Alam takambang jadi guru
Alam takambang jadi guru; semesta dan seisinya yang terhampar ini jadi guru bagaimana kita harus berlaku.
penulis menggunakan ungkapan minang tersebut untuk menggambarkan inti dari bagaimana seluruh ungkapan minang lahir. Ungkapan, dalam berbagai kebudayaan dalam hal ini khususnya kebudayaan minang selalu menggunakan metafora untuk menjelaskan suatu maksud; baik itu nasihat, peringatan, pujian, singgungan atau berbagai macam hal lain. Penggunaan metafora ini apakah menjadi sebuah keseharusan? Apa yang melatarbelakangi penggunaan metafora dalam kehidupan baik keseharian (behavioral) maupun dalam konteks-konteks ritual tertentu; baik yang profan atau yang sakral .
Penjelasan dari pertanyaan sebelumnya adalah dengan menjabarkan lagi ungkapan minang diatas, “Alam takambang jadi guru”. Alam semesta, dengan seisinya menjadi metode refleksi bagaimana manusia berfikir dan bertindak. pemulis menekankan sebuah refleksi karena “alam” digunakan sebagai subjek yang hidup, yang coba manusia pahami dan pelajari; tetap sebagai “subjek”. Dalam hal ini alam menjadi “Big Other ” bagi manusia, dan disitu manusia melakukan dialog dengan alam hingga kemudian ditarik pada konsep kosmologi “Macrokosmos” dan “Mikrokosmos”
Melalui ungkapan “alam takambang jadi guru” pula kebudayaan Minang menggambarkan konsep kosmologi mereka, Makrokosmos-Mikrokosmos. Makrokosmos mereka adalah Alam semesta raya dan Mikrokosmos mereka adalah diri mereka sendiri (manusia). Dalam konsep “self-othering ” pada teori identitas, kebudayaan minang menggambarkan siapa manusia/self (diri mereka) dengan membandingkan dengan Alam semesta sebagai Other. Hubungan antara self dan other ini bukan sebuah hubungan opposite melainkan sebuah relasi bagaimana self dan other itu terus menjalin kehidupan untuk mencapai sebuah maksud yang besar.
Jika kita melihat proses self-othering masyarakat minang dengan kerangka bahwa self adalah manusia dan other adalah alam semesta, maka kita akan melihat diri mereka (self) sebagai keseluruhan manusia; dan disitu logika kebudayaan masyarakat minang tentang persaudaraan akan terlihat, karena self yang diidentifikasikan sebagai manusia adalah manusia seluruhnya dan mereka tak akan membeda-bedakan manusia “A” atau manusia “B”; sebuah gambaran toleransi yang besar yang dimiliki masyarakat minang. Hal ini yang juga terlihat pada pantun “Ka pekan alah, ka solok alun; makan alah marokok alun” yang diartikan “makan sudah merokok belum”; digunakan untuk mengakrabkan diri dengan teman-teman yang ada, pengakraban diri sebegitu penting jika mereka mengenal konsep persaudaraan yang kuat.
Dalam kebudayaan minang, ada hal-hal yang begitu penting yang dapat kita lihat sebagai kunci bagaimana kita memahami kebudayaan minang. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah : “merantau”, “Surau”, “Silat”. Penulis akan mencoba membahas tentang merantau dan surau bagi adat minang dilihat dari ungkapan “alam takambang jadi guru” yang merupakan inti dari keseluruhan ungkapan minang.
Merantau adalah sebuah keharusan bagi adat minang. Mereka yang merantau adalah yang keluar dari daerah asal mereka. mereka pergi dari tanah kelahiran mereka untuk pergi ke suatu tempat entah dimana. Merantau dalam analisis penulis adalah sebuah konsekuensi dari pemahaman pepatah “alam takambang jadi guru”. Tanah kelahiran mereka, mereka identikkan dengan diri mereka sendiri (self) dan tanah/ tempat/ daerah diluar tanah kelahiran mereka diidentikkan dengan alam semesta yang luas ini (other); dan akibat dari pemahaman logika kultural ini, maka mereka harus belajar dari semesta yang luas terhampar ini untuk dijadikan guru; dengan kata lain mereka harus merantau untuk belajar dengan semesta diluar diri mereka sendiri (tanah kelahiran mereka).
Surau sebagai pusat pembinaan spiritual masyarakat minang, khususnya anak laki-laki yang nantinya akan merantau juga penulis lihat sebagai relasi dari ungkapan minang yang sedari tadi terus penulis singgung-singgung. Surau, pada akhirnya menjadi pusat refleksi kedalam (esoterik) bagaimana alam semesta didefinisikan dan dimaknai. Di Surau, tempat aktivitas keagamaan, bagaimana mereka mengenal kaidah-kaidah agama, yang diceritakan lewat kisah-kisah, yang dipelajari dari kitab suci agama mayoritas mereka (islam); adalah serupa makrokosmos atau juga semesta yang coba mereka pelajari, sebagai bekal mereka memahami semesta yang “entah” yang akan mereka hadapi saat merantau.
Dalam penutup tulisan penulis ini, penulis melihat bahwa ungkapan “alam takambang jadi guru” bukanlah sebuah “core-culture” dari kebudayaan minang melainkan sarana untuk menuju kesana. Karena pemahaman alam yang berkembang dijadikan guru masih belum lengkap, dan timbul pertanyaan “untuk apa alam semesta ini dijadikan guru?” penulis mengakhiri pertanyaan ini dengan pertanyaan. Dan penulis menemukan jawaban disebuah buku berjudul “Tambo Adat Minangkabau” karya Buchari Alma : bahwa culture core kebudayaan minang adalah budiluhur- akhlakul kharimah.
mengingat bahwa tanah minang adalah tempat yang mengalami perkembangan islam-sufisme yang teramat kental lewat arsiran kebudayaan persia yang dapat ditemukan lewat naskah-naskah sastra melayu mereka. Bukan tak mungkin bahwa kebudayaan minang begitu luhur dengan segala dinamikanya..
meskipun penulis seorang jawa, namun penulis begitu mengagumi kebudayaan minang yang sekarang sudah tak lagi di hidupkan dalam jiwa para pewarisnya..
semoga bermanfaat...
Salam, Tulisan dan informasi yang bagus.. :)
BalasHapus