oleh: aji dwi prasetyo
untuk apa kau menitihkan tangis?
Malam masih panjang untuk kau ratapi,
biarkan bulan yang tak kunjung datang itu asyik bergumul diatas sana.
Tak perlu menantinya, kawan.
Kau tak lihat?
Semenjak tadi aku menemanimu, mengusap langitmu,
ah,mungkin memang terlampau sulit.
Melihat matamu sendiri.
Jadi, biarkan aku saja melihat matamu,
dan mataku menjadi matamu
jika kau biarkan aku menyelami matamu,
hingga ke dasar hatimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar