Kamis, Oktober 1

Nafas dan Kehidupan


aku terbalut lamunan, dug.. dug.. dug.. aku mendengar detak jantungku.
.....aku merasakan nafas mendekap di dadaku
..saat dadaku mengembang aku merasakan aliran udara mengisi tiap ceruk dalam paru-paruku; mekar!
..kemudian saat nafas ini begitu menghimpit, aku kembali menyadari bahwa udara dalam dadaku merangkak keluar..

lamunan kembali mengunjungiku..

seketika aku merasakan bahwa nafas telah mengajarkanku tentang rahasia kehidupan,,
banyak orang tua dahulu mengatakan bahwa hakikat hidup itu nafas, namun sekarang nafas mengajariku lebih dalam ikhwalnya..
segala yang terkembang dan mekar layaknya nafas, itu adalah Cinta..
dengan tangan-tangannya yang ghaib, ia mengembangkan nafas, ia menggiring ombak-ombak, ia pula yang memekarkan pagi..
Cinta, adalah ikhwal memberikan segala daya, segala kebahagiaan, segala panasnya yang menghidupkan..
Cinta adalah ikhwal memberi.. bukan menerima.. menjadi pelayan, bukan menjadi Tuan..

kemudian saat nafas begitu menghimpit dadaku, sesak mendekapku sedemikian erat!
ia berkata padaku, bukankah ini Rindu yang biasa kau rasakan?
mendekap menghimpit dan membuat sesak relung-relung jiwamu??

aku terdiam..

nafas sekali lagi memberiku pengetahuan ikhwalnya..

segala yang menghimpit, segala yang menyesakkan, segala yang mohon diri, segala yang dingin: adalah ikhwal kerinduan
nafas yang menyesak, ombak yang pamit dari hadirat pantai, malam yang dingin.. semua menceritakan ikhwal kerinduan..

nafas, hari, samudra.. itu hanya sebahagian yang dapat aku ceritakan tentang Cinta dan Rindu..

Cinta dan Rindu adalah pilar-pilar kasat yang menopang langit-langit.. yang menyangga tulang-belulang..
yang membangun semesta.. yang membangun aku kau kita.. segala..

1 komentar:

  1. Lamunan membalutku
    Dug... dug... dug..
    Jantung semakin berdetak
    Semakin kudengar degupannya

    Nafas mendekapi dada
    Dada terkembang
    Udara menerobos masuk
    Mengisi tiap ceruk paru-paruku

    Nafas mengajariku kehidupan
    Kehidupan adalah nafas
    Tapi nafas lebih dalam ikhwalnya
    Dari kehidupan itu sendiri

    Nafas adalah ibarat cinta
    Dengan tangannya yang gaib
    Dia mengembangkan nafas
    Bersamaan menggerakkan ombak
    Memekarkan bunga tiap pagi

    Nafas, ombak, bunga
    Tunggal dalam kesatuan
    Satu dalam tunggal
    Ketika sesak semakin menghimpit
    Bukankah ini rindu yang kau harap

    Segala yang menghimpit
    Semua yang mohon diri
    Adalah dari cinta kasat mata
    Ditopangnya langit
    Disangganya tulang belulang
    Di seluruh semesta ini

    (Tepi Masa, 2015)

    BalasHapus