku tidak suka aku berada di dalam rumahnya. Pengikut Syaikh mendatangiku dan membawaku keluar dari rumah. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini.
Terasa egoku akan mengalahkanku dan mengambil alih kendali perasaanku dengan mencoba meracuniku dengan menggoyah keyakinanku yang tulus pada Syaikh ku. Bagaimana aku bisa menanggung malu dan rasa terhina seperti ini? Lalu Rahmat Ilahi datang kepadaku sehingga aku mampu menanggung ini semata-mata hanya demi Allah dan demi Syaikh ku. Dengan tegas kukatakan pada egoku bahwa aku tidak akan membiarkan egoku membuatku kehilangan cinta dan keyakinanku pada Syaikh ku.
Lalu kurasakan depresi yang mendalam melandaku. Langsung kuarahkan diriku pada keadaan kerendahan hati, meletakkan kepalaku didepan pintu masuk rumah Syaikh dan berjanji bahwa aku tidak akan bergerak dari keadaan seperti itu sampai Beliau menerimaku lagi. Terasa salju dan angin dingin menyusup tulang yang membuatku menggigil dan gemetar menahan dinginnya malam yang kelam. Bahkan tak tampak cahaya bulan dan bintang sedikitpun pun untuk membuatku sedikit nyaman dan hangat. Tubuhku nyaris membeku. Hanya hangatnya cinta kepada Allah Yang Maha Kuasa dan kepada Syaikh ku saja yang menghangatkanku.

Aku menanti dengan tetap dalam keadaaan seperti itu hingga pagi hari. Lalu Syaikh ku melangkah keluar rumah dan tanpa melihatku kakinya menginjak kepalaku. Ketika Syaikh melihatku, dengan cepat dibawanya aku masuk ke dalam rumahnya dan dengan telaten serta penuh perhatian Beliau mencabuti duri dari kakiku. Beliau berkata "Wahai anakku, hari ini kau telah dihiasi dengan busana kebahagiaan dan Cinta Ilahi. Busana yang menghiasimu ini belum pernah dikenakan oleh siapapun, baik diriku maupun Syaikh-syaikh sebelumku. Allah dan Nabi Muhammad (sal) telah ridho kepadamu. Demikian juga Para Auliya dalam silsilah Rantai Emas, mereka semua telah ridho kepadamu".
Sambil mencabuti duri-duri dari kakiku dan membasuh luka di kakiku, Syaikh ku menuangkan kedalam hatiku pengetahuan yang belum pernah kualami sebelumnya. Lalu dalam visiku kulihat diriku memasuki rahasia dari Muhammadur RasuluLlah. Ini berarti memasuki rahasia dari ayat yang merupakan Realitas Muhammad. Setelah itu membawaku memasuki rahasia dari la ilaha illaLlah yang merupakan rahasia dari Keesaan Allah. Kemudian membawaku memasuki rahasia-rahasia dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kuasa yang berada dalam rahasia dari Keesaan Allah. Tidak mungkin kata-kata bisa menerangkan keadaan yang kualami ini. Hal ini hanya bisa dialami dengan merasakannya melalui qalbu".

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) dididik oleh Syaikh Baba as Samasi dan Syaikh Sayyid Amir Kulal, keduanya merupakan figur Syaikh terkemuka dari Rantai Emas Tarekat Naqsyabandi. Beliau juga dididik langsung oleh Grand Syaikh terkemuka lainnya dari Rantai Emas yang sama (yang hidup tidak sejaman dengan mereka). Kejadian ini dikisahkan oleh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband dalam tuturan berikut: Pada awal mula langkahku menempuh Jalan Sufi aku biasa berjalan-jalan dimalam hari dari satu tempat ke tempat lain di desa Bukhara. Untuk belajar dari mereka yang sudah meninggal dunia aku banyak mengunjungi kuburan di kegelapan malam dan ini biasanya juga kulakukan di musim dingin. Suatu malam aku pergi mengunjungi makam dari Syaikh Ahmad al Kashghari dan membaca fatihah untuk Beliau. Di makam Beliau kutemui dua orang yang sedang menantiku. Aku belum pernah bertemu mereka sebelumnya. Mereka disertai seekor kuda. Mereka mendudukanku diatas pelana kuda itu dan mengikatkan dua buah pedang di pinggangku, lalu menuntun kuda ke makam dari Syaikh Mazdakhin. Kami lalu turun dari kuda dan memasuki makam dan mesjid dari Syaikh ini dan mulai melakukan meditasi (murakabah).

Dalam keadaan murakabah kulihat dalam dalam visiku tembok yang menghadap Ka'bah runtuh. Seorang laki-laki bertubuh raksasa kulihat sedang duduk diatas singgasana yang sangat besar. Aku merasa sangat familiar dengannya, sepertinya aku telah pernah bertemu dengannya sebelumnya. Kemanapun aku menghadapkan wajah kulihat orang ini. Disekeliling orang ini ada Syaikh Baba Samasi and Sayyid Amir Kulal berkumpul bersama dengan sekelompok besar orang yang hadir. Aku merasakan rasa cinta yang mendalam kepada laki-laki bertubuh besar ini dan pada saat bersamaan merasa takut padanya. Sosoknya memesona sekaligus menakutkanku dan keindahannya penampilannya menimbulkan rasa cinta dan ketertarikan. Aku bertanya pada diriku sendiri siapa sebenarnya lelaki agung dan bertubuh besar ini. Tiba-tiba kudengar seseorang yang berada disekitar lelaki itu berkata "Orang ini adalah Syaikh mu dan dialah yang menjagamu dalam jalur spiritualmu. Dia mengawasi jiwamu sejak masih berupa sebuah atom di Hadirat Ilahi. Kau telah dilatihnya selama ini. Namanya adalah Abdul Khaliq Al Gujduwani dan kumpulan orang yang terlihat disekelilingnya adalah para Auliya yang membawa rahasia-rahasia besarnya, rahasia-rahasia dari Rantai Emas". Lalu Syaikh Abdul Khalik mulai menunjuk masing-masing Syaikh yang ada disitu dan berkata "Ini adalah Syaikh Ahmad, ini Arif ar-Riwakri, ini Syaikh Ali ar-Ramitani, ini Syaikh mu Baba as Samasi yang memberimu jubah semasa hidupnya". Dia bertanya padaku "Apakah kau mengenalnya? ". Kujawab "Ya". Lalu Beliau berkata "Jubah yang diberikannya kepadamu masih berada dirumahmu dan dengan perkenan Syaikh mu maka Allah Yang Maha Kuasa telah menghapus banyak kesulitan-kesulitan yang semestinya menimpamu".
Lalu terdengar suara lain yang berkata "Syaikh yang duduk diatas yang singgasana itu akan mengajarimu sesuatu yang kau butuhkan dalam menempuh jalan sufi ini". Aku bertanya kepada mereka apakah aku diperbolehkan menyentuh tangan Beliau. Setelah diijinkan aku memegang tangan Beliau. Lalu Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani mulai mengajariku tentang jalan sufi, permulaannya, pertengahan dan akhirnya. Beliau berkata "Kau harus menyesuaikan sumbu hakikat dirimu sehingga cahaya yang tak kasat mata akan diperkuat didalam dirimu dan rahasia-rahasianya menampak. Kau harus menunjukkan istiqomah dan harus menjaga Syariah Suci dari Nabi Muhammad (sal) pada apapun keadaanmu".
Beliau juga berkata "Kau harus meninggalkan kesenangan hidup duniawi dan menjauhi perbuatan bid'ah dan pusatkan dirimu hanya pada sunah-sunah Nabi Muhammad (sal). Kau harus menghayati dan menyelami peri kehidupan Nabi Muhammad (sal) dan para sahabatnya. Kau harus mengajak orang untuk membaca dan mengikuti tuntunan Qur'an baik siang maupun malam dan menegakkan shalat wajib serta semua ibadah sunah. Jangan sekali-kali memandang rendah bahkan pada hal-hal kecil dari perbuatan dan amal shalih Nabi Muhammad".
Begitu Syaikh Abdul Khaliq al-Ghujduwani (ral) menyelesaikan ucapannya, wakil Beliau berkata padaku "Agar kau yakin bahwa visi yang kau lihat ini benar adanya Beliau akan mengirimu suatu pertanda". Dijelaskan bahwa hal-hal dan kejadian-kejadian tertentu akan terjadi sebagaimana mustinya terjadi dan pada saat yang telah ditentukan. Demikianlah kejadian-kejadian itu terjadi persis sebagaimana telah dikatakan kepada Maulana Syaikh Bahauddin (ral) yang kemudian juga berbuat persis sebagaimana Beliau diperintahkan, hal ini membuktikan kebenaran visi yang dialami Maulana Syaikh Bahauddin (ral). Beliau juga diminta untuk memberikan jubah Azizan kepada Sayyid Amir Kulal (ral). "Setelah visi itu berakhir aku pulang kerumah dan mencari jubah itu dan bertanya kepada keluargaku dimana adanya jubah itu. Mereka mengatakan kepadaku bahwa jubah itu sudah berada disana sejak lama, sambil membawa jubah itu dan menyerahkannya kepadaku. Aku mulai menangis didalam hati ketika melihat jubah itu".
Setelah memenuhi segala hal yang dikatakan dalam visiku, sebagaimana diperintahkan aku membawa jubah Azizan ke Syaikh Sayyid Amir Kulal (ral) dan memberikan padanya. Setelah terdiam beberapa saat Syaikh Amir Kulal berkata padaku "Aku diberitahu tentang jubah Azizan ini semalam yaitu bahwa kamu akan membawa dan menyerahkannya padaku. Aku diperintahkan untuk menyimpannya dalam sepuluh lapis selubung yang berbeda". Beliau lalu memintaku masuk ke dalam kamarnya dan mengajarkan serta menempatkan didalam hatiku zikir tanpa bersuara. Aku diminta untuk terus menerus berzikir seperti itu siang dan malam. Aku terus mengamalkan zikir ini yang merupakan bentuk tertinggi dari zikir.
Aku juga berguru kepada ulama-ulama lain untuk belajar Syariah dan sunah-sunah Nabi Muhammad (sal) dan juga mengkaji sifat-sifat Nabi Muhammad (sal) dan para sahabatnya. Sejak aku melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dalam visiku, hidupku mengalami perubahan besar. Semua yang diajarkan oleh Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) dalam visi itu bermanfaat bagiku dan membuahkan hasil. Ruh Beliau selalu menyertaiku dan mendidikku. Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) adalah salah satu dari beberapa Guru/Syaikh dari Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) walaupun Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) hidup dimasa sebelum jaman Maulana Syaikh Naqsyaband (ral). Hubungan ini dalam dunia sufi dikenal sebagai Hubungan Uwaisy, yang berarti bimbingan dan hubungan spiritual terjadi walaupun masing-masing berasal dari jaman yang berbeda. Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) juga merupakan salah satu Syaikh dari Rantai Emas Tarekat Naqsyabandi.
Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) juga mengikuti dan belajar pada Mawlana Arif ad-Din Karani selama tujuh tahun. Setelah itu Beliau mengikuti Maulana Kuthum Syaikh selama beberapa tahun. Beliau juga menyertai seorang darwis bernama Khalil Ghirani yang tentangnya Beliau berkata "Selama menyertai Syaikh Khalil Ghirani banyak pengetahuan baru yang selama ini tersembunyi mulai tersingkap di hatiku dan Beliau selalu menjagaku, memujiku dan mengangkat derajatku". Ada Kekasih Allah lainnya yang disebut oleh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) "Beliau memerintahkanku untuk menolong dan melayani orang miskin dan menolong mereka yang sedang hancur hatinya. Beliau memintaku untuk rendah hati dan bersikap toleran. Beliau juga mengatakan padaku untuk menyayangi hewan-hewan dan menyembuhkan sakit dan luka mereka dan memberi mereka makanan".
Maulana Syaikh Bahauddin Naqshband (ral) mengisahkan tentang kejadian lain yang masih berhubungan dengan jubah Azizan. "Suatu hari aku sedang berada di kebunku dan dikelilingi oleh murid-muridku. Aku mengenakan jubah Azizan. Tiba-tiba aku diliputi oleh rahmat dan tarikan surgawi dan kurasakan diriku dihiasi dengan busana sifat-sifat Allah Yang Maha Kuasa. Kurasakan diriku mulai gemetar sedemikian rupa yang tak pernah kualami sebelumnya sehingga aku tak mampu lagi berdiri. Lalu tampak olehku visi yang luar biasa dimana keberadaanku sama sekali lenyap ( fana) dan aku tidak melihat apapun kecuali Wujud Tuhanku.
Lalu kulihat diriku keluar dari Hadirat Ilahiah-Nya yang tampak terpantul dari cermin Muhammadur RasuluLlah yang berbentuk sebuah bintang dalam samudra cahaya tanpa batas. Wujud luarku lenyap dan kusaksikan makna sesungguhnya dari la ilaha illaLlah Muhammadur Rasulullah. Kemudian kusaksikan makna sejati dari nama-nama Allah yang kemudian membawaku kepada Yang Maha Ghaib yang merupakan esensi dari nama Allah 'Huwa" (Dia). Begitu aku memasuki samudra ini jantungku berhenti berdetak dan hidupku berakhir. Aku berada dalam keadaan mati. Semua orang yang berada disekelilingku mulai menangis karena mengira aku sudah meninggal dunia. Akan tetapi setelah kitra-kira enam jam aku diperintahkan untuk kembali ke ragaku. Aku bisa menyaksikan ruhku kembali memasuki ragaku perlahan-lahan dan visi itu berakhir".
Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) juga mengatakan kalau Beliau menerima rahasia-rahasia spiritual dari berbagai pihak dan khususnya dari Uways al-Qarani (ral) yang memberi pengaruh besar dalam hal meninggalkan keduniawian dan melekatkan diri Beliau kepada hal-hal spiritual ( ukhrowi). Beliau berkata "Aku melakukan ini dengan menjaga sunnah dan perintah-perintah Nabi Muhammad (sal) sampai aku mulai menyebarkan hikmah dan dikarunia rahasia-rahasia Ilahiah dari yang Maha Esa yang tidak pernah diberikan pada seorangpun sebelumku".
Ada kisah menarik lainnya yang dituturkan oleh Wali Agung Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) mengenai kekuatan spiritual Beliau. Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) berkata: Suatu hari aku pergi ke gurun bersama salah satu muridku yang tulus yang bernama Muhammad Zahid. Kami mulai menggali tanah dengan menggunakan sebuah beliung (alat untuk menggali) dan pada saat bersamaan juga sambil membicarakan secara mendalam tingkatan-tingkatan pengetahuan. Sambil terus mengayun beliung pembicaraan kami terus berlangsung dan semakin mendalam. Lalu tiba-tiba muridku bertanya "Sampai batas apakah pencapaian ibadah?". Kujawab "Peribadatan mencapai suatu tingkatan dimana kau mampu menunjuk pada seseorang dan berkata "Matilah" dan lalu orang itupun mati". Ketika aku sedang mengatakan itu tanpa sadar sambil telunjukku menunjuk pada Muhammad Zahid. Ketika kukatakan kata "Mati" terjadilah hal yang mengerikanku yaitu muridku jatuh dan meninggal dunia. Waktu terus berlalu dari pagi sampai tengah hari dan muridku masih dalam keadaan mati. Pada saat tengah hari terasa sangat panas dan jenasah muridku mulai semakin memburuk karena panas yang sangat. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan merasa takut serta kebingungan. Yang bisa kulakukan adalah membawa jenasahnya ketempat teduh dibawah pohon. Aku lalu duduk mulai berfikir dan merenung akan apa yang harus kulakukan dalam situasi ini. Tiba-tiba muncul Ilham dalam pikiranku dan aku berkata sambil menunjuk pada jenasah muridku "Wahai Muhammad Hiduplah!" tiga kali. Timbul rasa legaku ketika perlahan-lahan nyawanya kembali ke tubuhnya dan secara bertahap muridku kembali ke kesadarannya. Dengan bergegas aku menemui Syaikh ku dan menceritakan kejadian itu. Syaikh ku kemudian berkata "Wahai anakku, Allah Yang Maha Kuasa telah memberimu suatu rahasia yang tak pernah diberikannya kepada siapapun".
Dihari-hari akhir masa hidupnya Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) lebih sering mengurung diri di kamarnya. Banyak orang yang datang mengunjungi Beliau. Semakin banyak orang yang berkunjung ketika sakit Beliau semakin parah. Saat ajal Beliau makin dekat, Beliau memerintahkan agar dibacakan Surah Yaasin. Selesai dibacakan Surah Yaasin Beliau mengangkat tangan sambil membaca Dua Kalimah Syahadat, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad (sal) adalah Utusan Allah. Dengan Syahadat ruh suci Beliau kembali kepada Allah. Ketika itu tanggal 3 Rabiul Awwal, 791 H/1388 M, pada hari Senin malam. Sesuai permintaannya Beliau dimakamkan di taman miliknya. Mengenai kejadian ini seorang Wali Agung masa itu Abdul Wahab asy-Syarani berkata: Ketika Syaikh dimakamkan di makamnya terbukalah untuk Beliau sebuah jendela ke surga, sehingga makamnya menjadi sebuah taman surga. Dua mahluk spiritual berpenampilan memesona datang dan memberi salam kepada Beliau sambil berkata "Kami telah menanti sekian lama untuk melayani Anda sejak Allah menciptakan kami dan sekarang waktunya telah tiba bagi kami untuk melayani Anda", terhadap ucapan ini Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) menjawab "Aku tidak butuh apapun selain Dia. Aku tidak butuh kamu, aku butuh Dia". Dengan cara seperti itu Beliau mangkat.
Itulah kisah kebesaran dari Pir atau Tiang dari Tarekat Naqsyabandi yang mulia. Tarekat ini sebelum jaman Beliau dikenal sebagai Tarekat Siddiqiyah. Setelah Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral), tarekat ini dikenal sebagai Tarekat Naqsyabandiyah.

Semoga Allah merahmati Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral).

nasehat Syekh Abdul Qadir Al Jailani

NASEHAT SHEIKH ABDUL QADIR AL JILANI

for everyone
“Beramallah tanpa bicara, ikhlas tanpa riya', bertauhid tanpa syirik, tersembunyi tanpa disebut-sebut, khalwat tanpa tampil, batin tanpa dzahir. Sibukkan batinmu dengan tanpa hasrat karena dirimu sedang berdialog dengan Allah Azza wa Jalla, dan engkau pun menunjukkan dengan ucapanmu :"Hanya kepadamu kami menyembah dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan."
(Sheikh Abdul Qadir Al jilani)

kaweruh kejawen

HA : hurip : hidup
NA : legeno : telanjang
CA : cipta : pemikiran, ide ataupun kreatifitas
RA : rasa : perasaan, qolbu, suara hati atau hati nurani
KA : karya : bekerja atau pekerjaan atau di lahirkan.
Manusia " dihidupkan " dalam keadaan telanjang akan tetapi manusia memiliki cipta rasa karsa, otak yang mengkreasi cipta', hati yang mempunyai fungsi kontrol ( dalam bentuk rasa ) serta raga / tubuh / badan yang bertindak sebagai pelaksana.
DA : dada
TA : tata : atur
SA : saka : tiang penyangga
WA : weruh : melihat
LA : lakuning : ( makna ) kehidupan, urip.
Dengarkanlah suara hati nurani yang ada di dalam dada, agar bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga ( saka ) sehingga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya.
PADHAJAYANYA : sama kuat pada dasarnya / awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama ( kuat ), yaitu potensi melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan.
MA : sukma : ruh, nyawa
GA : raga : badan, jasmani
BA-THA : bathang, mayat
NGA : lunga, pergi
meskipun dengan kehebatan cipta, rasa, karsa, entah kita baik atau jahat akhirnya ruh / nyawa pasti suatu saat akan kembali ke penciptanya; sehinga manusia harus bisa mempersiapkan diri.
BY. Adji saka from jian ( wong edan )
diambil dari catatan saudaraku sujix adiningrat

Senin, April 5

merindu rindu

oh kasihku..
Pada rindu yang telah lama menghujam meradang hatiku ini..

Datanglah... Datang..

Sebab engkaulah obat dari segala obat,
cinta dari segala cinta..

Oh kasihku...
Cintaku yang selalu merebak ditiap udara seperti wewangian..

Kasiih... Kasiiih...

Begitu panjang masa ini hadir dan mencampakkanku,
hanya untuk mengajariku akan kau,
mengenalmu, mencintaimu...

Ribuan luka kusandang dari nama-namamu yang terus merobek kebekuan diri ini..

Namun apalah diri yang tak berarti ini,
sebab segala wujud adalah engkau,
segala kasih adalah engkau!

Bagaimana aku bisa membawa setitik air pada keluasan samudra?
Sedang aku ini tiada...

Oh cintaku yang tak pernah habis segala..

Padamu kuserahkan penghabisan cinta dan diri ini..

Terimalah... Terima...

Sebab pada beratus kali aku hidup serta beratus kali aku mati,
segala yang kusaksikan ialah engkau..
Yang selalu bertahtakan cinta dan keabadian..

Oh cinta dari segala cinta..
Wujud sempurna lagi indah..

Terimalah kepasrahanku atas rindu dan cintaku padamu.

Rabu, Maret 31

manthiq-althair, sari dari ganj, Fariduddin Attar

Ketika Tuhan meniupkan nafas hayat yang suci ke tubuh Adam yang tak lain dari tanah dan air, Tuhan ingin agar para malaikat takkan tahu tentang itu,dan tidak pula menaruh syak. Maka Tuhan pun bersabda pada mereka, "Bersujudlah di hadapan Adam, o Ruh Samawi!" semua mereka pun bersujud, Tuhan meniupkan nafas hayat ke dalam diri Adam dan tiada satu pun dari mereka yang tahu akan rahasia yang ingin disembunyikan Tuhan. Atinya, tiada satu pun kecuali Iblis, yang berkata dalam hati, "Tak ada yang akan melihat atau bertekuk lutut. Meski kepalaku bercerai sekalipun, tidaklah itu akan sama celakanya dengan melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan. Aku tahu betul bahwa bukan karena masalah adam akan di bumi itu saja, maka aku tak bersedia untuk bersujud dan tak melihat rahasia itu." Dan demikianlah, Iblis tak bersujud, melaikan mengawasi saja, dan melihat rahasia itu. Akhirnya Tuhan pun bersabda, "O kau yang tinggal menunggu, kau telah mencuri rahasia itu, dan untuk itu, kau pun akan kumatikan, sebab aku tak ingin ada makhluk yang mengetahui rahasia itu. Bila raja duniawi menyembunyikan harta kekayaannya, ia akan membunuh dia yang mengetahui harta yang disembunyikan itu. Dan engkaulah dia."



Iblis berkata, "Rabbi,beri kiranya pertangguhan, karena hamba ini abdi Tuan,dan tunjuki hamba kiranya hamba dapat menebus dosa hamba." "Karena begitu permohonanmu," sabda Tuhan, "akan kuberikan padamu pertangguhan; namun sejak saat ini, akan kukenakan di lehermu kerah kutukan dan akan kulekatkan padamu nama pembohong dan pemfitnah,agar setiap orang akan waspada terhadapmu sampai hari kiamat."



Iblis berkata, "Apakah yang mesti hamba takutkan karena kutukan Tuan bila harta suci ini telah tersingkapkan bagiku? Bila kutukan datang dari Tuan, maka akan datang pula ampunan. Dimana ada racun, disana ada pula penawarnya. Tuan mengutuk sebagian makhluk dan merestui yang lain. Kini karena hamba telah mendurhaka, maka hamba pun menjadi makhluk kutukan Tuan." Bila kau tak dapat menemukan dan memahami rahasia yang kukatakan itu, bukanlah karena hal itu tak ada, tetapi karena kau tak mencarinya dengan benar. Bila kau suka pilih-pilih diantara apa-apa yang datang dari Tuhan, maka kau bukan penempuh Jalan Ruhani. Bila kau memandang dirimu sendiri dimuliakan dengan intan dan dihinakan dengan batu, maka Tuhan tak menyertaimu. Perhatikan baik-baik, janganlah kau menyukai intan dan menolak batu,karena keduanya datang dari Tuhan.

rayuan malam

oleh: aji dwi prasetyo


untuk apa kau menitihkan tangis?
Malam masih panjang untuk kau ratapi,
biarkan bulan yang tak kunjung datang itu asyik bergumul diatas sana.
Tak perlu menantinya, kawan.
Kau tak lihat?
Semenjak tadi aku menemanimu, mengusap langitmu,
ah,mungkin memang terlampau sulit.
Melihat matamu sendiri.
Jadi, biarkan aku saja melihat matamu,
dan mataku menjadi matamu
jika kau biarkan aku menyelami matamu,
hingga ke dasar hatimu.

doa untuk diri (jasad)

oleh: aji dwi prasetyo

bismillahirrahmanirrahim
alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah
allahumashalialasayyidinamuhammad


wahai mulut, ketahuilah lafadzmu bukanlah milikmu
melainkan milik yang maha Menjadikan
tunduk dan taatlah pada perintahNya dan ikutilah jalan RosulNya

wahai hidung, ketahuilah nafasmu bukanlah milikmu
melainkan milik yang maha Menghidupkan
tunduk dan taatlah pada perintahNya dan ikutilah jalan RosulNya

wahai kaki, ketahuilah langkahmu bukanlah milikmu
melainkan milik yang maha Memberi petunjuk
tunduk dan taatlah pada perintahNya dan ikutilah jalan RosulNya

wahai tangan, ketahuilah kuasamu bukanlah milikmu
melainkan milik yang maha Menguasai
tunduk dan taatlah pada perintahNya dan ikutilah jalan RosulNya

wahai mata, ketahuilah pandangmu bukanlah milikmu
melainkan milik yang maha Melihat
tunduk dan taatlah pada perintahNya dan ikutilah jalan RosulNya

wahai telinga, ketahuilah pendengaranmu bukanlah milikmu
melainkan milik yang maha Mendengar
tunduk dan taatlah pada perintahNya dan ikutilah jalan RosulNya

wahai manusia sekalian, dirimu bukanlah milikmu
melainkan milik yang maha merajai


sebab, kepunyaan Allah lah apa-apa yang ada di langit, di bumi dan diantara keduanya
dan disisi Allah lah sebaik-baik tempat kembali.
amin.
salam cahaya cinta

kita tidak pernah benar benar hidup hanya pada saat ini;

oleh: aji dwi prasetyo


Kita tidak pernah benar benar hidup hanya pada saat ini;

masa, yang lalu; menumpahkan siang dan malamnya pada saat ini;
dengan fajar dan senja yang menikam mata serta hati, pada diri yang tenggelam didalamnya..

Kita tidak pernah benar benar hidup hanya pada saat ini;

sayap masa, yang esok; dirajut helai demi helai.,
bagai angsa putih,
yang menjelujuri bulu-bulunya yang kusut ditepian cermin danau,

untuk kemudian mengepakkan keindahan pada langit,
pada mata serta hati dan diri,,

kita tidak pernah benar benar hidup hanya pada saat ini;

tapi siang dan malam adalah karena mata
yang terbatas pada apa yang ia pandang,,
dan pada hatilah mentari mengungkap cahaya cintanya..

Kita tidak pernah benar benar hidup hanya pada saat ini;

tapi sayap dan buluh-buluhnya tak tumbuh pada jasad
yang tertambat pada kesombongan dan keingkaran
dan pada hatilah bilah sayap kerendahan dan kesyukuran disematkan, hingga..
membawamu terbang melampaui yang lalu, kini dan esok
yang tiada..

Pada kesejatian.

senyum kita, Cinta!

oleh: aji dwi prasetyo


Kasih, betapa aku menggila karena cinta, mencintaimu, cinta akan cinta.
Kau telah menerbitkan senyumku yang niscaya takkan pernah padam.
Ya, betapa bisa padam?!
di tiap sudut dunia ini yang kudapati hanya kau, yang juga tersenyum mesra padaku.
Senyummu! Itu yang membuatku, membuat hatiku terus menyala-nyala dan segera kupastikan nyala itu takkan padam!
Layaknya samudra yang kian terus mengombak karena digelayuti angin,
kau menggelayuti ku kasihku!
Hingga kita sampai pada pantai,
senyum kita pecah menjadi buih tawa kecil yang menyelusup diantara kerasnya karang-karang, meresap di lembutnya hamparan pasir, serta membuka tiap-tiap hati yang menyaksikan kita!

Oh, cintaku, kasih sejatiku..
Betapa kita, cinta kita, menjelma berbagai wujud..
Hidup di setiap waktu..

Cinta kita,..

Cinta yang tanpa atap, tanpa dinding, tanpa dasar, tanpa apapun kecuali cinta,
ya, karena itu cinta kita!

ambisi-ku

oleh: aji dwi prasetyo


Manusia berlarian.

Awan terus berkeliaran.

Matahari menyusuri langit.

Ombak mendaki-daki pantai.

Pasir berdesir.

Daun jatuh terkulai.

Buah ranum lalu masak.

Padi tumbuh dan menguning.

gelimang air mengarungi sungai.

Waktu memaksa segala untuk patuh

Dan aku masih tetap tak bergeming.

Sebab aku ingin menghentikan waktu.

Yang tiap detiknya menyelinap dan lindap pada jantungku. 

Senin, Maret 29

Qs. Ar-Rahman 1-13

(Allah) yang maha pengasih
yang telah mengajarkan al-quran
Dia menciptakan manusia,
mengajarnya pandai berbicara.
Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan,
dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya).
Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan,
agar kamu jangan merusak keseimbangan itu,
dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.
Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluknya,
di dalamnya ada buah-buahan dah pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?

tiada-ada

Mungkin bukan malam yang membuat cahaya rembulan keperakan,
tapi aku yang telah membuat sang surya berlari dari angkasa ke dalam diriku
hingga langit begitu padam dan
dapat kau nikmati rembulan yang merona di angkasa sana..
Jika percaya, kau adalah aku dan kita adalah segala, namun segala itu tiada.. kecuali cinta!

Kamis, Maret 25

doa sebelum tidur

Tidur yuk

Oleh : aji dwi prasetyo

Bismillahirrahmanirrahim bismikaallahumaahyawabismikaamut. Ya terkasih, diriku bukanlah milik diriku, maka biarkanlah diriku menjadi milikmu, karena dengan begitu, diriku akan menjadi milik diriku. Amin. Aku Cinta Kau. Selalu!

pada dia

Dia

Oleh : aji dwi prasetyo

Mungkin takan lagi ada luka dan rindu yg selalu kucari pada gemelisik hati, ketika kau begitu jauh, bukan karenamu, tapi aku, yang terkadang menjadi peragu akan kau. Aku begitu lelah terkadang menapaki hati bersamamu, karena saat kita bersama, nyatanyata kau tak ada? Atau aku memang benarbenar peragu? AKU BEGITU CINTA KAU! Tapi inikah cinta yang papa karena ku peragu? Kasih, dekap aku, erat! karena keraguanku tumbuh di riuhnnya keyakinanku padaMu.

aku,kau dan cinta

aku, kau, dan cinta

Oleh : aji dwi prasetyo

Kutulis cinta di pantaimu yang berpasir putih bak mutiara..
Namun kau rajut ombak dengan tangannya yg menjuntai pantai untuk menghapus cinta yang telah ku ukir..
Kutulis lagi cinta di pantaimu yang putih itu,
namun rajutan ombakmu selalu menyapu musaf cintaku dengan buih tawa pecah setelahnya..

Ku coba tulis lebih jauh dari ombakmu..

Namun kau ubah air lautmu jadi hujan dan sekali lagi menghapus cinta yg tlah ku tulis dengan titik" airmu yg menyejukkan..

Aku yang putus asa hanya dapat tertawa melihatnya..
Kini ku tahu,
aku nyatakan cintaku dengan ukiran maupun tulisan..
Dan kau nyatakan cintamu dengan menyimpan ukiranku pada pantai lewat pelukanmu yg ombak lalu membawanya pada samudramu yang luas dan dalam..
Dan ketika kau melihat cintaku yang menyala-nyala saat ku coba menuliskan cinta lebih jauh dari pantaimu serta ombakmu,
kau pun tertegun tak kuasa menyaksikan keteguhan cintaku dan hujanmu pun pecah jadi tangis..
Lalu kita berdua tertawa pada cinta yang menaungi kita..

pagi

pagi

Oleh : aji dwi prasetyo

Pagi ini rintik rintik hujan masih asyik bergumul,
diantara waktu yang berlari, pekerja yang cemas, ataupun aku yang terdiam dalam kesendirian.

Pagi ini mentari dan aku tak bertegur sapa, seperti biasa.
Air terus saja meluncur berkejaran menuju gang gang sempit nan gelap.
pagi ini aku bertemu gadis berkelambu malu-malu, menatap kedinginan yang tak kunjung reda.
Pagi ini tatapan-tatapan bangku kosong, tanpa segelas kopi maupun kepalan puing rokok.
Pagi ini pertunjukan hari digelar, dengan hujan serupa petikan dawaidawai mencipta harmony.

pertemuan

pertemuan

Oleh : aji dwi prasetyo

Sudah lama aku tak berjalan di gelaran masa silam,
meletakkan mataku diatas bayang-bayang,
namun pandanganku selalu mendahuluiku,
membuka pintu-pintu yang entah,
menuju hati-hati yang juga entah.
Aku selalu percaya pada waktu,
yang tanpa kuketahui, tanpa kubantu,
mempertemukanku pada angin, pada rumput, pada segala,
termasuk pena dan kertas ini.

Dan
Kuharap, waktu takkan pernah mencampakkanku..

kau-aku

rayu

Oleh : aji dwi prasetyo

Sekali lagi, pertemuan itu hadir dengan cara yang biasa.
Seperti siang bertemu senja kala itu.
Kita saling melempar senyum termanis diwaktu-waktu yang sesaat kita curi bersama,dan malu.
Gadis manis dengan senyum indah,
tunggulah saat kita tak lagi hanya mencuri waktu bersama,
saat kita kan saling mencuri masing-masing hati.
Kau-Aku.