terbunuhnya subjek (=manusia)
orang gila,
orang miskin,
orang bodoh,
orang kaya,
orang jahat,
orang malas,
orang pandai
orang bijak
orang buta
orang cantik
orang jelek
orang cina,
orang jawa,
orang indonesia,
orang payah,
pembunuh
perampok
penjilat
pengacau
pesuruh
penjahat
pemalas
pemarah
pemaaf
perusak
..................................................................,
begitu banyak kata keterangan yang dapat saya tambahkan atas subjek [manusia] selain kata-kata di atas, namun hal itu hanya merupakan gambaran bagaimana [sekarang] manusia itu sendiri melakukan bunuh diri subjek [manusia] atau membunuh subjek [manusia] lain lewat penambahan kata keterangan dibelakang subjek [manusia] itu sendiri.
begitu sering manusia [sekarang] melakukan penekanan terhadap kata keterangan dibelakang subjek [manusia] sebagai hal yang penting untuk membedakan dan mengenal subjek [manusia]; bukan menggunakan kesamaan subjek [manusia] itu sendiri sebagai metode pengenalan.
sebagai contoh, kita sering melekatkan imbuhan dibelakang kata subjek : aji, orang malas. dwi orang pintar. prasetyo orang kaya
kita mengenali orang dengan kata keterangan dilekatkan pada orang lain untuk sekedar membedakan; hal ini memang menjadi lumrah guna melakukan sebuah identifikasi, namun yang disayangkan adalah manusia terlebih menekankan keterangan tersebut sebagai hal yang begitu penting untuk mengenali subjek [manusia] bukan si-subjek itu sendiri.
saat kita mengenali orang hanya dengan kata keterangan dibelakang subjek [manusia] nya, saat itu juga kita telah membunuh subjek [manusia] itu sendiri. mengapa demikian? karena seakan-akan subjek [manusia] itu, dengan kata keterangan dibelakang subjeknya, sudah merupakan hal final! padahal manusia itu selalu berproses untuk menjadi...
manusia dipahami sebagai sesuatu yang final; tak lagi sebuah proses. ini soal human "being" dan "becoming"; saya berkeyakinan bahwa semua orang itu sedang "becoming-human" bukan "being-human"..
ini sebuah kesalahan fatal disaat kita telah melakukan pembunuhan subjek [manusia]! kita tidak lagi melihat manusia sebagai manusia, tetapi sebagai batu yang tidak mempunyai akal maupun hati yang tidak mempunyai "will" untuk berubah menjadi manusia seutuhnya..
seorang pembunuh, apakah tiap detik ia membunuh?
seorang pelacur, apakah seluruh hidupnya dihabiskan untuk melacur????
seorang pencuri, apakah ia mencuri tiap saat sepanjang hidupnya??
sungguh kita sudah menyelami pemikiran yang salah apabila kita terus melakukan pembunuhan subjek seperti demikian.
benar adanya kalimat yang terus didengungkan buddha : kosong itu isi, isi itu kosong!
jika kita mau menyingkirkan ego kita untuk dapat menyelami kalimat tersebut, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa semua apa yang telah kita lekatkan pada suatu subjek apapun itu, itu merupakan suatu ILUSI; karena kita tidak menyakini bahwa esok itu tiada, harapan itu tiada, dan cinta-kasih sang Agung itu tiada....
mungkin kita harus meratap tiap saat untuk meretas fajar, seperti apa yang telah dilakukan malam..
sebuah perenungan kecil untuk kita semua, untuk tak melihat segala sesuatu itu sebuah final, sebuah akhir!
meskipun kita tak membunuh subjek [manusia] menggunakan tangan-tangan kita, namun kita telah jauh lebih dulu membunuh subjek [manusia] tersebut dalam alam fikr kita..
semoga malam menemukan jalan kepada pagi..
semoga kita dapat meretas jalan atas hakikat segala sesuatu..
semoga Cinta menaungi kita semua..
dan seorang pencinta tak pernah memilih, karena segala hal adalah sama..
Cinta adalah soal totalitas, soal kepasrahan yang utuh!
maka tenggelamkan dirimu dalam Cinta, dan jangan pernah berkata apapun kecuali Cinta yang mengatakannya..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar