Kekuasaan Jawa dalam dongeng “Aji Saka”
I. Kisah Aji Saka
Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan. Kerajan Medang Kamulan ini yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.
Sementara itu di sebuah dusun kecil yang bernama dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.
Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.
Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu. Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya. Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar.
Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya. Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.
Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.
II. Dongeng sebagai media enkulturasi
Dongeng merupakan tradisi lisan yanga dimiliki hampir ditiap kebudayaan. Dalam sebuah dongeng biasanya terdapat tokoh-tokoh utama yang mengambarkan kebaikan serta ada tokoh tandingannya yang mengambarkan keburukan. Dalam dongeng biasanya akhir dari ceritanya selalu positif atau berakhir baik.
Dongeng-dongeng biasanya diceritakan para orang tua atau sesepuh terhadap anak-anak kecil, dimana hal ini merupakan kegiatan menanamkan atau membagi informasi serta nilai ( enkulturasi ) yang terkandung dalam tiap kebudayaan.
Dongeng merupakan bagian penting dalam masyarakat jawa, dalam kebudayaan jawa sendiri banyak terdapat macam-macam dongeng yang mengandung bermacam-macam pesan moral bagi manusia. Dongen sendiri menjadi sarana mendidik anak yang mudah lewat cerita-cerita fiksi yang biasanya disuki anak-anak.
Ajisaka merupakan salah satu dongeng yang dimiliki oleh masyarakat jawa. Lewat dongeng ini para orang tua mulai menanamkan arti baik dan buruk, benar-salah kepada anak mereka. secara tidak sadar alur cerita ini menanamkan pemahaman tentang pemimpin yang baik pada suatu saat pasti akan muncul dengan sendirinya atau dalam masyarakat jawa disebut Ratu Adil.
Hampir di tiap kebudayaan atau bahkan agama-agama besar memiliki konsep ratu adil ini, yang akrab disebut sebagai Messiah atau Sang juru selamat. Pesan dan gagasan seperti ini memang telah di tanamkan oleh pelbagai kebudayaan baik dimasa sekarang maupun masa yang lampau.
III. Konsep kekuasaan dalam dongeng
Kekuasaan yang dilambangkan dalam seorang Raja dalam kebudayaan Jawa pada dongeng ini menggambarkan bahwa konsep kekuasaan itu terpusat pada satu wujud yang tunggal seperti Raja. Kekuasaan sendiri di dalam konsepsi jawa bukan berarti energi murni/ kesaktian atau semesta itu sendiri atau tuhan itu sendiri yang bersifat netral.
Kekuasaan yang telah mewujud dalam diri manusia bisa berubah sesuai dengan kecenderungan manusia itu sendiri. sebagai contoh adalah kekuasaan dari Prabu Dewata Cengkar dalam dongeng Aji Saka sendiri mengambarkan sebuah kekuasaan yang cenderung negatif, dimana lewat kekuasan tersebut Prabu Dewata Cengkar selalu meminta persembahan manusia untuk ia makan.
Namun konsep kekuasaan tunggal yang mewujud dalam diri raja ini tetap diyakini oleh masyarakat jawa dimana nantinya akan melahirkan konsep Ratu adil. Mereka percaya hal tersebut karena dalam anggapan mereka, energi murni/ semesta/ tuhan itu sendiri adalah sesuatu yang seimbang dan konstan.
Maka walaupun raja pada suatu masa itu berbuat lalim, mereka percaya bahwa lewat kelaliman raja tersebut, secara tidak langsung sang raja tersebut sedang melemahkan kekuatannya sendiri sehingga kekuatan tersebut akan bergeser pada sosok baru yang biasa dianggap sebagai Ratu Adil mereka. Hal tersebut tergambar dalam dongeng AjiSaka dimana rakyat di medang kamulan bersifat pasrah ketika Prabu Dewata Cengkar berbuat lalim, mereka hanya menunggu datangnya sosok Ratu adil mereka yang tak lain adalah AjiSaka.
Kekuasaan dan Raja/ pemimpin dalam kebudayaan jawa dianggap satu atau manunggal, keduanya tak terpisahkan. Sosok raja dilihat sebagai sesuatu yang beku-niscaya, maka orang jawa tidak begitu mementingkan sosok pribadi yang menjadi Raja itu melainkan konsepsi Raja itu yang senantiasa tertera dalam benak mereka sebagai sosok niscaya lagi bijaksana seperti seorang wakil dari Tuhan. Hal ini mengakibatkan disaat Raja mereka lalim mereka percaya bahwa sosok Raja baru yang bijaksana akan muncul menggantikan Raja yang lalim dan menyelamatkan mereka.
Dalam dongen, para rakyat medang kamulan hanya diam, ketika raja mereka lalim dan menindas mereka. mereka percaya Raja yang niscaya lagi Bijaksana akan muncul dan memimpin mereka serta membawa mereka kedalam masa keemasan. Disana sosok Raja yang niscaya lagi bijaksana itu digambarkan sebagai sosok AjiSaka.
Pemahaman masyarakat jawa mengenai masa kejayaan atau masa keemasan secara tidak langsung mereka memahami bahwa dalam hidup ini selalu terjadi proses perubahan dari yang buruk menjadi baik serta juga bisa kebalikannya. Masyarakat jawa dalam hal ini menganggap bahwa semesta adalah sesuatu yang tidak bisa diduga-duga karena segalanya dapat terjadi.
Satu hal yang pasti adalah bahwa mereka percaya konsep keseimbangan, jadi meskipun pada saat ini buruk, mereka percaya pada suatu saat mereka pasti akan mengalami masa yang baik. Pemahaman seperti ini bisa membuat seseorang jawa optimis atau bahkan menjadi seorang yang pasrah.
Melalui cerita AjiSaka, kita dapat mengetahui bahwa cerita ini adalah sebuah sudut pandang dari seorang rakyat biasa yang menantikan pemimpin yang bijaksana. Dalam analisis Anderson pada buku language and powernya dia juga terkesan menyuguhkan konsepsi kekuasaan dari sudut pandang rakyatnya. Sebagai sebuah konsepsi yang utuh, konsep kekuasaan dari Anderson sendiri merupakan konsep kekuasaan yang cacat, karena tidak menyuguhkan konsep kekuasaan dari pelaku penguasa atau sosok yang mendapatkan kuasa itu.
Barangkali konsepsi kekuasaan dari sang Raja sejati yang bijak adalah kekuasaan sebagai sarana untuk membuat semesta ini seimbang dengan membawa kedamaian serta kesejahteraan dimuka bumi ini. Konsepsi seperti ini juga dikenal di dalam budaya kejawen sebagai istilah Memayu Hayuning Buwana untuk membuat Tata Titi Tentrem Karta raharja di semesta ini. Konsepsi demikian dapat terlihat dalam aktualisasi diri sang AjiSaka yang membawa desa medang kamulan ke masa keemasannya dengan kedamaian dan kesejahteraan.
Daftar Pustaka
Language and Power; Benedict Anderson
Wikipedia.org

Tidak ada komentar:
Posting Komentar