Jumat, Februari 25

Cinta! (..Fana ul Fana...)





.....aku menyentuhmu-engkau menyentuhku; segalanya musnah!

Ketika semua hal diperjual-belikan. Kemanakah manusia?

Ketika semua hal diperjual-belikan. Kemanakah manusia?




Nafasku berjalan lebih panjang dari biasanya, aku tengah melewati pusat perbelanjaan di sebuah kota kecil di pinggiran jakarta. Mataku melihat berbagai macam benda-benda yang berderet berbaris menunggu “tuannya” untuk segera dibawa pulang. Benda-benda itu dipertukarkan dengan sejumlah uang kepada seorang yang menjual benda-benda tersebut.



Ya, saya berfikir bahwa suatu ketika segala hal sudah tak lagi dapat dibagikan, ketika manusia sudah tak lagi mengenal arti kata berbagi dan kata berbagi sudah dihapuskan dalam semua kamus bahasa dalam kebudayaan manapun.

Manusia memperjual-belikan nafas, memperjual-belikan ginjal, jantung, kaki, anak, dan segala hal yang ada dalam semesta mereka; sampai-sampai mereka memperjual-belikan kasih sayang yang mereka miliki.

Mereka telah menghabisi saya, memukul saya dengan telak!



Saat mereka berlomba-lomba untuk memperjual-belikan semua yang ada, bukan semua yang mereka miliki; mereka akan saling membunuh hanya untuk sebuah hal. Mereka akan saling caci.. jika hal itu belum terjadi, paling tidak mereka telah memukuli saya dengan apa yang telah mereka lakukan.





Di tengah hingar bingar mereka memperjual-belikan apa yang ada pada mereka, saya menemukan seorang pengemis yang duduk di sesudut jalan. Menengadahkan sebuah cawan di depan wajah mereka. apa yang mereka coba lakukan? Tidak! jangan sekali-kali berfikir mereka menjual kemiskinan atau nasib yang kalian anggap nasib malang! Dalam cawan mereka tidak ada tag-price yang biasa terpampang di barang-barang dagangan! Tidak juga di kening mereka..



Mereka hanya ingin membagikan pelajaran tentang berbagi! Mereka tak pernah menuntuk untuk seseorang mengasihani mereka, membayarnya dengan sekilo beras atau susu untuk anak mereka minum!



Mereka berbagi tentang apa itu berbagi, disaat semua orang berlomba-lomba untuk memperjual-belikan diri mereka sendiri.. orang ini telah mengajari kita ditengah sorotan surya yang menguliti kita dengan panasnya! Orang ini telah membagikan lautan ilmu bagaimana kita harus menjadi manusia! Bukan manusia yang Egois hanya mementingkan diri sendiri,..



Mereka mengajarkan pada kita apa itu manusia.. dengan cara berbagi.. bukan dengan sekeping uang atau selembar cek! Tapi dengan mempertanyakan ulang apa itu manusia? Yang telah dicipta berjuta abad lalu tak sendiri.. tapi bersama, menjadi manusia yang seutuhnya…



Barang-kali mereka yang akan memelihara kitab-kitab tentang berbagi dan kitab tentang manusia, ketika semua orang telah mencampakkannya..



Barangkali mereka akan terus berbagi tentang apa yang mereka suguhkan padaku sebuah pelajaran disenja ini..



barangkali aku juga bisa membagi kisah tentang pengemis, tentang malam, tentang cinta…





Salam cinta..

senja di-Depok, 25 february 2010

Rabu, Februari 23

TAPI

Oleh : Sutardji Calzoum Bachri



aku bawakan bunga padamu

tapi kau bilang masih

aku bawakan resahku padamu

tapi kau bilang hanya

aku bawakan darahku padamu

tapi kau bilang cuma

aku bawakan mimpiku padamu

tapi kau bilang meski

aku bawakan dukaku padamu

tapi kau bilang tapi

aku bawakan mayatku padamu

tapi kau bilang hampir

aku bawakan arwahku padamu

tapi kau bilang kalau

tanpa apa aku datang padamu

wah !



Memahami Puisi, 1995 Mursal Esten

3 Cahaya Penciptaan

3 Cahaya Penciptaan






Rajabun Shahr (bulan) Allah, Shaban shahr (bulan) an-Nabi dan Ramadan membuka shahr (bulan) al-ummah.



Rahasia tiga Bacaan Surah Ya-Seen [36] dan Allah mengkaruniakan kita rahasia kehidupan, wa laqad karamna bani Adam (as).



Qalbu Ilahiyyah menghendaki dikenal. Kenikmatan (karamah) Rajab harus dibebaskan dari mediasi apapun yang diciptakan (ciptaan). Yaitu, belum satupun ciptaan diperagakan dalam samudera penciptaan. Tak satu malaikatpun dan tak satu ciptaanpun akan memberikan kita karunia seperti itu. Itu adalah rahasia Qalbu Ilahiyyah yang bergerak dalam bulan Rajab dan dari ciptaan cahaya tersebut, yang bergerak dalam bulan Rajab. Kita membaca Surah Ya-Seen pertama untuk hakikat qalbu itu dan membaca tiga Surat al-Ikhlas yang pertama, yang adalah dari Qalbu Ilhiyyah itu. Ini adalah kecenderungan dari Ilahiyyah untuk menciptakan ciptaan.



Sekali kehendak itu dimulai, kegiatan peragaan penciptaan Ilahiyyah itu terjadilah.



Ya-Seen yang berikutnya (kedua) adalah untuk shahr (bulan) Shaban.



Rajab adalah cahaya La ilaha ila-Allah

& Muhammadan RasulAllah adalah untuk Shaban.



Itu adalah ash-Shafi.

Rahasia Shaban terkait dengan rahasia Nabi s.a.w.. Jika bukan untuk Muhammad RasulAllah samudera itu tidak akan diadakan. Al Ikhlas kedua dalam wirid kita terkait dengan Penciptaan Cahaya Keberadaan (Existence) Khusus (Unique) itu atau (Cahaya) Ahadiyya [Kekhususan = Uniqueness]. Cahaya itu adalah sumber awal mula semua cahaya dan khusus (unique) karena itu datang dari Hadhirat Ilahiyyah. Warna apapun lainnya dalam spektrum cahaya itu adalah dari situ.



Samadiyya [Self Sustaining = Mencukupi Sendiri] adalah Cahaya yang secara langsung datang dari Hadhirat Ilahiyyah. Kamu tidak dapat memberikan itu sebagai catu atau memberinya asupan, makanya itu diterima langsung dari Hadhirat Ilahiyyah.



Cahaya Shaban muncul dari Cahaya Nabi [s.a.w.].

Ketika kamu menuliskan Kalima (Shahadat), pentingnya nisf Shaban adalah di tengah tengah yang disebut "qaaba qawsayni aw adna". Yang jaraknya adalah Dua Busur atau lebih dekat. Titik itu di mana dua titik (garis?) bersilang adalah tahun baru ruhaniah (spiritual) dan itu adalah tempat dari mana cahaya kita datang ke dalam kehadiran. Apapun yang menyandang (didandani dengan) cahaya itu mendatangi titik itu dan dihiasi pada saat tertentu itu. Hanya Allah mengkaruniakan atau menghiaskan cahaya seperti itu dan adalah sumber asal mula cahaya kalian. Pada saat (titik) itulah Dia menetapkan asupan/rezeki apakah yang akan diterima ruhaniahmu dalam tahun itu.







Pada saat bulan Ramadan lah cahaya itu terlahir. Itu adalah bulan ke sembilan dalam penanggalan rembulan.



Pentingnya (angka) sembilan dan manifestasi/keberadaan muncul dalam bulan itu. Ramadan adalah bulan di mana cahaya kita dilahirkan. Seperti pertumbuhan jabang bayi di dalam rahim ibunya [Rhem]. Manifestasi dari cahaya Nabi [s.a.w.] itu dilahirkan dan rezekinya ditetapkan dan diberikan keberadaan (existence).









3 Qalbu itu:

* 1 –Qalbu Ilahiyyah yang tak dapat dicapai oleh siapapun dan adalah asal mula sumber api, cinta dan intuisi. Itu adalah loncatan api yang mengawali (originating spark) dan qalbu ilahiyyah ini hanya terdapat di dalam qalbu kedua.

* 2 –Qalbu Sayyidina Muhammad (s.a.w.). Quloob al-Muhammadiyya dan jantung (qalbu) ciptaan. Ini adalah Wadah semua kekuatan/kuasa di dalam alam semesta yang kita kenal ini

Wa laqad karamna bani Adam (as).

Alasan kita mempelajari qalbu ini bukanlah untuk Kebendaan (cosmos) namun adalah didasarkan pada qalbu adalah kehadiran Sang Ilahi.

* 3 – Qalbu Adam (as). Kamu adalah satu satunya ciptaan yang diberi qalbu itu karena itu adalah sebuah cerminan/refleksi dari qalbu Kenabian dan hanya dari qalbu inilah kamu dapat mencapai kepada anugerah Allah. Bukalah qalbu itu, masuklah ke dalamnya dan bercerminlah. Itu adalah qalbu Sayyidina Muhammad (s.a.w.). Kamu jangan mengarahkan ke pada sebarang arah atau berfokus kepada apapun selain qalbu yang satu itu. Arahlan telescope mu kepada arah itu sehingga Kabah mu adalah qalbumu. Jika kamu datang untuk maksud ini dan membebaskan Mecca dengan menghancurkan 360 patung patung itu, kamu sedang mengikuti/meniru marifah Nabi s.a.w.dan Dia akan membawamu ke Hadhirat Ilahiyyah.



Contoh Nabi kepada kita :

1. Tinggal di Mecca, yakni "Kehendak Qalbu mu "
2. Harus meninggalkan Mecca, yakni "Kehendak Qalbu mu "
3. Bergerak menuju Medina Al Munawira "Kota Cahaya "
4. Peperangan besar untuk menyelamatkan kamu dari Neraka dan kemudian kamu boleh kembali ke Mecca.
5. Mecca "Qalbu kini sepenuhnya berisi Cinta Ilahiyyah " dan kamu memusnahkan patung/berhala itu. Kamu membuat qalbumu dan tubuhmu sebagai sebuah Masjid, atau sebuah tempat untuk pemujaan. Itu sama sekali murni dan disucikan bagi Tuhan mu dan terbebaskan dari segala kekotoran dan berhala.



Kamu memiliki 360 berhala, satu di setiap titik dalam tubuh kamu. Setiap titik dari 360 Lataifs/ Chakras memiliki sebuah keburukan yang bercokol di situ, menjaga dan mencegahnya dari berserah diri kepada Hadhirat Ilahiyyah. Melalui focus kepada Shaykh dan dengan meditasi dan praktek spiritual, akan menjadi lebih mudahlah untuk mengikuti contoh Nabi Suci s.a.w..



Kemudian tiga berhala besar terakhir harus disingkirkan. Ini adalah Tiga Jammarat [pelemparan batu kepada Iblis dalam Hajj] dan dengan proses yang sama dalam laku (amal) spiritual mu. Ketika kamu mencoba membuka qalbumu, dengan Muraqabah, Shaykh menyingkirkan semua keburukan pada Lataif / chakras tersebut dan membuat mereka berserah diri kepada Hadhirat Ilahiyyah. Apabila kita praktek lebih banyak lagi dan lagi dalam cara/jalan nya (Shaykh), adalah cahaya dan bimbingannyalah yang dapat menyingkirkan berhala berhala ini.



Untuk mencapai hal ini kita harus berada dalam Muraqabah kepada Shaykh.

Kita harus membuka kunci gembok telinga,

Membuka kunci gembok qalbu,

dan menyingkirkan tabir di hadapan mata kita.



Itulah sebabnya mengapa huruf Arabic Sheen adalah untuk Arsh [ Mahligai Ilahiyyah] memiliki tiga titik di atasnya; mereka (menyimbulkan) tiga gembok. Maksud praktek spiritual adalah untuk membuka ketiga gembok pada qalbu itu untuk mencapai Qalbu Ilahiyyah melalui Qalbu Nabi s.a.w.. Cahaya ini bergerak dari Rajab ke Shaban ke Ramadan.



Inilah pentingnya wirid yang kita amalkan. Wirid Sayyidina Ali [as] untuk menamatkan al Quran adalah wirid Naqshbandiyya. Itu adalah pemenuhan pembacaan al Quran dengan semua rahasianya. Niat untuk membaca wirid itu pada niat Shaykhs.



Tiga Surat al-Ikhlas berkaitan dengan haqiqat itu.

Rahasia angka 3. Kita memiliki 1 dan kemudian kita memiliki 2 yang adalah cerminan dari 1.

2 + 1 adalah tiga.

Tiga – dari padanya segala sesuatu (semua) dilahirkan. Cahaya Allah, Cahaya Nabi s.a.w., dan Cahaya Ciptaan.





Satu adalah Ahad atau Ke Esa an Khas (Unique Oneness).

Satu adalah Ke Esa an Wahid.

Satu adalah Esensi (Dzat) dan Wahid adalah cerminan dari Ahad.

Satu – Allah.

Ciptaan adalah dari “satu” yang lain, yaitu Wahid.

Dari satu dan dua seluruh ciptaan dilahirkan.



Maka segala sesuatu dilahirkan dari tiga. 3+1=4, …3+6=9



Rahasia Ruh & Cahaya terletak di dalam pemahaman terhadap 3.





3 + 1 = 4

Bentuk diberikan. Empat elemen / unsur yang menyusun bentuk itu.



3 + 2 = 5

Lima indera, yang kamu gunakan untuk menemukan Tuhan mu, pendengaran, penglihatan, perabaan, penciuman dan cita rasa.



3 + 3 = 6

Kamu adalah cerminan dari ruh Ilahiyyah jadi 6, al-Wadud. Ciptaan ini dilahirkan dari cinta. HabibAllah, dari cinta Allah (ishk), datanglah Muhammad (s) dari Cinta (ishk) nya datanglah semua ciptaan lainnya



3 + 4= 7

Petunjuk, khalipha (al-Hadi), melahirkan pentingnya tujuh. Tujuh bukaan suci, tujuh level atom. 2 telinga, 2 mata, 2 lubang hidung satu mulut. Ruh dan Bentuk telah tercipta dan sebuah Bimbingan (Manual) dilahirkan. Kehormatan dari penciptaan kita dan pentingnya Kekhalifahan. Tiga lubang ini menghirup udara dan empat lubang lainnya adalah dua telinga dan dua mata, segi (aspek) pendengaran dan penglihatan ciptaan.



3 + 5= 8

Ruh dengan rahasia kehidupan selalu Hidup (al-Hayat), Tawaf Kehidupan abadi. Ketika kita terlahir, kita mati dan ketika kita mati kita terlahir ke dalam Haqiqat baru. Setiap Akhir adalah Kelahiran (Awal) dari Haqiqat Baru. Haqiqat saling berlawanan. Allah adalah tak berhingga dan penciptaan adalah sebuah tawaf (siklus) yang abadi. Ya Da’im Ya Da’im menggambarkan perjalanan abadi. Kita selalu memohon untuk mengalami sebuah perjalanan yang bagus.





3 + 6= 9

3 + 6 [wadud] Jiwa yang membuka Rahasia Cinta Ilahiyyah dan membuka kekuatan/kuasa dari 9 yang adalah otoritas/wewenang tertinggi. 9 adalah Sang Sultan, Sang Raja, Abdullah. Penyerahan diri yang sempurna adalah disebabkan oleh angka 9, jadi (itu) adalah Qalbu al Quran, Surah 36 Ya-Seen, yang nampak dalam cermin/refleksi



Setiap kali kita membaca 11 kali Surat al-Ikhlas, itu berhubungan dengan rahasia itu dari cermin/refleksi Ciptaan; Dzat Allah merefleksi pada Muhammad [s.a.w.], sang Abdi.



3 kekuatan dari Tiga Cahaya Suci.

Tujuh terkait kepada Hadi atau kesempurnaan jiwa dan kesempurnaan bentuk kita.

Kemudian ciptaan sempurna ini menjadi sebuah tuntunan (manual) bagi semua ciptaan.

Kemudian kita membaca tujuh kali Surat al-Inshirah itu adalah untuk tujuh lubang (bukaan).

Yakni, pembukaan dari tujuh lubang di muka dan tujuh levels jantung/qalbu.

walau

Oleh : Sutardji Calzoum Bachri



Walau penyair besar
takkan sampai sebatas allah

dulu pernah kuminta tuhan dalam diri sekarang tak

kalau mati mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat

jiwa membumbung dalam bait-bait sajak!

tujuh puncak mendulang-dulang

nyeri hari mengucap-ucap

di butir pasir kutulis
rindu rindu


walau huruf habislah sudah


alif bataku belum sebatas allah



Memahami Puisi, 1995 Mursal Esten

Our Beloved Maulana Syaikh Nazim Adil Al-Haqqan

BismillahirRahmanirRahim







Perjalanan Spiritual

Mawlana Shaykh

Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani



Dari buku : The Naqshbandi Sufi Way, History….

Oleh : Syaikh Muhammad Hisham Kabbani, 1995





Beliau dilahirkan di Larnaca, Siprus, pada hari Minggu, tanggal 23 April 1922 – atau 26 Shaban 1340 H. Dari sisi ayah, beliau adalah keturunan Abdul Qadir Jailani, pendiri thariqat Qadiriah. Dari sisi ibunya, beliau adalah keturunan Jalaluddin Rumi, pendiri thariqat Mawlawiyyah, yang juga merupakan keturunan Hassan-Hussein (as ) cucu Nabi Muhammad saw. Selama masa kanak-kanak di Siprus, beliau selalu duduk bersama kakeknya, salah seorang syaikh thariqat Qadiriah untuk belajar spiritualitas dan disiplin. Tanda-tanda luar biasa telah nampak pada syaikh Nazim kecil, tingkah lakunya sempurna. Tidak pernah berselisih dengan siapapun, beliau selalu tersenyum dan sabar. Kedua kakek dari pihak ayah dan ibunya melatih beliau pada jalan spiritual.



Ketika remaja, Shaykh Nazim sangat diperhitungkan karena tingkat spiritualnya yang tinggi. Setiap orang di Larnaca mengenal beliau, karena dengan umur yang masih amat muda mampu menasihati orang-orang, meramal masa depan dan dengan spontan membukanya. Sejak umur 5 tahun sering ibundanya mencarinya, dan didapati beliau sedang berada didalam masjid atau di makam Umm Hiram, salah satu sahabat Nabi Muhammad (saw) yang berada di sebelah masjid. Banyak sekali turis mendatangi makam tersebut karena tertarik akan pemandangan sebuah batu yang tergantung diatas makam itu.



Ketika sang ibu mengajaknya pulang, beliau mengatakan :

” Biarkan aku disini dengan Umm Hiram, beliau adalah leluhur kita.”

Biasanya terlihat syaikh Nazim sedang berbicara, mendengarkan dan menjawab seperti berdialog dengannya. Bila ada yang mengusiknya, beliau katakan :

“ Biarkan aku berdialog dengan nenekku yang ada di makam ini.”



Ayahnya mengirim beliau ke sekolah umum pada siang hari dan sorenya belajar ilmu-ilmu agama. Beliau seorang yang jenius diantara teman-temannya. Setelah tamat sekolah ( setara SMU ) syaikh Nazim menghabiskan malam harinya untuk mempelajari thariqat Mawlawiyyah dan Qadiriah. Beliau mempelajari ilmu Shariah, Fiqih, ilmu tradisi, ilmu logika dan Tafsir Qur’an. Beliau mampu memberikan penjelasan hukum tentang masalah-masalah Islam secara luas. Beliau juga mampu berbicara bagi orang-orang dari segala tingkatan spiritual. Beliau di beri kemampuan untuk menjelaskan masalah-masalah yang sulit dalam bahasa yang jelas dan mudah.



Setelah tamat SMA di Siprus, syaikh Nazim pindah ke Istambul pada tahun 1359 H / 1940, dimana kedua saudara laki-laki dan seorang saudara perempuannya tinggal. Beliau belajar tehnik kimia di Universitas Istambul, di daerah Bayazid. Pada saat yang sama beliau memperdalam hukum Islam dan bahasa Arab pada guru beliau, syaikh Jamaluddin al-Lasuni, yang meninggal pada th 1375 H / 1955 M. Shaykh Nazim meraih gelar sarjana pada tehnik kimia dengan hasil memuaskan dibanding teman-temannya. Ketika Professor di universitasnya memberi saran agar melakukan penelitian, beliau katakan,” Saya tidak tertarik dengan ilmu modern. Hati saya selalu tertarik pada ilmu-ilmu spiritual.”



Selama tahun pertama di Istambul, beliau bertemu dengan guru spiritual pertamanya, Shaykh Sulayman Arzurumi, seorang syaikh dari thariqat Naqsybandi yang meninggal pada th. 1368 H / 1948 M. Sambil kuliah syaikh Nazim belajar pada beliau sebagai tambahan dari ilmu thariqat yang telah dimilikinya yaitu Mawlawiyyah dan Qadiriah. Biasanya beliau akan terlihat di masjid sultan Ahmad, bertafakur sepanjang malam. Syaikh Nazim menuturkan :



“Disana aku menerima barakah dan kedamaian hati yang luar biasa. Aku shalat subuh bersama kedua guruku, Shaykh Sulayman Arzurumi dan shaykh Jamaluddin al-Lasuni. Mereka mengajariku dan meletakkan ilmu spiritual dalam hatiku. Aku mendapat banyak penglihatan spiritual agar pergi menuju Damaskus, tapi hal itu belum diizinkan. Sering aku melihat Nabi Muhammad memanggilku menuju ke hadapannya. Ada hasrat yang mendalam agar aku meninggalkan segalanya dan untuk pindah menuju kota suci Nabi.



Suatu hari ketika hasrat hati ini semakin kuat, aku diberi “penglihatan” itu. Guruku , Shaykh Sulayman Arzurumi datang dan menepuk pundakku sambil mengatakan,’Sekarang sudah turun izin. Rahasia-rahasia, amanat, dan ajaran spiritualmu bukan ada padaku. Aku menahanmu karena amanat sampai engkau siap bertemu dengan guru sejatimu yang juga guruku sendiri yaitu Syaikh Abdullah ad-Daghestani. Beliau pemegang kunci-kuncimu. Temui beliau di Damaskus. Izin ini datang dariku dan berasal dari Nabi.’ ( Shaykh Sulayman Arzurumi adalah salah satu dari 313 awliya thariqat Naqsybandi yang mewakili 313 utusan. )



Bayangan itupun berakhir. Aku mencari guruku untuk menceritakan pengalaman itu. Dua jam kemudian aku melihat syaikh menuju masjid, aku berlari menghampirinya. Beliau membuka kedua tangannya dan berkata,

” Anakku, bahagiakah engkau dengan penglihatan itu ?” Aku sadar bahwa beliau juga telah mengetahui segalanya. “Jangan tunggu lagi, segera berangkat ke Damaskus.” Beliau bahkan tidak memberiku alamat atau informasi lain, kecuali sebuah nama : Syaikh Abdullah ad-Daghestani di Damaskus.



Dari Istambul ke Aleppo aku naik kereta. Selama perjalanan aku masuk dari satu masjid ke masjid lain, shalat, duduk dengan para ulama dan menghabiskan waktu untuk ibadah dan tafakur.



Kemudian aku menuju Hama, kota kuno mirip Aleppo. Aku berusaha untuk langsung menuju Damaskus, namun mustahil. Perancis yang saat itu menduduki Damaskus sedang mempersiapkan diri akan serangan pihak Inggris. Jadi aku pergi ke Homs dimana ada makam Khalid bin walid, sahabat Nabi. Ketika aku memasuki masjid untuk shalat, seorang pelayan mendatangiku dan mengatakan :

‘ Aku bermimpi tadi malam, Nabi mendatangiku. Beliau mengatakan : “Salah satu cucuku akan datang esok hari. Jagalah dia demi aku.” Beliau memberi petunjuk bagaimana ciri-ciri cucu beliau yang sekarang aku lihat semuanya ada pada dirimu.’



Dia memberiku sebuah kamar didalam masjid itu dimana aku menetap selama setahun. Aku tidak pernah keluar kecuali untuk shalat dan duduk ditemani 2 ulama Homs yang mumpuni, mereka mengajar bacaan Al-Qur’an, tafsir, fiqih dan tradisi-tradisi Islam. Mereka adalah Shaykh Muhammad Ali Uyun as-Sud dan shaykh Abdul Aziz Uyun as-Sud. Disana, aku juga mengikuti pelajaran-pelajaran dari dua syaikh Naqsybandi, Shaykh Abdul Jalil Murad dan Shaykh Said as-Suba’i. Hatiku semakin menggebu untuk segera tiba di Damaskus, namun karena perang masih berkecamuk maka kuputuskan untuk menuju Tripoli di Lebanon, dari sana menuju Beirut lalu ke Damaskus lewat jalur yang lebih aman.



Pada tahun 1364 AH / 1944 M, Syaikh Nazim pergi ke Tripoli dengan bis. Bis ini membawa beliau sampai ke pelabuhan yang masih asing, dan tidak seorangpun dikenalnya. Ketika berjalan mengelilingi pelabuhan, beliau melihat seseorang dari arah berlawanan. Orang itu adalah Mufti Tripoli yang bernama Shaykh Munir al-Malek. Beliau juga merupakan shaykh atas semua thariqat sufi di kota itu.

“ Apakah kamu shaykh Nazim ? aku bermimpi dimana Nabi mengatakan, ‘Salah satu cucuku tiba di Tripoli.’ Beliau tunjukkan gambaran sosokmu dan menyuruhku mencarimu di kawasan ini. Nabi menyuruhku agar menjagamu. “



Syaikh Nazim memaparkan hal ini :



Aku tinggal dengan syaikh Munir al-Malek selama sebulan. Beliau mengatur perjalananku menuju Homs untuk kemudian dilanjutkan ke Damaskus. Aku tiba di Damaskus pada hari Jum’at th. 1365 H / 1945 awal tahun Hijriah. Aku tahu bahwa Syaikh Abdullah ad-Daghestani tinggal di wilayah Hayy al-Maidan, dekat dengan makam Bilal al-Habashi dan banyak keturunan dari keluarga Nabi. Sebuah daerah kuno yang penuh dengan monumen-monumen bersejarah.



Akupun tidak tahu yang mana rumah syaikh Abdullah. Sebuah penglihatan datang ketika aku berdiri di pinggir jalan; syaikh keluar dari rumahnya dan memanggilku untuk masuk. Penglihatan itu segera lenyap, dan tetap tak kulihat siapapun di jalanan. Keadaan tampak senyap akibat invasi orang-orang Perancis dan Inggris. Penduduk ketakutan dan bersembunyi didalam rumah masing-masing. Aku sendirian dan mulai berkontemplasi didalam hati untuk mengetahui yang mana rumah syaikh Abdullah. Sekilas gambaran itu muncul, sebuah rumah dengan sebuah pintu yang spesifik. Aku berusaha mencari sampai akhirnya ketemu. Ketika akan kuketuk, syaikh membuka pintu rumah menyambutku, ” Selamat datang anakku, Nazim Effendi.”



Penampilannya yang tidak biasa segera menarik hatiku. Tidak pernah aku bertemu dengan syaikh yang seperti itu sebelumnya. Cahaya terpancar dari wajah dan keningnya. Kehangatan yang berasal dari dalam hatinya dan dari senyuman di wajahnya. Beliau mengajakku ke lantai atas dengan menaiki tangga didalam kamar beliau , “ Kami sudah menunggumu.”



Didalam hati, aku sangat bahagia bersamanya, namun masih ada hasrat untuk mengunjungi kota Nabi. Aku bertanya pada beliau,

” Apa yang harus kulakukan ?” Beliau menjawab,” Besok akan aku beri jawaban, sekarang waktumu untuk istirahat !” Beliau menawari makan malam lalu kami shalat Isya berjamaah, kemudian tidur.



Pagi-pagi sekali beliau membangunkan aku untuk melakukan shalat. Tidak pernah aku merasakan kekuatan luar biasa seperti cara beliau beribadah. Aku merasa sedang berada dihadapan Ilahi dan hatiku semakin tertarik akan beliau. Kembali sebuah ‘penglihatan’ terlintas. Aku melihat diriku sendiri menaiki sebuah tangga dari tempat kami shalat menuju ke Bayt al-Mamur, Ka’bah surgawi, setingkat demi setingkat. Setiap tingkat yang kulalui adalah maqam yang diberikan syaikh kepadaku. Di setiap maqam aku menerima pengetahuan didalam hatiku yang sebelumnya tidak pernah aku dengar ataupun aku pelajari. Kata-kata, frase, kalimat diletakkan sekaligus dalam cara yang indah, di alirkan menuju ke dalam hatiku, dari maqam ke maqam sampai terangkat menuju Bayt al-Makmur. Disana aku melihat 124.000 (seratus dua puluh empat ribu) Nabi-nabi berbaris melakukan shalat, dan Nabi Muhammad sebagai imamnya.



Aku melihat 124.000 ( seratus dua puluh empat ribu ) sahabat Nabi yang berbaris dibelakang beliau. Aku melihat 7007 ( tujuh ribu tujuh ) awliya thariqat Naqsybandi berdiri dibelakang mereka sedang shalat. Aku juga melihat 124.000 ( seratus dua puluh empat ribu ) awliya thariqat lain berbaris melaksanakan shalat.



Sebuah tempat sengaja disisakan untuk dua orang tepat disebelah Abu Bakr as-Siddiq. Grandsyaikh mengajakku menuju tempat itu dan kamipun shalat subuh. Suatu pengalaman beribadah yang sangat indah. Ketika Nabi memimpin shalat itu, bacaan yang dikumandangkan beliau sungguh syahdu. Tidak ada kata-kata yang mampu melukiskan pengalaman itu, sesuatu yang Ilahiah.



Begitu shalat selesai, penglihatan itupun berakhir, tepat ketika syaikh menyuruhku untuk melakukan adhan subuh. Beliau shalat didepan dan aku dibelakangnya. Dari arah luar aku mendengar suara peperangan antar 2 pihak pasukan tentara. Grandsyaikh segera mem-baiat-ku didalam thariqat Naqsybandi, kata beliau : ‘Anakku, kami punya kekuatan untuk bisa membuat seorang murid mencapai maqamnya dalam waktu sedetik saja.’ Sambil melihat ke arah hatiku, kedua mata beliau berubah dari kuning menjadi merah, lalu berubah putih, kemudian hijau dan akhirnya hitam. Perubahan warna itu berhubungan dengan ilmu-ilmu yang di pancarkan pada hatiku.



Pertama adalah warna kuning yang menunjukkan maqam ‘qalbu’. Beliau alirkan segala jenis pengetahuan eksternal yang diperlukan untuk melaksanakan kehidupan manusia sehari-hari.

Yang kedua adalah maqam ‘rahasia/Sirr’, pengetahuan dari seluruh 40 thariqat yang berasal dari Ali bin Abi Talib. Aku rasakan diriku menjadi pakar dalam seluruh thariqat-thariqat ini. Mata beliau berubah warna menjadi merah saat hal ini terjadi. Tahap yang ketiga adalah tingkatan ‘Sirr as Sirr’ yang hanya diizinkan bagi para syaikh Naqsybandi dengan imamnya Abu Bakr. Saat itu mata grandsyaikh telah berubah menjadi putih.

Maqam keempat yaitu ‘pengetahuan spiritual tersembunyi / khafa’ dimana saat itu mata beliau berubah warna menjadi hijau.

Terakhir adalah tahap akhfa, maqam yang paling rahasia dimana tak ada apapun yang nampak disana. Mata beliau berubah menjadi hitam, dan disinilah beliau mengantarku menuju Hadirat Allah. Kemudian grandsyaikh mengembalikan aku lagi pada eksistensiku semula.



Rasa cintaku pada grandsyaikh begitu meluap, sehingga tidak terbayangkan bila harus berjauhan dengannya. Aku tak menginginkan apapun kecuali agar bisa berdekatan dan melayani beliau selamanya. Namun perasaan damai itu terasa disambar oleh petir, badai dan tornado. Ujian yang sungguh luar biasa dan membuatku putus asa ketika kemudian beliau mengatakan :

‘Anakku, orang-orangmu membutuhkanmu. Aku telah cukup memberimu untuk saat ini. Pergilah ke Siprus hari ini juga.’

Aku jalani satu setengah tahun agar bisa bertemu dengan beliau. Aku lewatkan satu malam bersama beliau . Kini beliau memintaku untuk kembali ke Siprus, sebuah tempat yang telah kutinggalkan selama 5 tahun. Perintah yang amat mengerikan bagiku, namun dalam thariqat sufi, seorang murid harus menyerah pada kehendak syaikh-nya. Setelah mencium tangan dan kaki beliau sambil meminta izin, aku mencoba menemukan jalan menuju Siprus.



Perang Dunia II akan segera berakhir dan sama sekali tidak ada sarana transportasi. Ketika aku sedang memikirkan jalan keluarnya, seseorang menghampiriku, ‘Syaikh, anda butuh tumpangan ?’

‘Ya ! kemana tujuan anda ?’ aku balik bertanya.

‘Ke Tripoli.’ jawabnya. Kemudian dengan truknya, setelah 2 hari perjalanan, kamipun sampai di Tripoli. ‘Antarkan aku sampai pelabuhan.’ kataku

‘Buat apa ?’

‘Agar bisa naik kapal ke Siprus.’

‘Bagaimana bisa ? tak ada yang bepergian lewat laut saat perang seperti ini.’

‘Tidak apa-apa. Antarkan aku kesana.’

Ketika dia menurunkanku di pelabuhan, aku kembali terkejut ketika syaikh Munir al-Malek menghampiriku. Kata beliau : ‘ Cinta macam apakah yang dimiliki kakekmu padamu ? Nabi datang lagi lewat mimpiku dan mengatakan – ‘ Cucuku, si Nazim akan segera tiba, jagalah dia.’ -



Aku tinggal bersama syaikh Munir selama 3 hari. Aku memintanya untuk mengatur perjalananku sampai ke Siprus. Beliau telah berusaha, namun karena keadaan perang dan minimnya bahan bakar maka hal itu sangat mustahil. Akhirnya hanya ada sebuah perahu. ‘Kamu bisa pergi, tapi amat berbahaya !’ kata syaikh Munir.

‘Tapi aku harus pergi, ini adalah perintah syaikh-ku.’

Syaikh Munir membayar sejumlah besar uang pada pemilik perahu untuk membawaku. Kami berlayar selama 7 hari agar sampai ke Siprus, yang normalnya hanya memakan waktu 2 hari saja dengan perahu motor. Segera setelah sampai di daratan Siprus, penglihatan spiritual terlintas dalam hatiku.



Aku merasa Grandsyaikh Abdullah ad-Daghestani mengatakan padaku,

‘Oh anakku, tidak seorangpun mampu menahanmu membawa amanatku. Engkau telah banyak mendengar dan menerima. Mulai detik ini aku akan selalu dapat terlihat olehmu. Setiap engkau arahkan hatimu padaku, aku akan selalu berada disana. Segala pertanyaan yang engkau ajukan akan dijawab langsung, berasal dari hadirat Ilahi. Segala tingkatan spiritual yang ingin engkau capai, akan dianugerahkan kepadamu karena penyerahan totalmu. Semua awliya puas denganmu, Nabipun bahagia akan dirimu.’

Ketika hal itu terjadi, aku merasakan syaikh ada disisiku dan sejak saat itu beliau tidak pernah meninggalkanku. Beliau selalu berada di sampingku.



Syaikh Nazim mulai menyebarkan bimbingan spiritual dan mengajar agama Islam di Siprus. Banyak murid-murid yang mendatangi beliau dan menerima thariqat Naqsybandi. Namun sayang, waktu itu semua agama dilarang di Turki dan karena beliau berada di dalam komunitas orang-orang Turki di Siprus, agamapun juga dilarang disana. Bahkan mengumandangkan adhanpun tidak diperbolehkan.



Langkah beliau yang pertama adalah menuju masjid di tempat kelahirannya dan mengumandangkan adhan disana, segera beliau dimasukkan penjara selama seminggu. Begitu dibebaskan, syaikh Nazim pergi menuju masjid besar di Nicosia dan melakukan adhan di menaranya. Hal itu membuat para pejabat marah dan beliau dituntut atas pelanggaran hukum. Sambil menunggu sidang, syaikh Nazim terus mengumandangkan adhan di menara-menara masjid seluruh Nicosia. Sehingga tuntutanpun terus bertambah, ada 114 kasus yang menunggu beliau. Pengacara menasihati beliau agar berhenti melakukan adhan, namun syaikh Nazim mengatakan : “ Tidak, aku tidak bisa. Orang-orang harus mendengar panggilan untuk shalat.”



Hari persidangan tiba. Jika tuntutan 114 kasus itu terbukti, beliau bisa dihukum 100 tahun penjara. Pada hari yang sama hasil pemilu diumumkan di Turki. Seorang laki-laki bernama Adnan Menderes dicalonkan untuk berkuasa. Langkah pertama dia ketika terpilih menjadi Presiden adalah membuka seluruh masjid-masjid dan mengijinkan adhan dalam bahasa Arab. Itulah keajaiban syaikh kita.



Selama bertahun-tahun disana, beliau mengadakan perjalanan ke seluruh penjuru Siprus. Beliau juga mengunjungi Lebanon, Mesir, Saudi Arabia dan tempat-tempat lain untuk mengajar thariqat Sufi. Syaikh Nazim kembali ke Damaskus pada th. 1952 ketika beliau menikahi salah satu murid grandsyaikh Abdullah yaitu Hajjah Amina Adil. Sejak saat itu beliau tinggal di Damaskus dan mengunjungi Siprus setiap tahunnya, yaitu selama 3 bulan pada bulan Rajab, Shaban, dan Ramadhan.



Syaikh Nazim dan keluarganya tinggal di Damaskus, dan keluarganya selalu menyertai bila syaikh Nazim pergi ke Siprus. Syaikh Nazim mempunyai dua anak perempuan dan dua anak laki-laki.



Perjalanan Syaikh Nazim



Syaikh Nazim pergi haji setiap tahunnya untuk memimpin kelompok orang-orang Siprus. Beliau melaksanakan ibadah haji sebanyak 27 kali. Beliau menjaga murid-muridnya dan sebagai pengikut grandsyaikh Abdullah.



Suatu saat grandsyaikh mengatakan padanya agar pergi ke Aleppo dari Damaskus dengan berjalan kaki, dan berhenti di setiap desa untuk menyebarkan thariqat Naqsybandi, ajaran sufisme dan ajaran Islam. Jarak antara Damaskus menuju Aleppo sekitar 400 kilometer. Butuh waktu lebih dari satu tahun untuk perjalanan pergi dan kembali. Syaikh Nazim berjalan kaki selama satu atau dua hari. Ketika sampai di sebuah desa, beliau tinggal disana selama seminggu untuk menyebarkan thariqat Naqsybandi, memimpin dzikir, melatih penduduk dan melanjutkan perjalanan beliau sampai ke desa selanjutnya. Nama beliaupun mulai terdengar di setiap lidah orang-orang, mulai dari perbatasan Yordania sampai perbatasan Turki dekat Aleppo.



Hal yang sama diperintahkan dan dijalankan oleh syaikh Nazim agar berjalan kaki ke Siprus. Dari desa satu menuju desa lainnya, menyeru orang agar kembali pada Tuhannya dan meninggalkan segala materialisme, sekularisme dan atheisme.

Beliau amat dicintai diseluruh Siprus, dan masyur dengan sebutan ‘Syaikh Nazim berturban hijau / Syaikh Nazim Yesilbas’ karena turban dan jubahnya yang berwarna hijau.



Beliau sering mengunjungi Lebanon, dimana kami mengenal beliau. Pada th. 1955, aku berada di kantor pamanku, yang menjabat sebagai sekjen urusan agama di Lebanon, sebuah jabatan yang tinggi dalam Pemerintahan. Ketika itu tiba waktunya shalat Ashar dan pamanku, Syaikh Mukhtar Alayli sering shalat di masjid al-Umari al-Kabir di Beirut. Disana ada juga gereja pada masa Umar bin al-Khattab, yang telah berubah menjadi masjid pada masa beliau. Di bawah tanah masjid masih terdapat fondasi gereja. Pamanku menjadi imam dan aku beserta dua saudaraku shalat dibelakang beliau.



Seorang syaikh datang dan shalat disebelah kami. Kemudian orang itu melihat kedua kakakku dan menyebut nama-nama mereka, selanjutnya menoleh ke arahku dan menyebutkan namaku. Kami amat terkejut, karena kami tidak saling mengenal sebelumnya. Pamanku juga tertarik pada beliau. Itulah pertama kali kami bertemu syaikh Nazim. Kakak tertuaku berkeras untuk mengajak syaikh Nazim dan paman untuk menginap di rumah kami.



Syaikh Nazim mengatakan : “ Saya dikirim oleh syaikh Abdullah. Beliau yang mengatakan ‘Setelah shalat ashar nanti, yang ada disebelah kananmu bernama ini dan yang lain bernama ini. Ajaklah mereka masuk thariqat Naqsybandi. Mereka akan menjadi pengikut kita.’ “

Kami masih amat muda dan kagum akan cara beliau mengetahui nama-nama kami.



Sejak saat itu beliau mengunjungi Beirut secara rutin. Kami pergi ke Damaskus setiap Minggunya, dengan cara memohon pada ayah kami agar diizinkan mengunjungi grandsyaikh. Aku dan kakakku menerima banyak pengetahuan spiritual dan menyaksikan kekuatan-kekuatan ajaib yang dialirkan pada hati kami, para pencari.



Rumah Syaikh Nazim tidak pernah sepi dari pengunjung. Sedikitnya seratus orang silih berganti mengunjungi rumah beliau setiap harinya dan dilayani dengan baik. Rumah beliau dekat dengan rumah grandsyaikh di Jabal Qasiyun, sebuah pegunungan yang tampak dari kotanya, disebelah tenggara Damaskus. Rumah semen beliau yang sederhana dengan segala perabot dibuat dari tangan dengan bahan kayu atau bahan-bahan alami lain.



Mulai tahun 1974, beliau mengunjungi Eropa. Dari Siprus menuju London dengan pesawat dan kembalinya mengendarai mobil lewat jalan darat. Beliau melanjutkan pertemuan dengan setiap kalangan masyarakat dari berbagai daerah, bahasa, adat sampai keyakinan yang berbeda-beda. Orang-orang mulai mengucap kalimat Tauhid dan bergabung dengan thariqat sufi dan belajar tentang rahasia-rahasia spiritual dari beliau. Senyum dan wajahnya yang bersinar amat dikenal di seluruh benua Eropa dan disayangi karena membawa cita rasa spiritualitas yang sebenarnya dalam kehidupan masyarakat.



Tahun-tahun selanjutnya, beliau melakukan perjalanan kaki di wilayah negara Turki. Sejak tahun 1978, beliau habiskan tiga sampai empat bulan disetiap daerah di Turki. Dalam setahun beliau bepergian di daerah Istambul, Yalova, Bursa, Eskisehir dan Ankara. Di lain kesempatan beliau mengunjungi Konya, Isparta dan Kirsehir. Tahun berikutnya mengunjungi pesisir selatan dari Adana menuju Mersin, Alanya, Izmir dan Antalya. Kemudian ditahun berikutnya beliau bepergian ke sisi timur, Diyarbakir, Erzurm sampai perbatasan Irak. Kemudian kunjungan selanjutnya adalah di laut hitam, bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya, dari kota menuju kota lain, dari masjid ke masjid men-syiarkan firman-firman Allah dan spiritualitas dimanapun beliau berada.



Dimanapun syaikh Nazim pergi, beliau disambut oleh kerumunan massa dari yang sederhana sampai pejabat pemerintahan. Beliau masyur dengan sebutan ‘Al-Qubrusi’ di seluruh Turki. Syaikh Nazim merupakan syaikh / guru dari Presiden Turki terakhir, Turgut Ozal yang amat menghormati beliau. Akhir-akhir ini syaikh Nazim terkenal karena pemberitaan yang luas dari media dan pers. Beliau di wawancarai hampir tiap minggu oleh berbagai stasiun TV dan reporter yang menanyakan tentang berbagai kejadian serta masa depan Turki. Beliau mampu menjembatani antara pemerintahan yang sekuler dan kelompok Islam fundamental, seperti yang diajarkan oleh Nabi ( saw ) sehingga tercipta kedamaian disetiap hati dan pikiran dari kedua belah pihak, baik kalangan awam maupun yang cerdas sekalipun.



Tahun 1986, beliau terpanggil untuk mengadakan perjalanan menuju Timur jauh; Brunei, Malaysia, Singapore, India, Pakistan, Sri Lanka. Beliau di terima baik oleh para Sultan, Presiden, anggota parlemen, pejabat pemerintah dan tentu saja rakyat pada umumnya. Beliau di sebut sebagai orang suci zaman ini di Brunei. Beliau disambut dengan kemurahan rakyat dan khususnya oleh Sultan Hajji Hasan al-Bolkiah. Beliau digolongkan sebagai salah satu syaikh terbesar thariqat Naqsybandi di Malaysia. Di Pakistan, beliau dikenal sebagai penyegar akan thariqat sufi dan beliau mempunyai ribuan murid. Di Srilanka, di antara pemerintahan dan rakyat biasa, beliau mempunyai lebih dari 20.000 ( dua puluh ribu ) murid. Di antara muslim Singapore, beliau juga amat dihormati.



Pada tahun 1991, untuk pertama kalinya beliau mengunjungi Amerika. Lebih dari 15 negara bagian beliau kunjungi. Beliau bertemu dengan banyak kalangan masyarakat dari berbagai aliran dan agama-agama : Muslim, Kristen, Yahudi, Sikh, Buddha, Hindu, New age, dan lain-lain. Hal ini membuahkan berdirinya lebih dari 13 pusat-pusat thariqat Naqsybandi di Amerika Utara. Kunjungan kedua th. 1993, beliau mendatangi berbagai daerah dan kota-kota, masjid-masjid, gereja, sinagog, dan candi-candi. Melalui beliau, lebih dari 10.000 ( sepuluh ribu ) rakyat Amerika Utara telah masuk Islam dan ber-baiat dalam thariqat Naqsybandi.



Pada bulan Oktober 1993, beliau menghadiri peresmian kembali masjid dan sekolah Imam Bukhari di Bukhara, Uzbekistan. Beliau adalah orang pertama diantara banyak generasi Imam Bukhari yang mampu mengembalikan daerah pusat para awliya di Asia tengah yang sangat kuat mengabadikan nama dan ajarannya dalam thariqat ini.



Sebagaimana Shah Naqsyband sebagai pelopor di daerah Bukhara dan Asia Tengah, juga Ahmad as-Sirhindi al-Mujaddidi pelopor di milenium ke 2, dan Khalid al-Baghdadi pelopor kebangkitan Islam, shariah, dan thariqat di Timur Tengah; maka syaikh Nazim Adil al-Haqqani adalah pelopor , pembaharu dan penyeru umat agar kembali pada Tuhan-nya di abad ini, abad perkembangan tekhnologi dan materialisme.





Khalwat Syaikh Nazim



Khalwat pertama beliau atas perintah Syaikh Abdullah ad-Daghestani di tahun 1955 di Sueileh, Yordania. Beliau berkhalwat selama 6 bulan. Kekuatan dan kemurnian dalam setiap kehadiran beliau mampu menarik ribuan murid di Sueileh dan desa-desa sekitarnya, Ramta dan Amman menjadi penuh oleh murid-muridnya. Ulama, pejabat resmi dan banyak kalangan tertarik akan pencerahan dan kepribadian beliau.



Ketika baru mempunyai 2 orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki, syaikh Nazim dipanggil oleh grandsyaikh Abdullah. “ Aku menerima perintah dari Nabi untukmu agar melakukan khalwat di masjid Abdul Qadir Jailani di Baghdad. Pergilah kesana dan lakukan khalwat selama 6 bulan.”



Syaikh Nazim bercerita mengenai peristiwa ini :



Aku tidak bertanya apapun pada grandsyaikh. Aku bahkan tidak pulang ke rumah. Aku langsung melangkahkan kakiku menuju Marja, di dalam kotanya. Tidak pernah terlintas dalam benakku ‘aku butuh pakaian, uang atau

makanan’ . Ketika beliau berkata ‘Pergilah!’ maka aku segera pergi. Aku memang ingin melakukan khalwat bersama syaikh Abdul Qadir Jailani.

Ketika sampai di kota , aku melihat seorang laki-laki yang sedang menatapku. Dia mengenalku. “Syaikh Nazim, anda mau kemana ? “

“Ke Baghdad.” jawabku. Ternyata dia murid grandsyaikh. “ Saya juga mau kesana.” Kamipun berangkat dengan naik truk yang penuh dengan muatan barang untuk dikirim ke Baghdad.



Ketika memasuki masjid Syaikh Abdul Qadir Jailani, ada seorang laki-laki tinggi besar yang berdiri di pintu. Dia memanggilku,” Syaikh Nazim !”

“Ya,” jawabku.

“ Saya ditunjuk untuk melayani anda selama tinggal disini. Mari ikut saya.”

Sebenarnya aku terkejut akan hal ini, namun dalam thariqat segala hal telah diatur dalam Kehendak Ilahi. Aku mengikutinya sampai ke makam sang Ghawth. Aku mengucapkan salam pada kakek buyutku, Syaikh Abdul Qadir Jailani.



Sambil menunjukkan kamarku, orang itu mengatakan, ‘‘Setiap hari aku akan memberimu semangkuk sup dan sepotong roti.’’

Aku keluar dari kamar hanya untuk menunaikan shalat 5 waktu saja. Aku mencapai sebuah maqam dimana aku mampu khatam Al Qur’an dalam waktu 9 jam. Setiap harinya aku membaca Lha ilaha ill-Allah 124.000 kali dan shalawat 124.000 kali ditambah membaca seluruh Dalail al-khayrat, dan membaca 313.000 kali Allah, Allah, dan seluruh ibadah yang dibebankan padaku. ‘Penglihatan-penglihatan spiritual’ mulai bermunculan mengantarku dari satu maqam ke maqam lain sampai akhirnya aku menjadi fana’ dalam hadirat Allah.



Suatu hari aku mendapat penglihatan bahwa syaikh Abdul Qadir Jailani memanggilku menuju makamnya. Kata beliau, ‘ Oh, cucuku, aku sedang menunggumu di makamku, datanglah !” Aku bergegas mandi, shalat 2 rekaat dan berjalan menuju makam beliau yang hanya beberapa langkah dari kamarku. Sesampai disana, aku mulai bermuraqaba. “ as-salam alayka ya jaddi’ ( semoga kedamaian tercurah padamu, kakekku ) “

Segera aku melihat beliau keluar dari makam dan berdiri disampingku. Dibelakang beliau ada sebuah singgasana indah yang dihiasi batu-batu mulia. Kata beliau “ Mendekat dan duduklah bersamaku di singgasana itu.”



Kami duduk layaknya seorang kakek dan cucunya. Beliau tersenyum dan mengatakan :

“Aku bahagia denganmu, Nazim Effendi. Maqam syaikh kamu, Abdullah al-Faiz ad-Daghestani amat tinggi dalam thariqat Naqsybandi. Aku ini kakekmu. Sekarang aku turunkan padamu, langsung dariku, kekuatan yang dipegang oleh Ghawth. Aku bay’at kamu dalam thariqat Qadiriah sekarang.”



Kemudian grandsyaikh nampak dihadapanku, Nabi (saw ) pun hadir, juga Shah Naqsyband. Syaikh Abdul Qadir Jailani berdiri memberi hormat pada Nabi beserta para syaikh yang hadir, akupun melakukannya. Kata beliau :

‘ Ya Nabi, Ya Rasulullah, aku kakek dari cucuku ini. Aku bahagia dengan kemajuannya dalam thariqat Naqsybandi dan aku ingin menambahkan thariqat Naqsybandi pada maqamku. ‘

Nabi tersenyum dan melihat pada Shah Naqsyband, selanjutnya Shah Naqsyband melihat pada Grandsyaikh Abdullah. Inilah adab pimpinan yang baik, karena Syaikh Abdullah yang masih hidup pada saat itu. Grandsyaikh menerima rahasia thariqat Naqsybandi yang diterima beliau dari Shah Naqsyband melalui silsilah Nabi, dari Abu Bakr as-Siddiq, agar ditambahkan pada maqam syaikh Abdul Qadir Jailani.



Ketika syaikh Nazim merampungkan khalwatnya, dan akan segera meninggalkan makam kakeknya dan mengucapkan salam perpisahan. Syaikh Abdul Qadir Jailani muncul dan memperbarui bay’at syaikh Nazim dalam thariqat Qadiriah. Kata Kakeknya, “ Cucuku, aku akan memberimu kenang-kenangan karena telah berkunjung ke sini.” Beliau memeluk syaikh Nazim dan memberinya 10 buah koin yang merupakan mata uang di jaman beliau dulu hidup. Koin itu masih disimpan syaikh Nazim sampai hari ini.



Sebelum pergi, syaikh Nazim memberi tanda kenangan jubah pada syaikh yang telah melayani beliau selama khalwat disana. “ Aku memakai jubah ini selama masa khalwat, sebagai alas tidurku, bahkan juga saat shalat dan dzikir. Simpanlah, Allah beserta Nabi akan memberkahimu.” Syaikh itu mengambil jubah, menciumnya dan memakainya. Syaikh Nazim meninggalkan Baghdad dan kembali ke Damaskus, Syria.



Pada th. 1992, ketika syaikh Nazim mengunjungi Lahore, Pakistan, beliau berziarah ke makam syaikh Ali Hujwiri. Salah seorang syaikh dari thariqat Qadiriah mengundang beliau ke rumahnya. Syaikh Nazim menginap disana. Setelah shalat subuh, tuan rumah itu mengatakan :



‘Ya syaikh, aku memintamu menginap malam ini untuk menunjukkan padamu sebuah jubah berharga yang kami warisi selama 27 tahun yang lalu. Diwariskan dari seorang syaikh hebat dari thariqat Qadiriah dari Baqhdad sampai akhirnya berada di tangan kami. Semua syaikh kami menyimpan dan menjaganya karena dulunya ini jubah pribadi dari ‘Ghawth’ pada masa itu.

Seorang syaikh Turki dari thariqat Naqsybandi berkhalwat di masjid-makam syaikh Abdul Qadir Jailani. Setelah selesai, beliau berikan jubah ini sebagai hadiah karena sudah melayaninya selama khalwat. Syaikh Qadiriah pemegang jubah ini mengatakan pada penerusnya ketika akan meninggal agar menjaganya, karena siapapun yang mengenakan jubah itu, segala penyakitnya akan sembuh. Setiap murid yang mengenakan jubah ini dalam perjalanannya menuju hadirat Ilahi akan mudah terangkat dalam tingkat kashf.’



Beliau membuka almari dan memperlihatkan sebuah jubah yang disimpan di kotak kaca. Dia keluarkan jubah itu. Syaikh Nazim tersenyum melihatnya. Syaikh Qadiriah itu bertanya pada syaikh Nazim,” Apakah sebenarnya ini, syaikh ? “

Syaikh Nazim menjawab : “ Hal ini membuat aku bahagia. Jubah ini aku berikan pada Syaikh thariqat Qadiriah saat aku selesai khalwat.”

Ketika mendengar hal ini syaikh tersebut mencium tangan syaikh Nazim dan meminta bay’at di dalam thariqat Naqsybandi.



Khalwat di Madinah



Sering kali syaikh Nazim diperintahkan melakukan khalwat dengan kurun waktu antara 40 hari sampai setahun. Tingkatan khalwatnya juga berbeda, mulai diisolasi dari kontak dunia luar, shalat, atau hanya diperkenankan adanya kontak saat melaksanakan dzikir atau pertemuan karena memberi kajian. Beliau sering melaksanakan khalwat di kota Nabi. Kata beliau :



Tidak seorangpun diberi kehormatan melakukan khalwat bersama syaikh mereka. Aku mendapatkan kesempatan ini berada dalam satu ruangan dengan syaikh Abdullah di Madinah. Sebuah ruangan kuno dekat masjid suci Nabi Muhammad saw. Disana terdapat satu pintu dan satu buah jendela. Segera setelah kami memasuki ruangan itu, syaikh menutup jendela rapat-rapat dan beliau mengijinkan aku keluar hanya pada saat menunaikan shalat 5 waktu di Masjid Nabi.



Beliau mengingatkan aku agar ‘mengawasi langkah / nazar bar qadam ’ ketika dalam perjalanan menuju tempat shalat. Dengan disiplin dan mengontrol penglihatan kita berarti memutuskan diri dari segala hal kecuali pada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Besar beserta Nabi-Nya.



Syaikh Abdullah tidak pernah tidur selama khalwat berlangsung. Selama satu tahun aku tidak pernah melihat beliau tidur dan menyentuh makanan. Hanya semangkuk sup dan sepotong roti disediakan untuk kami setiap harinya. Beliau selalu memberikan bagiannya kepadaku. Beliau hanya minum air dan tidak pernah meninggalkan ruangan itu.



Malam demi malam, hari demi hari, grandsyaikh duduk membaca Qur’an hanya dengan penerangan lilin, berdzikir dan mengangkat tangannya dalam do’a. Kadang aku tidak mengerti apa yang beliau ucapkan karena beliau menggunakan bahasa surgawi. Aku hanya mampu memahaminya lewat ilham dan penglihatan yang datang pada hatiku.



Aku tidak tahu kapan saatnya malam ataupun siang kecuali saat shalat. Grandsyaikh tidak pernah melihat sinar matahari selama setahun penuh, kecuali cahaya dari lilin. Dan aku melihat cahaya matahari hanya ketika pergi untuk shalat.



Melalui khalwat tersebut, spiritualitasku meningkat ke tingkatan yang berbeda-beda. Suatu hari aku mendengar beliau mengatakan : ‘Ya Allah, beri daku kekuatan “Ghawth” / perantara / penolong, dari kekuatan yang Engkau berikan pada Nabi-Mu. untuk meminta ampunanMu bagi seluruh umat manusia saat kiamat nanti dan mengangkat mereka menuju Hadirat-Mu.’

Ketika beliau mengatakan hal ini, aku mengalami ‘penglihatan’ keadaan disaat hari kiamat. Allah swt turun dari Arsh-Nya dan mengadili umat manusia.. Nabi berada di samping kanan-Nya. Grandsyaikh berada di sebelah kanan Nabi, dan aku berada di sebelah kanan grandsyaikh.



Setelah Allah mengadili umat manusia, Dia memberi wewenang Nabi untuk menjadi perantara ampunan-Nya. Ketika Nabi selesai melakukannya, beliau meminta grandsyaikh untuk memberi barakahnya dan mengangkat mereka dengan kekuatan spiritual yang telah diberikan. Penglihatan itu berakhir dan aku mendengar grandsyaikh mengatakan, ‘ al-hamdulillah, al-hamdulillah, Nazim effendi, aku sudah mendapat jawabannya.’



Suatu hari selesai shalat subuh grandsyaikh mengatakan, ‘ Nazim Effendi, lihat !’ Kemana harus kulihat, atas, bawah, kanan atau kiri ? Ternyata ada di bagian hati beliau. Sebuah penglihatan muncul. Aku melihat syaikh Abdul Khaliq al Ghujdawani muncul dengan tubuh fisiknya dan mengatakan padaku,

’ Oh anakku, syaikh-mu memang unik. Tidak ada yang seperti dia sebelumnya. ‘ Kemudian kami diajak beliau di tempat lain di bumi ini.



‘ Allah swt memintaku untuk pergi ke batu itu dan memukulnya’ sambil menunjuk sebuah batu. Ketika beliau memukulnya, sebuah semburan air memancar deras keluar dari batu itu. Kata beliau, ‘ Air itu akan terus memancar seperti ini sampai kiamat nanti, dan Allah swt mengatakan padaku bahwa pada setiap tetes air ini Dia ciptakan satu malaikat bercahaya yang akan selalu memuji-Nya sampai kiamat nanti.’

Kata Allah : ‘ Oh hamba-Ku Abdul Khaliq al-Ghujdawani, tugasmu adalah memberi nama para malaikat ini dengan nama yang berbeda dan tidak boleh ada pengulangan. Hitung pula berapa kali pujian-pujian mereka, kemudian bagikan pada seluruh pengikut thariqat Naqsybandi. Itulah tanggung jawabmu.” Aku takjub akan beliau beserta tugas luar biasa yang diembannya.



Penglihatan itu terus berlanjut serasa menghujaniku. Pada hari terakhir khalwat kami setelah shalat subuh aku mendengar suara-suara dari arah luar ruangan kami. Suara orang dewasa dan suara anak-anak menangis. Tangisan itu semakin menjadi-jadi dan berlangsung berjam-jam. Aku tidak tahu siapa yang menangis karena tidak diizinkan untuk melihatnya. Grandsyaikh bertanya, “ Nazim Effendi, tahukah kamu siapa yang sedang menangis ?”

Walaupun aku tahu bahwa itu bukan tangisan manusia, namun aku menjawab,

” Oh syaikh, engkaulah yang lebih mengetahuinya.”

“Setan mengumumkan pada komunitasnya bahwa 2 manusia di bumi ini telah lolos dari kendalinya. “

Kemudian aku melihat setan dan bala tentaranya telah dirantai dengan rantai surgawi untuk mencegah mereka mendekati syaikh dan aku. Penglihatan itu berakhir. Grandsyaikh meletakkan tangannya di dadaku sambil mengata.kan,

” Alhamdulillah, Nabi bahagia akan aku dan kamu.”

Lalu aku melihat Nabi Muhammad beserta 124.000 nabi-nabi lain, 124.000 sahabat-sahabatnya, 7007 awliya-awliya Naqsybandi, 313 awliya agung, 5 Qutb dan Ghawth. Semuanya memberi selamat kepadaku. Mereka mengalirkan dalam hatiku ilmu spiritual mereka. Aku mewarisi dari mereka rahasia-rahasia thariqat Naqsybandi dan 40 thariqat-thariqat lainnya.



KARAMAH SYAIKH NAZIM



Pada th 1971, syaikh Nazim seperti biasa berada di Siprus selama 3 bulan; rajab, shaban, dan ramadhan. Suatu hari di bulan shaban, kami mendapat telpon dari bandara di Beirut. Ternyata dari syaikh Nazim yang meminta kami untuk menjemputnya. Kami terkejut karena tidak mengira beliau akan datang.

“ Aku diminta Nabi untuk menemuimu hari ini karena ayahmu akan wafat. Aku yang akan memandikan jenazahnya, mengkafani dan menguburkannya lalu kembali ke Siprus. “

“ Oh, syaikh. Ayah kami dalam keadaan sehat. Tidak ada sesuatu terjadi pada beliau.”

“Itulah yang dikatakan padaku.” Jawab beliau dengan amat yakin. Kamipun menyerah saja karena apapun yang dikatakan syaikh kami harus menerimanya.



Beliau meminta kami mengumpulkan seluruh keluarga untuk melihat ayah kami terakhir kalinya. Kami mempercayainya dan melaksanakannya walaupun ada yang terkejut dan ada yang tidak mempercayainya saat kami memanggilnya. Ada yang hadir dan ada yang tidak. Ayahku tidak mengetahui masalah ini, hanya melihat kunjungan keluarga sebagai hal yang biasa. Jam tujuh kurang seperempat. Kata syaikh Nazim,” Aku harus naik ke apartemen ayahmu untuk membaca surat Ya Sin tepat ketika beliau wafat.” Lalu beliau naik dari flat kami dibawah. Ayahku memberi salam pada syaikh Nazim lalu mengatakan,” Oh syaikh Nazim, sudah lama kami tak mendengar anda membaca qur’an. Maukah anda melakukannya untuk kami ?” Syaikh Nazimpun mulai membaca surat Ya Sin. Ketika beliau selesai membacanya, jarum jam menunjukkan tepat pukul tujuh. Persis ketika ayahku berteriak,” Jantungku, jantungku..!!” Kami merebahkan beliau, kedua saudaraku yang sama-sama dokter memriksa ayah. Jantungnya berdebar keras tak terkontrol dan dalam hitungan menit, beliau menghembuskan nafas terakhirnya.



Semua orang melihat pada syaikh Nazim dengan takjub dan keheranan. “ Bagaimana beliau mengetahuinya ? wali macam apakah beliau ? bagaimana bisa dari Siprus, beliau datang hanya untuk hal ini ? rahasia seperti apakah yang ada di hatinya ? “



Rahasia yang di simpan beliau adalah berkat sayang Allah swt pada beliau. Allah memberi wewenang akan kekuatan dan ramalan karena beliau memelihara keikhlasan, ketaatan, dan kesetiaan pada agama Allah. Beliau menjaga kewajiban dan ibadahnya. Beliau menghormati Al-Quran. Beliau sama dengan seluruh awliya naqsybandi sebelumnya, seperti halnya seluruh awliya thariqat lain dan para leluhurnya, syaikh Abdul Qadir Jailani dan Jalaluddin Rumi dan Muhyiddin Ibn Arabi yang menaati tradisi-tradisi Islam selama 1400 tahun. Dengan cinta Ilahi itu beliau akan dianugerahi pengetahuan Ilahiah, kebijaksanaan, spiritualitas dan segala hal. Beliau akan menjadi orang yang mengetahui akan masa lalu, saat ini dan masa depan.



Kami merasa terperangkap diantara dua emosi. Satu, karena tangis kesedihan kami akan wafatnya ayah dan yang kedua kebahagiaan atas apa yang diperbuat oleh guru kami pada almarhum ayah. Kedatangan beliau demi ayah kami pada akhir hayatnya tidak akan pernah kami lupakan. Beliau memandikan jasad dengan tangan beliau yang suci. Setelah semua tugas dijalankan, beliau kembali lagi ke Siprus tanpa diundur.



Suatu ketika syaikh Nazim mengunjungi Lebanon selama 2 bulan pada musim haji. Gubernur kota Tripoli, Lebanon yang bernama Ashar ad-Danya merupakan pemimpin resmi suatu kelompok haji. Beliau menawari syaikh Nazim untuk pergi bersama menunaikan ibadah haji. Kata syaikh,” Saya tidak bisa pergi dengan anda, tapi insya Allah, kita akan bertemu disana.”

Gubernur tetap memaksa. “ Jika anda pergi, pergilah dengan saya. Jangan dengan orang lain.” Syaikh Nazim menjawab,” Saya tidak tahu apakah saya akan pergi atau tidak.”

Ketika musim haji telah usai dan gubernur telah kembali, beliau segera menuju ke rumah syaikh Nazim. Dihadapan sekitar 100 orang, kami mendengar beliau mengatakan,” Oh syaikh Nazim, mengapa anda pergi dengan orang lain dan tidak bersama kami?” Kamipun menjawab,” Syaikh tidak pergi haji. Beliau bersama kami disini selama 2 bulan berkeliling Lebanon.”

Gubernur berkata,” Tidak ! beliau pergi haji, kami punya saksi-saksi. Waktu itu saya sedang thawaf dan syaikh Nazim mendatangiku lalu mengatakan’ Oh Ashur, anda di sini?’ saya mengiyakan dan kami melakukan thawaf bersama-sama. Beliau menginap di hotel kami di Makkah. Dan menghabiskan siang hari bersama di tenda kami di Arafat. Beliau juga menginap bersama saya di Mina selama 3 hari. Lalu beliau mengatakan ‘Aku harus ke Madinah mengunjungi Nabi saw.’



kemudian kami menatap syaikh Nazim yang menampakkan senyum khasnya dan seakan-akan mengatakan : “ Itulah kekuatan yang dianugerahkan Allah pada para awliya-Nya. Bila mereka berada di jalan-Nya, meraih cinta-Nya dan hadirat-Nya, Allah akan menganugerahi segala hal.’

“ Oh syaikh-ku, karamah apa yang engkau tunjukkan pada kami adalah sangat luar biasa. Tidak pernah aku melihatnya selama hidupku. Aku ini seorang politikus. Aku percaya pada akal dan logika. Kini aku harus mengakui bahwa anda bukanlah orang biasa. Anda mempunyai kekuatan supranatural. Sesuatu yang Allah sendiri anugerahkan pada anda!”



Gubernur itu mencium tangan syaikh Nazim dan meminta bay’at di dalam Thariqat Naqsybandi. Kapanpun syaikh Nazim mengunjungi Lebanon, gubernur dan perdana mentri Lebanon akan duduk dalam komunitas syaikh Nazim. Sampai saat ini, keluarga-keluarga beliau dan masyarakat Lebanon menjadi pengikut Syaikh Nazim.



KATA-KATA SYAIKH NAZIM



Tentang Ke-Esaan-Tuhan Yang Khas / unik, Syaikh Nazim mengatakan, bahwa berarti mustahil adanya kemajemukan :

1. Keesaan yang unik dari Dzat-Nya; Dzat-Nya tidak berlipat atau tidak merupakan gabungan dari dua bagian atau lebih, dan tidak ada yang mirip dengan Dzat Ilahiah-Nya.
2. Keesaan akan Sifat-Sifat-Nya, artinya Allah swt tidak memiliki dua sifat yang mewakili sesuatu yang sama. Sebagai contoh, Dia tidak mempunyai dua Kehendak. Dia Satu dalam segala sifat-Nya.
3. Keesaan dalam segala Tindakan-Nya; berarti Dia-lah Sang Pencipta dari Kehendak-Nya sendiri dan dari Takdir-Nya sendiri atas segala yang nampak di jagad raya ini. Seluruh ciptaan-Nya baik itu dari substansi, alasan ataupun perbuatan, adalah hasil kerja-Nya yang diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya.



ü Jika cinta itu benar, maka si pecinta harus menjaga kehormatan dan bertingkah laku yang seharusnya, bagi Dia, Yang dicintanya.



ü Keyakinan tertinggi dari kebenaran adalah ketika syaikh memuji hadiratNya di dalam mata kalian dan membatasi hal-hal lain selain Allah.



ü Ada 3 ular besar yang dapat merusak manusia : tidak toleransi dan tidak sabar dengan orang-orang di sekitar kalian ; menjadi terbiasa dengan sesuatu yang tidak bisa kalian tinggalkan dan dikontrol oleh ego kalian.



ü Meraih kehormatan dalam dunia ini adalah tindakan memalukan. Kehormatan adalah meraih kehidupan akhirat. Aku heran pada mereka yang memilih memalukan diri sendiri demi kehormatan.



ü Bila Allah swt membuka esensi Cinta Ilahiah-Nya, semua orang di bumi ini akan mati karena cinta itu.



ü Kita harus selalu melakukan hal-hal sebagai berikut: merenungkan ayat-ayat Allah dalam Kitab suci Qur’an dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang dapat menjadikan cinta berkembang dalam hati kita. Memikirkan segala janji dan pahala-Nya yang bisa membuat kita makin merindukan-Nya. Memikirkan ancaman dan hukuman Nya akan mebuat kita makin malu pada-Nya.



ü Kata Allah : “Siapapun yang sabar dengan kami maka akan berhasil mendekati Kami.”



ü Jika takut akan Allah tertanam dalam hati, lidah tak akan mampu berkata-kata yang tidak ada manfaatnya.



ü Sufisme adalah penyucian terus-menerus menuju Hadirat Allah swt. Esensinya adalah meninggalkan kehidupan materialistik ini.



ü Suatu saat Junayd melihat iblis dalam ‘penglihatannya.’ Setan itu telanjang. Junayd berkata : “ Wahai setan yang terkutuk, tidakkah kamu malu terlihat telanjang oleh manusia ?’ Jawab setan ‘ Mengapa saya harus malu, sedang manusiapun tidak malu pada dirinya sendiri”



ü Jika kalian bertemu dengan seorang pencari di jalan Allah, dekati dia dengan ketulusan, kesetiaan dan kasih sayang. Jangan mendekatinya dengan ilmu. Ilmu akan membuat mereka liar pada awalnya namun kasih sayang akan membuat mereka cepat mendekatimu.



ü Seorang pencari seharusnya adalah mereka yang telah meninggalkan dirinya sendiri dan menghubungkan hatinya dengan Allah. Mereka berdiri di hadapan-Nya ketika melaksanakan kewajiban-kewajiban sambil membayangkan Dia dalam hatinya. Nur Ilahi telah membakar hatinya yang membuat dia kehausan akan minuman Dewa, membuka tirai matanya dan membuat dirinya melihat Tuhannya. Jika dia membuka bibirnya, berbuat sesuatu atau menjadi damai itu atas perintah-Nya dan manifestasi dari Sifat-sifat-Nya. Dia sedang berada dalam Hadirat-Nya dan bersama-Nya.



ü Seorang sufi adalah orang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban dari Allah yang disampaikan oleh Nabi dan berusaha keras meningkatkan dirinya pada tingkat kesempurnaan yaitu Pengetahuan Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Agung.



ü Sufisme adalah sebuah pengetahuan dari mereka yang mempelajari tahapan umat manusia baik dari pujian maupun hinaan. Jika berupa hinaan, dia belajar untuk menyucikannya sehingga menjadi pujian dalam perjalanan-Nya menuju Hadirat Allah swt. Buah dari itu semua adalah berkembangnya qalbu akan : Pengetahuan tentang Allah swt, melalui pengalaman langsung, keselamatan di akherat kelak, tercapainya kenikmatan Ilahiah dan kebahagiaan abadi, pencerahan dan penyucian sehingga hal-hal luhur itu tersingkap dengan sendirinya, maqam-maqam terkuak dan dia memahami apa yang tidak terlihat bagi orang lain.



ü Sufisme bukanlah semacam penghambaaan tertentu, namun lebih pada melekatnya hati pada Tuhan. Penyatuan semacam itu tetap mengutamakan standard syariah, maka dia harus melaksanakannya. Itulah sebabnya kita temui para sufi melayani Islam dalam kapasitas yang luas dan beraneka ragam. Ulama Islam harus mendapat pendidikan lebih tinggi lagi akan sufisme. .





PREDIKSI GRANDSYAIKH ABDULLAH TENTANG SYAIKH NAZIM



Sebelum Grandsyaikh Abdullah wafat, beliau menulis dalam warisannya :



Atas perintah Nabi Muhammad saw, aku telah melatih dan meningkatkan ilmu penerusku yaitu Nazim Effendi dan memerintahkan dia dalam berbagai khalwat dan latihan, maka aku menunjuk dia sebagai penerusku. Di masa depan aku melihat dia akan menyebarkan thariqat ini lewat Timur dan Barat. Tuhan akan membuat berbagai lapisan masyarakat, dari kaya, miskin, ulama dan politikus mendatanginya, belajar darinya dan masuk dalam Thariqat Naqsybandi, yaitu dari akhir abad ke 20 dan awal abad ke 21. Dan hal ini akan menyebar ke seluruh dunia, tak ada satu kepulauanpun yang terlewat akan manis dan harumnya.



Aku melihatnya mengokohkan dan mendirikan markas-markas besar di London dimana dari situ akan menyebarkan thariqat ini di Eropa, Timur jauh dan Amerika. Dia akan menebarkan ketulusan, cinta, kepatuhan, harmoni dan kebahagiaan di tengah masyarakat. Mereka akan meninggalkan keburukan, terorisme dan politik. Dia akan menebar pengetahuan akan perdamaian didalam hati, komunitas-komunitas, dan negara-negara agar peperangan dan persaingan diangkat dari muka bumi dan perdamaian menjadi faktor yang mendominasi. Aku melihat generasi muda mendatanginya dari berbagai penjuru meminta barakahnya. Dia akan mengajari mereka agar melaksanakan kewajiban agama Islam, hidup sederhana dan hidup damai dengan penganut agama apapun, dan agar meninggalkan kebencian serta permusuhan. Agama adalah bagi Allah, dan Dia yang mengadili hamba-hamba-Nya.





Ramalan itu telah terjadi sebagaimana yang di terangkan Grandsyaikh Abdullah. Ketika Grandsyaikh meninggal pada th 1973, Mawlana Syaikh Nazim mengadakan perjalanan pulangnya yang pertama ke Turki, mengunjungi Bursa lalu ke London. Banyak generasi muda terutama pengikut John Bennet datang menemui beliau. Ketika mulai banyak orang berdatangan ingin mendengarkan nasihat beliau, maka didirikanlah pusat da’wah pertamanya di th 1974.



Beliau melanjutkan kunjungan pertamanya di Inggris dan kepulauannya selama dan setelah masa Ramadan. Thariqat ini menyebar luas, menembus seluruh Eropa, Amerika, Canada dan Amerika Selatan. Beliau membuka 3 pusat da’wah di London untuk melatih spiritualitas bagi orang-orang, melenyapkan depresi dan menolong mereka menuju kedamaian di hati masing-masing. Da’wah beliau berlanjut di seluruh bagian Eropa, Afrika Utara dan Selatan, negara-negara Teluk, Amerika Utara dan Selatan serta kepulauan India, Asia tenggara, Russia dan beberapa bagian di China, Australia serta Selandia Baru.



Kalian mungkin tidak menemukan negara-negara yang kami sebutkan atau yang belum kami sebutkan dimana sentuhan syaikh Nazim belum terasa. Inilah perbedaan antara beliau dengan awliya-awliya lain yang masih hidup dan yang sebelumnya. Kalian akan menemui segala bahasa diucapkan di hadapan beliau. Setiap tahun di bulan Ramadan, pertemuan besar para pengikut beliau diadakan di London yang dihadiri lebih dari 5000 orang dari seluruh dunia. Seperti firman Allah : “ Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal ” ( 49:13 )



Pengikut beliau berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Miskin, menengah, kaya, pengusaha, dokter, pengacara, psikiater, astronom, tukang pipa, tukang kayu, menteri, politikus, senator, anggota parlemen, perdana mentri, presiden, raja, dan dari berbagai kesultanan. Semua tertarik akan kesederhanaan, senyum, aura dan spiritualitas beliau. Syaikh Nazim terkenal sebagai syaikh multi budaya dan unversal. Perkataan-perkataan dan pidato-pidatonya dikumpulkan dan di terbitkan dalam berbagai buku termasuk serial Mercy Ocean dan lebih dari 35 judul lainnya. Ribuan rekaman video dan ribuan jam pidatonya juga di telah dokumentasikan.



Hidup beliau selalu terlihat aktif. Beliau seorang musafir di jalan Tuhan, tidak pernah menetap di rumah, selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Suatu hari beliau berada di Timur, besoknya berada di barat. Kalian tidak akan tahu beliau akan dimana hari ini dan selanjutnya. Beliau selalu menemui berbagai instansi untuk rekonsiliasi dan pemeliharaan lingkungan alam. Beliau selalu menanamkan benih-benih cinta, kedamaian dan keharmonisan di hati-hati umat manusia. Kami berharap dengan semangat ajarannya, seluruh agama akan berada dalam harmoni dan kedamaian.



Prediksi syaikh Nazim akan masa yang akan datang adalah melanjutkan apa yang diramalkan oleh grandsyaikh Abdullah. Dengan membeberkan kejadian sebelum terjadi, mengingatkan masyarakat dan membawa perhatian mereka akan hal yang akan datang. Sering beliau mengatakan : “Komunisme akan berakhir, Uni soviet akan terpecah menjadi negara kecil-kecil.” Beliau juga meramalkan bahwa tembok Berlin akan runtuh.



Rahasia Silsilah Emas thariqat Naqsybandi berada di dalam tangannya. Beliau menggenggamnya dengan kekuatan yang sangat tinggi. Berkilau disemua tempat. Semoga Allah swt merahmati beliau, menguatkan beliau dalam pekerjaan sucinya. Semoga Allah mengirimkan lebih banyak kedamaian, barakah, keselamatan dan sinar atas Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabat. Juga pada semua Nabi, awliya khususnya hamba-hambanya yang taat di dalam Thariqat Naqsyabandi dan semua thariqat sufi khususnya sahabat Allah pada era kita, Syaikh Nazim al-Haqqani.



Wa min At Tawfiq

Selasa, Februari 22

Ode Seruling





bibirku memagut erat bibirmu,
kau isi nafasmu dengan nafasku; mengembara dilorong-lorong tubuhmu,
tanganku memegang erat tubuhmu,dituntun keghaiban-
kita menggembalakan nada-nada di udara
aku tak pernah merasa seperti ini,
tenggelam bersamamu,
bersama kerinduan diantara kita!
...
-aku akan terus mencumbu-mu,
hingga alunan kita pecah seperti wewangian!

Namamu (im dying of Love..)





serpih nafasku membilang-bilang..

Kejut Jantungku menyebut-nyebut..

Cinta mana yg lebih pedih?

Penantian mana yg lebih dingin?

Aku hanya bisa menyebut Namamu..

yang dapat aku lakukan hanya menyebut Namamu..

Senin, Februari 21

Kekuasaan Jawa dalam dongeng “Aji Saka”

Kekuasaan Jawa dalam dongeng “Aji Saka”








I. Kisah Aji Saka
Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan. Kerajan Medang Kamulan ini yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.
Sementara itu di sebuah dusun kecil yang bernama dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.
Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.
Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu. Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya. Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar.
Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya. Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.
Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

II. Dongeng sebagai media enkulturasi
Dongeng merupakan tradisi lisan yanga dimiliki hampir ditiap kebudayaan. Dalam sebuah dongeng biasanya terdapat tokoh-tokoh utama yang mengambarkan kebaikan serta ada tokoh tandingannya yang mengambarkan keburukan. Dalam dongeng biasanya akhir dari ceritanya selalu positif atau berakhir baik.
Dongeng-dongeng biasanya diceritakan para orang tua atau sesepuh terhadap anak-anak kecil, dimana hal ini merupakan kegiatan menanamkan atau membagi informasi serta nilai ( enkulturasi ) yang terkandung dalam tiap kebudayaan.
Dongeng merupakan bagian penting dalam masyarakat jawa, dalam kebudayaan jawa sendiri banyak terdapat macam-macam dongeng yang mengandung bermacam-macam pesan moral bagi manusia. Dongen sendiri menjadi sarana mendidik anak yang mudah lewat cerita-cerita fiksi yang biasanya disuki anak-anak.
Ajisaka merupakan salah satu dongeng yang dimiliki oleh masyarakat jawa. Lewat dongeng ini para orang tua mulai menanamkan arti baik dan buruk, benar-salah kepada anak mereka. secara tidak sadar alur cerita ini menanamkan pemahaman tentang pemimpin yang baik pada suatu saat pasti akan muncul dengan sendirinya atau dalam masyarakat jawa disebut Ratu Adil.

Hampir di tiap kebudayaan atau bahkan agama-agama besar memiliki konsep ratu adil ini, yang akrab disebut sebagai Messiah atau Sang juru selamat. Pesan dan gagasan seperti ini memang telah di tanamkan oleh pelbagai kebudayaan baik dimasa sekarang maupun masa yang lampau.

III. Konsep kekuasaan dalam dongeng
Kekuasaan yang dilambangkan dalam seorang Raja dalam kebudayaan Jawa pada dongeng ini menggambarkan bahwa konsep kekuasaan itu terpusat pada satu wujud yang tunggal seperti Raja. Kekuasaan sendiri di dalam konsepsi jawa bukan berarti energi murni/ kesaktian atau semesta itu sendiri atau tuhan itu sendiri yang bersifat netral.
Kekuasaan yang telah mewujud dalam diri manusia bisa berubah sesuai dengan kecenderungan manusia itu sendiri. sebagai contoh adalah kekuasaan dari Prabu Dewata Cengkar dalam dongeng Aji Saka sendiri mengambarkan sebuah kekuasaan yang cenderung negatif, dimana lewat kekuasan tersebut Prabu Dewata Cengkar selalu meminta persembahan manusia untuk ia makan.
Namun konsep kekuasaan tunggal yang mewujud dalam diri raja ini tetap diyakini oleh masyarakat jawa dimana nantinya akan melahirkan konsep Ratu adil. Mereka percaya hal tersebut karena dalam anggapan mereka, energi murni/ semesta/ tuhan itu sendiri adalah sesuatu yang seimbang dan konstan.
Maka walaupun raja pada suatu masa itu berbuat lalim, mereka percaya bahwa lewat kelaliman raja tersebut, secara tidak langsung sang raja tersebut sedang melemahkan kekuatannya sendiri sehingga kekuatan tersebut akan bergeser pada sosok baru yang biasa dianggap sebagai Ratu Adil mereka. Hal tersebut tergambar dalam dongeng AjiSaka dimana rakyat di medang kamulan bersifat pasrah ketika Prabu Dewata Cengkar berbuat lalim, mereka hanya menunggu datangnya sosok Ratu adil mereka yang tak lain adalah AjiSaka.
Kekuasaan dan Raja/ pemimpin dalam kebudayaan jawa dianggap satu atau manunggal, keduanya tak terpisahkan. Sosok raja dilihat sebagai sesuatu yang beku-niscaya, maka orang jawa tidak begitu mementingkan sosok pribadi yang menjadi Raja itu melainkan konsepsi Raja itu yang senantiasa tertera dalam benak mereka sebagai sosok niscaya lagi bijaksana seperti seorang wakil dari Tuhan. Hal ini mengakibatkan disaat Raja mereka lalim mereka percaya bahwa sosok Raja baru yang bijaksana akan muncul menggantikan Raja yang lalim dan menyelamatkan mereka.
Dalam dongen, para rakyat medang kamulan hanya diam, ketika raja mereka lalim dan menindas mereka. mereka percaya Raja yang niscaya lagi Bijaksana akan muncul dan memimpin mereka serta membawa mereka kedalam masa keemasan. Disana sosok Raja yang niscaya lagi bijaksana itu digambarkan sebagai sosok AjiSaka.
Pemahaman masyarakat jawa mengenai masa kejayaan atau masa keemasan secara tidak langsung mereka memahami bahwa dalam hidup ini selalu terjadi proses perubahan dari yang buruk menjadi baik serta juga bisa kebalikannya. Masyarakat jawa dalam hal ini menganggap bahwa semesta adalah sesuatu yang tidak bisa diduga-duga karena segalanya dapat terjadi.
Satu hal yang pasti adalah bahwa mereka percaya konsep keseimbangan, jadi meskipun pada saat ini buruk, mereka percaya pada suatu saat mereka pasti akan mengalami masa yang baik. Pemahaman seperti ini bisa membuat seseorang jawa optimis atau bahkan menjadi seorang yang pasrah.
Melalui cerita AjiSaka, kita dapat mengetahui bahwa cerita ini adalah sebuah sudut pandang dari seorang rakyat biasa yang menantikan pemimpin yang bijaksana. Dalam analisis Anderson pada buku language and powernya dia juga terkesan menyuguhkan konsepsi kekuasaan dari sudut pandang rakyatnya. Sebagai sebuah konsepsi yang utuh, konsep kekuasaan dari Anderson sendiri merupakan konsep kekuasaan yang cacat, karena tidak menyuguhkan konsep kekuasaan dari pelaku penguasa atau sosok yang mendapatkan kuasa itu.

Barangkali konsepsi kekuasaan dari sang Raja sejati yang bijak adalah kekuasaan sebagai sarana untuk membuat semesta ini seimbang dengan membawa kedamaian serta kesejahteraan dimuka bumi ini. Konsepsi seperti ini juga dikenal di dalam budaya kejawen sebagai istilah Memayu Hayuning Buwana untuk membuat Tata Titi Tentrem Karta raharja di semesta ini. Konsepsi demikian dapat terlihat dalam aktualisasi diri sang AjiSaka yang membawa desa medang kamulan ke masa keemasannya dengan kedamaian dan kesejahteraan.


Daftar Pustaka
Language and Power; Benedict Anderson
Wikipedia.org

Minggu, Februari 20

Alam takambang jadi guru> sedikit mengungkap yang bisa diungkap

Alam takambang jadi guru




Alam takambang jadi guru; semesta dan seisinya yang terhampar ini jadi guru bagaimana kita harus berlaku.

penulis menggunakan ungkapan minang tersebut untuk menggambarkan inti dari bagaimana seluruh ungkapan minang lahir. Ungkapan, dalam berbagai kebudayaan dalam hal ini khususnya kebudayaan minang selalu menggunakan metafora untuk menjelaskan suatu maksud; baik itu nasihat, peringatan, pujian, singgungan atau berbagai macam hal lain. Penggunaan metafora ini apakah menjadi sebuah keseharusan? Apa yang melatarbelakangi penggunaan metafora dalam kehidupan baik keseharian (behavioral) maupun dalam konteks-konteks ritual tertentu; baik yang profan atau yang sakral .

Penjelasan dari pertanyaan sebelumnya adalah dengan menjabarkan lagi ungkapan minang diatas, “Alam takambang jadi guru”. Alam semesta, dengan seisinya menjadi metode refleksi bagaimana manusia berfikir dan bertindak. pemulis menekankan sebuah refleksi karena “alam” digunakan sebagai subjek yang hidup, yang coba manusia pahami dan pelajari; tetap sebagai “subjek”. Dalam hal ini alam menjadi “Big Other ” bagi manusia, dan disitu manusia melakukan dialog dengan alam hingga kemudian ditarik pada konsep kosmologi “Macrokosmos” dan “Mikrokosmos”

Melalui ungkapan “alam takambang jadi guru” pula kebudayaan Minang menggambarkan konsep kosmologi mereka, Makrokosmos-Mikrokosmos. Makrokosmos mereka adalah Alam semesta raya dan Mikrokosmos mereka adalah diri mereka sendiri (manusia). Dalam konsep “self-othering ” pada teori identitas, kebudayaan minang menggambarkan siapa manusia/self (diri mereka) dengan membandingkan dengan Alam semesta sebagai Other. Hubungan antara self dan other ini bukan sebuah hubungan opposite melainkan sebuah relasi bagaimana self dan other itu terus menjalin kehidupan untuk mencapai sebuah maksud yang besar.

Jika kita melihat proses self-othering masyarakat minang dengan kerangka bahwa self adalah manusia dan other adalah alam semesta, maka kita akan melihat diri mereka (self) sebagai keseluruhan manusia; dan disitu logika kebudayaan masyarakat minang tentang persaudaraan akan terlihat, karena self yang diidentifikasikan sebagai manusia adalah manusia seluruhnya dan mereka tak akan membeda-bedakan manusia “A” atau manusia “B”; sebuah gambaran toleransi yang besar yang dimiliki masyarakat minang. Hal ini yang juga terlihat pada pantun “Ka pekan alah, ka solok alun; makan alah marokok alun” yang diartikan “makan sudah merokok belum”; digunakan untuk mengakrabkan diri dengan teman-teman yang ada, pengakraban diri sebegitu penting jika mereka mengenal konsep persaudaraan yang kuat.

Dalam kebudayaan minang, ada hal-hal yang begitu penting yang dapat kita lihat sebagai kunci bagaimana kita memahami kebudayaan minang. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah : “merantau”, “Surau”, “Silat”. Penulis akan mencoba membahas tentang merantau dan surau bagi adat minang dilihat dari ungkapan “alam takambang jadi guru” yang merupakan inti dari keseluruhan ungkapan minang.

Merantau adalah sebuah keharusan bagi adat minang. Mereka yang merantau adalah yang keluar dari daerah asal mereka. mereka pergi dari tanah kelahiran mereka untuk pergi ke suatu tempat entah dimana. Merantau dalam analisis penulis adalah sebuah konsekuensi dari pemahaman pepatah “alam takambang jadi guru”. Tanah kelahiran mereka, mereka identikkan dengan diri mereka sendiri (self) dan tanah/ tempat/ daerah diluar tanah kelahiran mereka diidentikkan dengan alam semesta yang luas ini (other); dan akibat dari pemahaman logika kultural ini, maka mereka harus belajar dari semesta yang luas terhampar ini untuk dijadikan guru; dengan kata lain mereka harus merantau untuk belajar dengan semesta diluar diri mereka sendiri (tanah kelahiran mereka).

Surau sebagai pusat pembinaan spiritual masyarakat minang, khususnya anak laki-laki yang nantinya akan merantau juga penulis lihat sebagai relasi dari ungkapan minang yang sedari tadi terus penulis singgung-singgung. Surau, pada akhirnya menjadi pusat refleksi kedalam (esoterik) bagaimana alam semesta didefinisikan dan dimaknai. Di Surau, tempat aktivitas keagamaan, bagaimana mereka mengenal kaidah-kaidah agama, yang diceritakan lewat kisah-kisah, yang dipelajari dari kitab suci agama mayoritas mereka (islam); adalah serupa makrokosmos atau juga semesta yang coba mereka pelajari, sebagai bekal mereka memahami semesta yang “entah” yang akan mereka hadapi saat merantau.

Dalam penutup tulisan penulis ini, penulis melihat bahwa ungkapan “alam takambang jadi guru” bukanlah sebuah “core-culture” dari kebudayaan minang melainkan sarana untuk menuju kesana. Karena pemahaman alam yang berkembang dijadikan guru masih belum lengkap, dan timbul pertanyaan “untuk apa alam semesta ini dijadikan guru?” penulis mengakhiri pertanyaan ini dengan pertanyaan. Dan penulis menemukan jawaban disebuah buku berjudul “Tambo Adat Minangkabau” karya Buchari Alma : bahwa culture core kebudayaan minang adalah budiluhur- akhlakul kharimah.
mengingat bahwa tanah minang adalah tempat yang mengalami perkembangan islam-sufisme yang teramat kental lewat arsiran kebudayaan persia yang dapat ditemukan lewat naskah-naskah sastra melayu mereka. Bukan tak mungkin bahwa kebudayaan minang begitu luhur dengan segala dinamikanya..

meskipun penulis seorang jawa, namun penulis begitu mengagumi kebudayaan minang yang sekarang sudah tak lagi di hidupkan dalam jiwa para pewarisnya..

semoga bermanfaat...

Sabtu, Februari 19

Mutiara


By : kahlil gibran

Ada tiram berkata kepada tiram di dekatnya, "Di dalam diriku terasa nyeri sekali. Terasa berat dan bulat, membuatku resah."

Tiram di dekatnya itu menjawab dengan sombong, "Terpujilah langit dan lautan, aku tidak mengidap rasa nyeri. Tubuhku benar-benar segar bugar."

saat itu seeokor kepiting lewat dan mendengarkan percakapan kedua tiram, lalu berkata kepada tiram yang merasa segar bugar, "Ya, engkau memang segar bugar; tapi nyeri yang diderita tetanggamu itu sebuah mutiara yang indahnya tak terkira."

Kamis, Februari 17

PAKAIAN


By, Kahlil Gibran


Pakaian :

Suatu hari si Cantik dan si Buruk bertemu di pantai. keduanya saling mengajak, "Mari kita mandi di laut". Keduanya menanggalkan pakaian, kemudian berenang. Tak berapa lama si Buruk kembali ke pantai, lalu mengenakan pakaian si Cantik, lantas pergi

Si Cantik pun kembali ke pantai. Ia tak dapat menemukan pakaiannya; karena malu telanjang, dikenakanlah pakaian si buruk.

Sampai kini kita tak dapat mengenali mereka masing-masing.

Namun ada juga yang dapat mengenali wajah si Cantik, meski pakaiannya demikian. Dan ada pula yang dapat mengenali wajah si Buruk, karena pakaiannya tak dapat menyembunyikannya.

Selasa, Februari 15

panggil aku GILA,





aku bangun mendahului pagi; menyusun diriku jauh sebelum pagi menyusun dirinya

nafas telah kuisi dalam dadaku, sebagai bekal perjalananku hari ini

langkah kuseret tiap hari, dengan segala kepolosanku, aku mengais tiap kenangan yang berserakan dijalanan.

aku selalu memandangi hari, ia juga sesekali melemparkan pandangnya yang hangat padaku

tak seperti orang-orang yang memandangku dengan serbuan kecurigaan yang hendak menelanjangiku

apa mereka tak tahu kalau aku sudah begitu telanjang?

lalu siapa yang mereka sebut gila?

AH!

.....................................................,,

Senin, Februari 14

Rahasia NUR MUHAMMAD


Mawlana Syekh Hisyam Kabbani ق

Sohbet, 19 Maret 2006

Rue Boyer 20 Paris





Allah Allah Allah Allah Allah Allah ‘Aziiz Allah

Allah Allah Allah Allah Allah Allah Kariim Allah

Allah Allah Allah Allah Allah Allah Sulthana Allah

Allah Allah Allah allah Allah Allah Sulthana Allah



Allah I Huwa Sulthan, Dia-lah Sang Sultan.

A’uudzu billahi minasy syaythanirrajiim

Bismillahirrahmanirrahiim

Nawaytul Arba’in Nawaytul I’tikaf, Nawaytul Khalwah, Nawaytul ‘Uzlah, Nawaytur Riyadhah Nawaytus suluuk lillahi ta’ala l-‘Azhiim fii hadzal masjid.



Sangatlah penting untuk mengetahui bahwa Allah I adalah (Sang Sultan), lihatlah apa yang tertulis di sana [Mawlana Syekh Hisyam ق menunjuk ke kaligrafi “Allah” dan “Muhammad” yang tergantung di tembok] Allah I dan di sampingnya Muhammad e. Artinya, tak seorang pun akan ditanya melainkan ia yang [kaligrafinya tertulis] di sisi kiri Sang Pencipta. Karena di mahkamah pengadilan zaman sekarang, kalian tak akan langsung ditanyai, [melainkan yang akan ditanyai adalah] ia yang bertanggung jawab atas sang terdakwa, yaitu sang pengacara. Kalian tak bertanya langsung pada sang terdakwa, melainkan bertanya pada orang yang mewakilinya. Sayyidina Muhammad e, Allah I telah meninggikan derajat beliau untuk ditanyai mewakili keseluruhan umat.



Para Sahabat, keseluruhan dari mereka tahu akan hierarki mereka. Artinya, hierarki itu ada, dan mereka tidak melangkahi batas hierarki mereka, setiap orang mengetahui batasan mereka seluruhnya hingga mencapai Sayyidina Abu Bakar y, dan kemudian dari Sayyidina Abu Bakar y untuk mencapai Sayyidina Muhammad e. Sayyidina ‘Umar y- radiyAllahu ‘anhu wa ardhah -, suatu saat ketika beliau menjadi khalifah, pernah seorang wanita datang kepadanya sebagai seorang terdakwa dalam perzinahan. Beliau pun hendak menghukum qisas wanita tersebut, ketika Sayyidina ‘Ali y- karramAllahu wajah - berkata pada beliau, “Hentikan! Ya, ‘Umar y, apa yang kau lakukan?” Mereka saling mendengarkan pada satu sama lainnya, tidak seperti orang-orang zaman sekarang. Beliau [‘Umar y] tahu hal ini bahwa Nabi e pernah bersabda, “Ana madinatul ‘ilmi wa ‘Aliyyun baabuhaa”, ‘Aku adalah Kota Pengetahuan dan ‘Ali y adalah Pintunya”. Beliau [‘Umar y] tahu akan hierarki yang ada, “Ya, ‘Ali y, apa yang mesti kulakukan?” ‘Ali y pun menjawab, “Biarkan dia melahirkan bayinya terlebih dahulu, karena bayi tersebut tidaklah bersalah. Setelah itu, baru kau dapat menimbang apa yang akan kau lakukan [atasnya]”.



Ini menunjukkan pada kita betapa mereka, para Sahabat, saling menghormati satu sama lainnya, dan menunjukkan pula bahwa mereka memahami akan hierarki. Sayyidina ‘Umar y - radiyAllahu ‘anhu wa ardhah - berkata, “’Ali y telah menyelamatkan diriku dua kali”, yaitu yang pertama dalam kisah tentang wanita yang berzina tersebut di atas, dan kali yang kedua dalam kisah tentang sahabat Uwais al-Qarani y. Saya akan menjelaskan tentang hal kedua itu, insya Allah. Jadi ada dua hal tadi, dan juga di kali lain tentang Batu Hitam [Hajar al-Aswad]. Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa semua orang yang ada di sini adalah bagaikan bunga-bunga yang tumbuh di suatu taman. Setiap bunga memiliki aromanya yang berbeda, dan setiap bunga juga memiliki warnanya yang khas pula. Dan seorang insinyur pertanian tahu akan kekhasan setiap bunga berdasarkan warna dan aromanya masing-masing. Dan, karena itulah, jika kalian berkunjung ke suatu kebun raya, kalian akan mendapati insinyur pertanian yang tahu akan setiap bunga yang ada di kebun tersebut, dan ia tak akan luput perhatiannya pada satu bunga pun di kebun tersebut. Ia tak boleh melupakan atau melewatkan satu bunga pun, karena jika sampai ia melewatkan satu saja, itu berarti ia bukanlah seorang insinyur yang handal. Sayyidina Muhammad e, Allah I telah membusanai beliau dengan Nama-Nama- dan Sifat-Sifat-Nya yang Indah. Ia telah memanifestasikan Diri-Nya sendiri melalui Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah-Nya melalui Sayyidina Muhammad e. Allah I ingin memanifestasikan Diri-Nya, ketika Ia berfirman [dalam suatu hadis qudsi, red.], “Kuntu Kanzan Makhfiyan Fa aradtu an u’raf, fakhalaqtul khalq.” “Aku adalah ‘Harta Tersembunyi’ dan Aku ingin Diri-Ku dikenali, maka Ku-ciptakan ciptaan”. Allah I ingin diketahui. Untuk diketahui, haruslah oleh suatu ciptaan, dan ciptaan tersebut mestilah membawa keindahan Sang Pencipta. Dan untuk membawa keindahan ciptaan, haruslah seseorang, sesuatu, suatu cara, yang Allah I akan mewujudkanya, sedemikian rupa hingga [sebagaimana difirmankan Allah I], “Allahu Nurus Samawati wal Ardh Matsalu Nuurihi kamisykaatin…” [QS. An-Nuur 24:35], Allah I-lah Cahaya Lelangit dan Bumi [untuk meliputi bundel Cahaya tersebut]; perumpamaan Cahaya-Nya adalah bagaikan suatu bundel yang berisikan berbagai manifestasi yang memiliki lampu dengan berbagai warna pelangi yang demikian beragam.



Sebenarnya, tadinya saya hendak menceritakan tentang Sayyidina ‘Umar y dan ‘Ali y untuk menjelaskan hal tertentu, tetapi saya pikir mereka mengalihkan [pembicaraan] saya. Bukan Sayyidina ‘Umar y dan ‘Ali y yang mengalihkan saya, tapi Mawlana Syekh Nazhim ق [semoga Allah I melimpahkan barakah-Nya pada beliau dan mengaruniakan beliau panjang umur]... Saya akan kembali ke topik tersebut, tetapi beliau sedikit mengalihkan [pembicaraan kita].



Saat Allah I adalah suatu ‘Harta Tersembunyi’, artinya Esensi-Nya, Dzat-Nya, tak dapat diketahui, yaitu Haqiqat uz-Dzaat il-Buht liLlaahi Ta’ala, Haqiqat dari Esensi Ilahiah yang tak seorang pun dapat memahami Dzat tersebut, artinya, tak seorang pun dapat memahami apa hakikat Sang Pencipta. Allah I ingin agar Dzat-Nya, Esensi-Nya diketahui, Ia pun ‘menciptakan’ Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah untuk mendeskripsikan Esensi/Dzat tersebut secara berkesinambungan tanpa ada henti. Dan manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama serta Sifat-Sifat Indah nan Mulia ini, tak mungkin, tak mungkin seorang pun mampu memahami mereka, kecuali Nama-Nama dan Sifat-Sifat tersebut memanifestasikan diri mereka pada orang tersebut. Karena jika orang, di zaman ini, membaca Asma-ullahi l-Husna Huwallahulladizii laa ilaha illah huwa ‘aalimul ghaybi wash shahaadati huwa ar-Rahmanu r-Rahiim…[QS. Al-Hasyr 59:22-24], mereka memberikan suatu arti, mereka berusaha mendeskripsikan maknanya. Namun, pada hakikatnya, Nama-Nama tersebut tidaklah dapat dilukiskan atau dijelaskan, Nama-Nama dan Sifat-Sifat tersebut haruslah menjadi suatu cita-rasa, suatu pengalaman yang dirasakan. Kalian dapat mendeskripsikan apa pun yang kalian suka. Saya pun dapat mendeskripsikan ini [Mawlana menunjuk ke suatu gelas berisi air] sebagai suatu air atau suatu gelas, tetapi kalian jika kalian tak mencicipi air tersebut, kalian pun tak dapat merasakan hakikat kelezatan air yang menyegarkan itu.



Allah I ingin untuk diketahui. Maka, untuk diketahui, haruslah ada suatu ciptaan. Tanpa suatu ciptaan, maka diketahui oleh siapa? Allah I Mengetahui Essensi, Dzat-Nya. Allah I mengetahui Diri-Nya sendiri. Bahkan Allah I tahu akan Diri-Nya, Allah I tahu akan Sang Esensi, Esensi-Nya, Dzat-Nya; dan Nama-Nama serta Sifat-Sifat-Nya yang Indah tahu akan Dzat, tetapi tak setiap Nama tahu satu bagian (kita dapat mengatakannya bagian) atau satu Elemen dari Esensi/Dzat, tidak semuanya. Setiap Nama memiliki signifikansinya masing-masing, tak dapat mengetahui Nama yang lain. Itulah Keagungan Allah I. Setiap Nama adalah unik bagi dirinya. Karena itulah, kita mengucapkan “Allah”, Nama “Al-Ismu l-Jami’ li l-Asma’ was Sifat.” “Allah” adalah Nama yang meliputi keseluruhan Nama-Nama dan Sifat-Sifat. “Allah” mendeskripsikan Dzat. Dan Nama itu, “Allah”, meliputi dan memahami Sang Esensi, Dzat. Jadi, untuk hal ini, suatu ciptaan haruslah muncul agar rahmat Allah I ini, yang berupa suatu pelangi dari Nama-Nama dapat dianugrahkan atau dibusanakan pada seseorang. Dan, karena itulah Nabi e bersabda ketika beliau ditanya tentang apakah yang Allah I ciptakan pertama-tama. Beliau menjawab, “Ia pertama-tama menciptakan cahayaku” untuk mengenakan manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah Allah I ini. Jadi, cahaya tersebut diciptakan dengan tujuan untuk mengemban manifestasi-manifestasi [tajalli] dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat indah tersebut. Cahaya dari Muhammad e tersebut, An-Nuuru l-Muhammadi, adalah manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah yang muncul dalam Muhammad e, dalam an-Nur Muhammad e tersebut, Cahaya dari Muhammad e, Cahaya Muhammadaniyyah.



Nur Muhammadi yang memantulkan Cahaya dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah Allah I tersebut, memantulkan ke siapakah? Beliau adalah suatu cermin yang memantulkan cahaya tersebut bagaikan bulan yang memantulkan cahaya matahari. Karena itulah, Sayyidina Muhammad e, An Nuur Muhammad tersebut, Cahaya Muhammadi tersebut menjadi suatu Pelangi Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah, dan ia pun mesti memanifestasikan dirinya pada sesuatu yang dapat membawa cahaya tersebut selanjutnya. Karena itulah salah satu nama beliau adalah Muhammad e, karena esensi/dzat Muhammad e tak dapat dilukiskan, tak dapat dijelaskan, tak dapat digambarkan, kecuali hanya melalui manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah Allah I. Jadi, Muhammad e pun harus memanifestasikan diri beliau pada sesuatu. Maka Allah I pun menciptakan dari Cahaya beliau, Adam u untuk muncul melalui diri beliau. Diriwayatkan bahwa Allah I menciptakan Adam u, karena itu Allah I menciptakan Adam u dari manifestasi nama-nama dan sifat-sifat luhur yang dimiliki Nabi e, melalui manifestasi-manifestasi Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah Allah I. Ia menciptakan Adam u dari Cahaya itu. Dan, karena itu pula, beliau bersabda, “Kuntu nabiyyan wa adam bayna l-maai wa t-tin”, “Aku adalah seorang nabi ketika Adam u masih di antara tanah liat dan air”, karena Nabi e telah mengetahui siapa dirinya. Karena manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah tersebut adalah seperti ketika kalian memutar suatu mesin, atau suatu turban, dan ia berputar, berputar, dan berputar, hingga menghasilkan energi, dan menghasilkan energi, dan menghasilkan energi, hingga energi tersebut menjadi layaknya sebuah generator. Suatu generator jika diputar amat cepat, akan memberikan aliran listrik. Dan dengan aliran listrik yang dihasilkan tersebut, kalian pun dapat menggunakannya untuk berbagai keperluan. Seperti itu pula, Nabi e, saat Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah ini dimanifestasikan pada Realitas Sayyidina Muhammad e, Hakikat Sayyidina Muhammad e, Haqiqatul Muhammadaniyyah¸ Allah I pun mencelupkan cahaya Muhammad e dengan Nama-Nama dan Sifat-Sifat ini dalam Bahrul Qudrah-Nya [literal bermakna “Samudera Kekuatan”-Nya, red.]. Saat beliau dicelupkan dalam Bahrul Qudrah ini, beliau pun berputar, dan berputar, berdasarkan Hadis Nabi e di atas [tentang penciptaan cahaya beliau, red.]. Beliau berputar, dan berputar, memancarkan energi, yang dari energi tersebut, Adam u muncul.



Jadi, karena itulah Adam u diciptakan dan dibentuk/dicetak dengan cahaya Sayyidina Muhammad e. Saat Allah I berkehendak menciptakannya, Ia memerintahkan Jibril u untuk pergi ke Bumi dan mengambil segumpal tanah liat dari Bumi, dan membawanya, sebagaimana difirmankan Allah I, “Wa laqad karramna Bani Adam, wa hamalnahum fil barri wal bahr, wa razaqnahum mina t-tayyibaati, wa fadhdhalnaahum ‘ala katsiirin mimman khalaqnaa tafdhiilaan”[QS. Al-Isra’ 17:70] “Dan sungguh telah Kami muliakan manusia (Anak Adam), dan Kami perjalankan mereka di Daratan dan Lautan, dan Kami beri mereka rizqi dari hal-hal yang baik, serta Kami lebihkan diri mereka dari sekalian ciptaan Kami lainnya”. Allah I memuliakan Sayyidina Adam u dengan membawa tubuhnya, Ia membawa tubuhnya dari Bumi ke mana? Ke Langit! Allah I membawa dari Bumi, tubuh Adam u, realitas Adam u, Hakikat Adam u, tubuh dari Adam u dibawa dari Bumi, dan Allah I memuliakan manusia dengan mengirim mereka ke Surga melalui Adam u. Di sana, Ia membentuknya dengan nama-nama dan sifat-sifat mulia dari Sayyidina Muhammad e. Dan karena itulah, An-Nuurul Muhammadi terdapat di dahi Adam u. Dan saat cahaya Muhammad e tersebut muncul di dahinya, saat itulah masalah dengan Iblis pun terjadi. Iblis demikian marahnya karena ia mengharap untuk menjadi cahaya tersebut. Karena al-Maqam al-Mahmud, Kedudukan Yang Terpuji itu telah diberikan Allah I pada Sayyidina Muhammad e, melalui cahaya tersebut. Iblis menginginkan cahaya itu. Karena itulah, ia beribadah dan melakukan sajdah [sujud, red.] di setiap jengkal Surga, dan di setiap ruang di Alam Semesta, setiap jengkal tangan, satu sajdah, satu sajdah, satu sajdah. Ia berharap untuk dapat meraih cahaya tersebut, tetapi akhirnya setelah ia mengetahui bahwa ia tak akan mendapatkan cahaya tersebut, ia pun mulai memusuhi Adam u dengan membisikkan [was-was] ke telinganya untuk membuatnya turun.



Kita akan berbicara tentang masalah ini, tentang Iblis dan Adam u, pada waktu lain. Malam ini, kita melanjutkan dengan sesuatu yang lain.



Jadi, ketika cahaya Sayyidina Muhammad e tersebut tengah berputar, dan bagaikan sebuah generator yang darinya memancar keluar kekuatan yang demikian dahsyatnya, ia mengeluarkan energi tersebut. Dan dari energi tadi, terciptalah sumber asal-muasal dimensi spiritual dari cahaya manusia, dan dengan kekuatan tersebut, masuklah [energi spiritual tersebut] ke dalam tanah liat, suatu bentuk yang telah disiapkan oleh Allah I. Karena itulah Allah I berfirman, “Wa nafakha fiihi min ruuhihi” [QS. As-Sajdah 32:9] “Aku tiupkan dalam Adam u, dari Roh-Ku, Cahaya-Ku, atau dari Roh, dari manifestasi-manifestasi Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah” yang telah dimanifestasikan pada Sayyidina Muhammad e dan muncul keluar sebagai suatu Sumber Energi yang bertiup ke Adam u, dengan cara itulah Adam u bergerak dan roh itu keluar. Karena Adam u dibentuk pada suatu tempat tertentu, dan para Malaikat datang, melihat dan pergi, lalu datang, melihat dan pergi, sambil bertanya-tanya, “Apa itu?” “Apa itu?” Tak nampak suatu gerakan apa pun [dari bentuk fisik Adam u, red.]. Begitu cahaya tersebut masuk ke dalamnya, ia pun bergerak. Artinya, ia bergerak dengan cahaya Muhammad e, An-Nuuru Muhammad e. Sumber dari ciptaan yang Allah I menciptakan alam semesta ini darinya, dari An-Nuuru l-Muhammadi e.



Jadi, apakah rahasia di balik Nuuri Muhammadi e yang membuat Adam u bergerak?



Setiap malam kalian mencatu energi telepon selular kalian [Mawlana memegang sebuah telepon selular di tangannya]. Setiap malam kalian mencatu energi komputer kalian. Jika catu dayanya habis, kalian pun mencatunya dengan apa? Dengan energi di malam itu. Jika itu habis, maka peralatan kalian pun berhenti. Saat Adam u dicatu energi dengan Nur Muhammadi tersebut, seluruh sperma-sperma manusia berada di punggungnya, berenang di punggungnya. Dan manusia, saat ini, berapa banyak sperma [tersenyum, hadirin tertawa], berapa banyak sperma yang dikeluarkan seorang laki-laki setiap kalinya? [hadirin dan Mawlana tertawa].



Setiap kalinya ada 500 juta sperma. Dan salah satu dari 500 juta sperma ini, salah satunya akan terhubungkan dengan suatu sel telur. Subhanallah! Lihat, undian, bahkan dalam rahim sang ibu pun ada suatu undian. Artinya undian diperbolehkan dalam Islam [dengan nada bergurau… hadirin pun tertawa]. Apakah kalian bermain lotre? Kita semua bermain lotre.



Saya mendengar dari Grandsyekh, semoga Allah I merahmati rohnya, Mawlana Syekh ‘Abdullah ad-Daghestani ق, dan dihadiri pula oleh Mawlana Syekh Muhammad Nazhim ‘Adil Al-Haqqani ق, Sulthanul Awliya’; pada saat itu, Mawlana Syekh Nazhim ق menerjemahkan dari Bahasa Turki ke Bahasa Arab, beliau berkata, bahwa Allah I kepada Awliya’ Allah, yaitu bagi Awliya’ Allah, hal ini tidak ada di buku mana pun. Apa yang kita bicarakan di sini, tak akan kalian temui di buku-buku mana pun. Beliau berkata bahwa Allah I ingin menunjukkan kebesaran Sayyidina Muhammad e di hari Kiamat nanti dan betapa besar umat beliau. Ia berkata bahwa Awliya’ Allah baru saja [di masa Grandsyekh saat itu] menerima ilham pada Awliya’Allah dari kalbu Sayyidina Muhammad e bahwa Allah I untuk menunjukkan betapa besar umat Nabi e, dari setiap sperma yang kalian keluarkan setiap kali kalian melakukannya, jika seorang anak muncul, atau pun tak ada anak yang muncul, tergantung dari berapa banyak sperma yang keluar, Allah I akan menciptakan manusia dalam jumlah yang sama yang akan menjadi anak-anak kalian. Allah I untuk menunjukkan keagungan Sayyidina Muhammad e, kata Grandsyekh (semoga Allah I melimpahkan barakah pada rohnya), bahwa setiap kali kalian melakukannya, apakah kalian memiliki anak atau tidak, seberapa banyak sperma yang keluar dari diri kalian, 500 juta, Allah I pun akan menciptakan 500 juta manusia yang mereka akan menjadi anak-anak kalian yang akan mengerubuti diri kalian sambil berkata, “Ayahku, Ayahku” di Hari Kiamat nanti, di hadapan Nabi e, dan mereka akan menjadi bagian dari umat Nabi e. Karena itulah umat ini di Hari Pembalasan nanti akan menjadi umat terbesar, yang meliputi setiap tempat.



Marilah kita kembali ke kisah Adam u. Kita mencatu energi ke alat ini setiap malam, ke telepon selular ini, atau ke komputer, atau apa pun jua. Kita mencatu energinya. Jadi, Allah I pun memerintahkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah-Nya untuk termanifestasikan, dan menciptakan Muhammad e sebagai Manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah tersebut. Beliau adalah manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah itu. Saat Allah I ingin untuk memandang pada Manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Mulia-Nya, Ia pun akan memandang pada Muhammad e. Dan manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah yang dibusanakan pada Nabi ini, kini menjadi milik Muhammad e. Allah I menghiasi diri beliau dengan Nama-Nama Indah dan apa pun yang Allah I inginkan untuk membusanai dan menghiasai diri beliau. Kini, Muhammad e pun memanifestasikan hal tersebut pada Adam u melalui Cahaya itu, yang bergerak ke dalam [tubuh] Adam u dan mulai membuatnya bergerak.... Tetapi, sesuatu hal yang sesungguhnya amat penting, adalah bahwa Cahaya tersebut turut pula mencatu daya ke sperma-sperma manusia, dari seluruh ras manusia yang saat itu tengah berada di punggung Sayyidina Adam u, mereka pun dicatu (oleh Cahaya itu) seperti charger ini. Setiap sperma dicatu energinya oleh Cahaya tersebut. Dan begitu sperma tersebut dicatu energinya oleh Cahaya tersebut, sperma (atau bakal manusia tersebut, red.) memiliki umur kehidupan sesuai dengan energi yang dicatukan padanya lewat Cahaya itu. Karena itulah, kalian melihat pada orang-orang, untuk suatu sperma yang mungkin cuma dicatu selama satu jam, maka darinya muncul seseorang yag setelah kelahirannya hanya hidup selama satu jam, lalu mati; orang yang lain mungkin mati setelah 10 tahun, yang lain setelah 20 tahun, dan yang lain setelah 50 tahun, sementara yang lain setelah 100 tahun… Bergantung pada seberapa banyak [energi] telah dicatukan pada sperma-sperma ini dari Cahaya tersebut.



Jadi, Cahaya tersebut, Energi tersebut, saat ia berakhir, energi pencatunya berakhir, seperti saat baterai habis, maka ia pun mati, dan kadang-kadang, kita tak dapat mencatunya lagi. Maka, apa yang akan kalian lakukan? Melemparnya, habis! Mereka berkata pada kalian, “Kau perlu baterai baru”. Artinya, saat seseorang mati, karena energinya, baterainya telah habis, maka ia pun wafat, dan ia perlu kini, baterai baru lainnya di alam kuburnya. Mekanisme pencatuan energinya pun berbeda untuk hal ini.



Jadi, karena itulah, kekuatan atau energi itu, saat diberikan, tidaklah menjadi miliknya. Energi itu tetaplah milik dari Sang Sumber Utama. Kalian tak dapat mengambil aliran listrik begitu saja dari jalanan. Mereka berkata pada kalian, “Tidak, tidak, bukan kalian yang punya itu, kami akan memberikannya pada kalian, dan kami akan menaruh suatu meteran bagi kalian, untuk memberikan pada kalian sebanyak yang kalian butuhkan”. Dan sumber utama energi tersebut, atau sumber dari cahaya itu adalah pada ia yang memiliki kekuatan/daya. Dan siapakah yang memberikannya pada Adam u? Allah I, dari Allah I pada Sayyidina Muhammad e, dan dari Sayyidina Muhammad e kepada Sayyidina Adam u Karena itulah “Wa laqad karramna Bani Aadam…”[QS Al-Isra’ 17:70] Diri kita, manusia dimuliakan oleh Allah I, karena kita tercipta dari tiga cahaya: cahaya Sayyidina Adam u, cahaya Sayyidina Muhammad e, dan Cahaya dari Allah I. Cahaya ini pun mesti kembali, “Inna lillahi wa inna ilayhi raji’uun” [QS. Al-Baqarah 2:156] “Sesungguhnya kita berasal dari Allah I, dan kepada Allah I-lah kita akan kembali”. Cahaya itu harus kembali ke Sumbernya. Dan karena itu pula Nabi e bersabda, “Tu’radhu ‘alayya a’malu ummatii” “Aku mengamati ‘amal umat-ku, jika aku mendapati kebaikan padanya, aku pun berdoa dan memuji Allah I, dan jika aku melihat keburukan padanya, aku beristighfar mewakili mereka.” Artinya apa pun yang kalian lakukan, beliau adalah seseorang yang bertanggung jawab atasnya, yang akan ditanya tentangnya. Beliau haruslah memelihara cahaya itu dan mengembalikannya dalam keadaan suci bersih dan murni seperti keadaan awalnya, saat Allah I mengirimkannya ke Muhammad e, dan Muhammad e ke Adam u. Karena itu Nabi e bersabda dalam hadis tersebut, “Tu’radhu ‘alayya a’malu ummatii, fa in wajadtu khayran hamadtullah, wa in wajadtu ghayru dzalik fastaghfartullah”. Dan Sayyidina Muhammad e bersabda, “Aku mengamati amal umat-ku dalam kuburku.” Artinya, beliau selalu mendampingi umat. Dan umat beliau tidaklah hanya umat [akhir zaman] ini, melainkan keseluruhan hingga ke masa Adam u.



Karena itulah, pada Adam u, Allah I memberikan padanya nama Adam u yang terdiri atas tiga huruf: Alif, Dal, dan Mim. Jika kalian melihat pada huruf pertama Allah I, apa itu? Alif. Jika kalian melihat pada huruf pertama Muhammad, apa itu? Miim. Dan di tengahnya adalah huruf Dal. Artinya, Allah I, huruf pertama pada “Adam” adalah dari huruf pertama Sang Pencipta yaitu Alif, huruf terakhir adalah Miim, dan huruf di tengah adalah Daal, jadilah “ADAM”. Daal adalah Dunya, yaitu seluruh ciptaan. Jadi dari Allah I menciptakan suatu ciptaan, memberikannya pada Muhammad e, dan itulah Adam. Sesuatu yang diwakili oleh Adam u.



Sayyidina Muhammad e adalah ia yang akan ditanya di hadapan Sang Pencipta, mewakili seluruh umat. Kita, keseluruhan diri kita, adalah pengikut dari Syekh kita, dan Syekh kita akan ditanya di hadapan Sayyidina Muhammad e, tentang keseluruhan diri kita. Setiap malam, beliau ditanya, Mawlana Syekh Nazhim ق, semoga Allah I melimpahkan barakah-Nya pada beliau. Dan karena itu pula, Salat Najat dilakukan, karena di saat Sajdah setelah Salat Najat tersebut, beliau mempersembahkan setiap orang, semua selama 5 menit. Dan beliau harus mempersembahkan mereka dalam keadaan bersih suci, tanpa ada noda apa pun pada diri mereka. Dan beliau harus memikul beban mereka pada diri beliau sendiri. Itulah Awliya’ Allah. Dan, kita tak akan berbicara lebih lanjut tentang hal ini. Saya pikir sudah cukup apa yang kita perbincangkan. Kita akan berbicara tentang Sayyidina Uways Al-Qarani y esok. Dan, saya akan menjelaskan tentang pentingnya disiplin. Disiplin dalam segala sesuatunya, disiplin di antara satu sama lain, disiplin di antara murid. Sebagaimana alam semesta ini memiliki disiplin lewat Geometri, keseluruhan sistem ini memiliki suatu disiplin. Kalian tak dapat menghancurkan disiplin. [Tanpa disiplin,] segala sesuatunya akan hancur berantakan. Begitu banyak orang mengambil geometri... dan berusaha untuk... Mereka melihatnya sebagai suatu jalan dispilin, karena pada geometri ada garis lurus, ada lingkaran, atau dimensi-dimensi yang berbeda-beda, berbagai cara untuk menggambar garis, ...dan orang-orang berusaha mendefinisikan spiritualitas darinya. Saya akan mengulas tentang hal ini, insya Allah. Ada disiplin linear, ada disiplin sirkular. Dan insya Allah, kita akan memberikan bukti-bukti ilmiah akan apa yang telah mereka temukan di zaman ini, suatu teori yang kini banyak dipakai oleh para Sufi.



Dan kita punya seorang fisikawan PhD di sini [Syekh Abdullah Grenoble]. Kita akan bertanya padanya, Abdullah, beberapa pertanyaan. Insya Allah, besok, di sini…



Asyhadu An Laa ilaaha illaLlaah wa asyhadu Anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluh...

[Khatm Khawajagan]





Wa min Allah at tawfiq