aku terbalut lamunan, dug.. dug.. dug.. aku mendengar detak jantungku.
.....aku merasakan nafas mendekap di dadaku
..saat dadaku mengembang aku merasakan aliran udara mengisi tiap ceruk dalam paru-paruku; mekar!
..kemudian saat nafas ini begitu menghimpit, aku kembali menyadari bahwa udara dalam dadaku merangkak keluar..
lamunan kembali mengunjungiku..
seketika aku merasakan bahwa nafas telah mengajarkanku tentang rahasia kehidupan,,
banyak orang tua dahulu mengatakan bahwa hakikat hidup itu nafas, namun sekarang nafas mengajariku lebih dalam ikhwalnya..
segala yang terkembang dan mekar layaknya nafas, itu adalah Cinta..
dengan tangan-tangannya yang ghaib, ia mengembangkan nafas, ia menggiring ombak-ombak, ia pula yang memekarkan pagi..
Cinta, adalah ikhwal memberikan segala daya, segala kebahagiaan, segala panasnya yang menghidupkan..
Cinta adalah ikhwal memberi.. bukan menerima.. menjadi pelayan, bukan menjadi Tuan..
kemudian saat nafas begitu menghimpit dadaku, sesak mendekapku sedemikian erat!
ia berkata padaku, bukankah ini Rindu yang biasa kau rasakan?
mendekap menghimpit dan membuat sesak relung-relung jiwamu??
aku terdiam..
nafas sekali lagi memberiku pengetahuan ikhwalnya..
segala yang menghimpit, segala yang menyesakkan, segala yang mohon diri, segala yang dingin: adalah ikhwal kerinduan
nafas yang menyesak, ombak yang pamit dari hadirat pantai, malam yang dingin.. semua menceritakan ikhwal kerinduan..
nafas, hari, samudra.. itu hanya sebahagian yang dapat aku ceritakan tentang Cinta dan Rindu..
Cinta dan Rindu adalah pilar-pilar kasat yang menopang langit-langit.. yang menyangga tulang-belulang..
yang membangun semesta.. yang membangun aku kau kita.. segala..
Lamunan membalutku
BalasHapusDug... dug... dug..
Jantung semakin berdetak
Semakin kudengar degupannya
Nafas mendekapi dada
Dada terkembang
Udara menerobos masuk
Mengisi tiap ceruk paru-paruku
Nafas mengajariku kehidupan
Kehidupan adalah nafas
Tapi nafas lebih dalam ikhwalnya
Dari kehidupan itu sendiri
Nafas adalah ibarat cinta
Dengan tangannya yang gaib
Dia mengembangkan nafas
Bersamaan menggerakkan ombak
Memekarkan bunga tiap pagi
Nafas, ombak, bunga
Tunggal dalam kesatuan
Satu dalam tunggal
Ketika sesak semakin menghimpit
Bukankah ini rindu yang kau harap
Segala yang menghimpit
Semua yang mohon diri
Adalah dari cinta kasat mata
Ditopangnya langit
Disangganya tulang belulang
Di seluruh semesta ini
(Tepi Masa, 2015)